tentang hidup, tentang kota

Meraih Asa Memiliki Rumah Tinggal Melalui Pengembang

“Menemukan rumah tinggal seperti menemukan jodoh,” kata Drew (Parker Posey) dalam film ‘The Architect’. Dan perjalanan menemukan rumah tinggal serta memeluknya akan terus terjadi dalam hidup siapa pun. Ia tidak punya kata selesai.

Tulisan saya tentang rumah tinggal: http://www.konteks.org/meraih-asa-memiliki-rumah-tinggal-melalui-pengembangg

 

Advertisements
Standard
tentang hidup

Jika

Aku tidak tahu dari mana asal rasa itu. Cinta dan terkadang benci menjadi satu. Namun, aku selalu kembali kepadamu untuk bercerita tentang waktu. Bahwa pada setiap masa, kota ini akan butuh engkau sebagai pencipta dan pelaku. Butuh rasa yang dalam buat menjadi pemeluk bumi yang rendah hati dan aku ingin selalu memberi semangat kepadamu.

Jika waktuku masih di situ…

 

(Hari Rabu Abu dan Hari Kasih Sayang)

Standard
tentang hidup

Ganjuran

untai doa menari di udara yang sejuk pada ruang terbuka itu. aku hanya bisa terdiam setelah menjejakkan langkah menuju pelataran dengan candi dan patung Hati Kudus kecil yang ditanam di dalamnya. wajah-wajah tertunduk membaca lembar doa atau mendaraskan Salam Maria dengan menggunakan rosario. mereka berserah kepada-Nya bahwa semua permohonan bisa terkabul, jika itu memang kehendak-Nya.

aku telah menuliskan beberapa permohonan di secarik kertas yang kemudian dibacakan setiap jumat pertama di awal bulan. berharap bahwa aku boleh menerima mukjizat seperti mereka yang telah hadir di sini untuk mengirimkan doa kepada-Nya.

20170821_113007

terima kasih kepada Hati Kudus Yesus, bahwa doa-doa itu menjadi nyata. bahwa harapan yang kuat akan menerbitkan upaya keras untuk terus berusaha di dalam kehidupan. dan jika doa-doa lain belum terjawab, aku percaya bahwa Kau akan memberikan jalan-jalan lain menuju bahagia seturut kehendak-Mu.

Standard
tentang hidup

Jam Dinding

Malam itu, enam tahun lalu, suami dan saya mencari jam dinding untuk di rumah. Kemudian, kami mencarinya di toko tepi jalan dekat rumah. Saya sebetulnya ingin beli jam dinding ‘lucu’ keluaran merk tertentu, tapi, kok mahal, ya? Alhasil, saya berencana untuk mencari yang bentuk sederhana saja.

“Cari jam seperti apa?” Tanya penjual. “Hmm, lihat-lihat dulu, Pak,” jawab saya sambil hati-hati melihat berbagai bentuk jam karena toko yang sempit. Di ruang sekitar 10 meter persegi itu berisi jam berbagai bentuk. Ada yang dipasang di dinding. Ada pula yang berdiri. Saya lihat meja kecil untuk memperbaiki jam. Tampak berantakan.

“Mau jam romawi atau angka?” Saya tidak menjawab pertanyaannya karena tidak ada ide. Bagi saya keduanya sama saja.

“Kalau buat anak belajar, bisa pilih angka,” sarannya. Saya yang saat itu sedang hamil muda tersadar bahwa perkataan Bapak ini ada benarnya. Jauh berbeda seperti pemikiran saya soal bentuk ‘lucu’ jam dinding 😆.

Akhirnya saya memilih sebuah jam di dinding bentuk bulat hitam dan angka putih dengan harga 80 ribu rupiah.

Seiring berjalannya waktu, kami memiliki seorang anak dan ternyata kebutuhan jam dinding penting dalam pertumbuhannya. Misal untuk mengetahui waktu tidur, nonton film kesayangan, mandi, dan sekolah. Lalu, anak saya mulai berlatih menulis angka dan salah satunya menggambar jam.

20180113_214225-01

Maafkan jika gambar angka jam masih tidak teratur 😅. Namun, jam dinding tersebut sudah menjadi alat belajar untuk anak saya.  Ini namanya membeli barang dengan manfaat tinggi. Terima kasih, Bapak penjual jam dinding!

Standard
tentang kota

Kereta Api sebagai Penunjang Hidup Masyarakat Indonesia

Separuh kegiatan saya selama ini didukung oleh moda transportasi berbasis rel, mengingat semakin lamanya waktu yang harus ditempuh akibat kemacetan di jalan raya. Saya menggunakan moda transportasi ini tidak hanya untuk urusan pekerjaan di Jakarta, dengan CommuterLine, namun juga ke luar kota dengan kereta yang disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Misalnya saat saya ingin berkunjung ke rumah sanak saudara di Sukabumi. Jika menggunakan bus dari kota domisili saya di Depok, waktu yang ditempuh bisa mencapai lima jam. Sedangkan bila saya naik Kereta Api Pangrango dari Stasiun Bogor Paledang cukup memakan waktu dua jam; ditambah sekitar 45 menit jika saya dari Stasiun Depok Baru menuju Stasiun Bogor. Selain soal waktu tempuh, harga tiket Kereta Api Pangrango juga bersaing dengan tiket bus Depok-Sukabumi.  Pangrango memiliki kelas eksekutif dengan harga Rp 50.000 dan kelas ekonomi dengan harga Rp. 20.000. Jika naik bus tanpa pendingin udara dikenakan biaya Rp 50.000.

Jika Anda turun di Stasiun Bogor, jarak menuju Stasiun Bogor Paledang sekitar 150 meter dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Namun, yang masih sedikit mengganjal sampai saat ini adalah akses dari Stasiun Bogor ke Stasiun Bogor Paledang yang masih sulit karena harus menaiki jembatan penyeberangan orang yang berada di sisi selatan. Pada Agustus 2017, jumlah penumpang yang dilayani Kereta Api Pangrango sebanyak 71.125 dari total jumlah tempat duduk yang disediakan sebanyak 76.788 (www.kumparan.com, 17/09). Angka ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi untuk menggunakan kereta api menuju Sukabumi.

Selain itu, Presiden Jokowi telah merencanakan membangun rel ganda pada jalur Bogor Paledang sampai Sukabumi sepanjang 57 kilometer. Pada 2019 diharapkan masyarakat dapat menikmati perjalanan dengan jumlah kereta mencapai 10 rangkaian. Bisa dibayangkan saat itu penumpang yang datang dari arah Jakarta menuju Stasiun Bogor Paledang akan mengalami peningkatan sehingga kemudahan mencapai stasiun menjadi hal yang sangat penting.

Sebagai contoh, saya memiliki anak kecil dan bila bepergian cukup merasa kelelahan saat harus berjalan menaiki jembatan penyeberangan orang setinggi kurang lebih 10 meter. Belum lagi mereka yang membawa barang menuju ke Stasiun Bogor Paledang dari Stasiun Bogor. Kesulitan yang dialami penumpang akan bertambah saat hujan mengingat predikat Bogor sebagai kota hujan.

PT KAI sendiri telah melakukan pembangunan jalur bawah tanah di dalam area stasiun. Hal ini menimbulkan harapan agar dibangun pula jalur bawah tanah khusus pejalan kaki yang menghubungkan Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang melalui Jalan Kapten Muslihat. Penyediaan jalur bawah tanah menuju Stasiun Bogor Paledang tentunya harus berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bogor sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar.

20170620_084335-01

Jalur bawah tanah di Stasiun Manggarai

Pengendara kendaraan pribadi yang ingin menuju Stasiun Bogor Paledang bisa memarkirkan kendaraan mereka di Stasiun Bogor kemudian berjalan kaki menuju Stasiun Bogor Paledang. Jalur bawah tanah lebih sesuai di lokasi tersebut karena di koridor Jalan Kapten Muslihat terdapat bangunan tua bersejarah Gereja Katedral dan Gunung Salak di sisi selatan. Dengan begitu, pergerakan manusia di bawah tanah tidak akan menganggu visual kota tersebut. Tangga di jalur bawah tanah sebaiknya dilengkapi dengan eskalator bagi para lansia, ibu hamil, dan ibu dengan anak. Ramp dan jalur tuna netra juga disediakan bagi para difabel. Selain itu, tempat makan khas Bogor dapat menarik minat penumpang untuk mengisi perut dan bersantai sejenak sambil menunggu kereta datang.

KAI di masa depan saya harap bisa menjadi moda transportasi pilihan sebagai penunjang hidup masyarakat. Ia bukan lagi hanya sebuah benda namun pelayanan yang membuat siapa pun dapat pergi dengan mudah. Tiket bisa dibeli di mana saja, hemat biaya, jadwal kereta tepat waktu, akses yang lancar untuk mencapai stasiun, penyediaan lahan parkir yang memadai, serta sebagai tempat pengembangan usaha kecil dan menengah warga lokal.

Apakah Anda juga berharap hal yang sama?

Standard
tentang kota

Ayo Berubah Bersama MRT Jakarta!

“Damar, kamu suka naik sepeda, motor, mobil, bus, pesawat, atau kereta?”

“Kereta!”

Damar, anak saya suka sekali dengan kereta sejak usia sekitar 2 tahun. Ketertarikannya dimulai saat menonton film kartun kereta di televisi. Kemudian berlanjut dengan melihat majalah kereta dan video hingga kini berusia 4 tahun. Ia kemudian mengenal jenis-jenis kereta lainnya, seperti monorail, light rapid transit (LRT), high speed rail, dan mass rapid transit (MRT). Jenis terakhir saya ceritakan perkembangan pembangunannya di Jakarta.

“Nanti kalau MRT sudah jadi, kita naik, ya!” ajak saya suatu kali. Ia mengangguk sambil tersenyum senang.

Saya kemudian teringat dengan kondisi jalan raya yang tersendat terutama menuju Kota Jakarta saat ini. Bertempat tinggal di Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi dan bekerja di Kota Jakarta sudah menjadi ‘hal biasa’ untuk melalui kemacetan. Suami saya kerap naik motor dari Depok menuju tempat bekerja di Jakarta Selatan dan bisa memakan waktu 2 jam. “Melelahkan!” keluhnya. Meski demikian, kendaraan motor masih menjadi pujaan hati warga.

Jika melihat data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2014, komuter Jabodetabek menggunakan sarana transportasi untuk pergi berupa sepeda motor sebanyak 58,19 persen; kendaraan umum berupa angkutan kota, kereta, TransJakarta/APTB sebanyak 27 persen; dan mobil sebanyak 12,76 persen. Bentuk motor yang ramping sehingga bisa menyalip deretan mobil yang tersendat dan harga terjangkau, menyebabkan warga terus menaikinya sebagai sarana transportasi.

Walau jumlahnya jauh dari pengendara sepeda motor, masih ada warga yang  memilih sarana transportasi umum Kereta Rel Listrik (KRL)-Commuterline Jabodetabek dan TransJakarta. Keduanya memiliki kesamaan yaitu punya jalur khusus. TransJakarta pun kini telah memiliki jalan layang sehingga perjalanan menjadi lebih lancar. Sedangkan Kereta Rel Listrik (KRL)-Commuterline Jabodetabek saat ini memiliki hingga 12 rangkaian dan waktu kedatangan lebih cepat. Adanya perbaikan pelayanan jasa kereta listrik, menurut situs www.krl-commuterline.co.id menyebabkan pengguna mencapai 1 juta per hari pada Mei 2017. Suami saya yang biasanya naik motor pun kini bersedia naik kereta. “Cepat sampai dan kalau dapat tempat duduk bisa tidur,” katanya.

Salah satu kunci penyediaan sarana transportasi di perkotaan adalah massal. Jon D. Fricker dan Robert K. Whitford (2004) dalam bukunya yang berjudul “Fundamentals of Transportation Engineering: A Multimodal Approach” menulis bahwa karakter sarana transportasi massal yaitu mampu mengangkut masyarakat umum, terutama difabel; serta rute dan jadwal harus tepat waktu. Mengingat waktu orang kota sedikit karena harus dibagi antara bekerja, istirahat, rekreasi dengan keluarga, maka kebutuhan sarana transportasi massal yang cepat dan hemat menjadi darurat.

Lagi-lagi saya teringat anak yang jatuh cinta pada kereta. Sebagai sarana transportasi yang mampu menampung penumpang dalam jumlah banyak, kendaraan berbasis rel ini juga memiliki harga tiket yang terjangkau. Saat ini Pemerintah Provinsi Jakarta tengah menyiapkan prasarana dan sarana MRT. Menurut data dari situs www.jakartamrt.co.id, pengerjaan proyek fase satu yang terdiri dari stasiun layang, telah mencapai 64 persen. Sedangkan stasiun bawah tanah telah mencapai 88 persen. PT. Mass Rapid Transit Jakarta mentargetkan pada Maret 2019, warga dapat menikmati perjalanan dengan MRT.

MRT nantinya memiliki rangkaian sebanyak 6 kereta dengan kapasitas 1.950 orang per kereta. Target penumpang sehari yaitu 173.400 orang. MRT akan menjadi sarana transportasi di dalam Kota Jakarta sehingga perjalanan menuju dan dari area perkantoran, perdagangan, bisnis, serta hiburan lebih mudah dicapai. Bagi warga di luar Jakarta tentu bisa mencapai stasiun-stasiun MRT melalui stasiun Kereta Rel Listrik (KRL)-Commuterline Jabodetabek, halte TransJakarta atau angkutan umum lainnya.

IMG-20170830-WA0003

Warga menggunakan sarana MRT Jakarta (Ilustrasi: Diptya Anggita)

Lalu bagaimana mengubah kebiasaan warga untuk menaiki transportasi massal? Menurut saya, orangtua menjadi role model untuk memperkenalkan transportasi massal. Apa yang bisa diharapkan dari anak jika orangtua lebih suka naik motor ke toko terdekat atau kendaraan pribadi untuk mencapai tempat bekerja?

Anak-anak kebanyakan suka mendengar cerita. Alangkah baik jika kita sering bercerita keuntungan menaiki transportasi massal, sehingga timbul kemauan mereka untuk mencoba naik MRT. Penjelasan berupa gambar dan video dapat menjadi alat bantu mereka selain membaca informasi. Peran guru dan dosen juga penting. Pelajaran mengenai transportasi massal dapat menambah wawasan mereka. Jika perlu, diadakan study tour ke stasiun dan menaiki MRT bersama pengajar, sehingga pelajar atau mahasiswa dapat menikmati pengalaman menaiki sarana transportasi massal.

IMG-20170830-WA0002

Naik MRT Jakarta bersama anak (Ilustrasi: Diptya Anggita)

Bekerja bersama ubah Jakarta bukan hanya pekerjaan pemerintah, namun kita sebagai warga. Selamat menanti MRT Jakarta!

Standard
tentang hidup

Hari Pertama

Saya mengintip ke dalam kelas itu dari balik jendela. Tampak ia dan anak-anak sebayanya melingkari ibu guru. Ibu guru menawari mereka beberapa mainan dan mereka tertarik. Ia melihat ke atas lemari berwarna cerah dan menunjuk ke salah satu jenis mainan. Saya tidak jelas melihat karena pantulan cahaya matahari dari kaca jendela. Ibu guru pun mengambilkan dan memberikan kepadanya. Ia tampak senang.

Tidak ada kegaduhan, tangis, rengekan di hari pertama sekolahnya. Ia seperti berada di rumah kedua. Saya mengintip lagi, ia dan teman-temannya semakin asyik memasuki dunia baru.

Kondisi berbeda terjadi di kelas sebelahnya. Beberapa anak menangis dan menjerit. Mungkin kaget atau takut karena ditinggal ibunya. “Biasa anak nangis baru masuk sekolah. Tiga hari sudah biasa, kok,” kata seorang ibu guru ketika saya mendaftarkannya beberapa bulan sebelumnya. Jadi, saya sudah siap jika ia akan menangis atau menjerit ketika saya tinggal.

Dan ketika ia tidak menunjukkan ketakutannya di hari pertama di kelompok bermain itu, saya bernafas lega. Pesan ibu guru itu untuk mengajaknya kembali ke sekolah secara berkala sebelum aktif, benar adanya. Mungkin ia sudah terbiasa sehingga telah kenal lingkungan sehingga merasa nyaman.

“Gimana, seneng Kak di sekolah?” Tanya saya usai satu jam terpisah. “Seneng.” “Tadi main apa?” “Lilin. Dibulet-buletin gitu, lho. Aku bisa.”

Semoga kesenangannya terus bertambah di situ.

Standard
tentang hidup, tentang kota

Refleksi Sabtu Pagi

Pembicaraan tentang nestapa di kota itu belum kunjung usai. Terkadang aku masih tersedu jika mengingatnya. Apakah Tuhan sedang tidur? Apakah malaikat pelindung mereka masih bermimpi?

Menyusuri jalanan di kota-kota kini tidak lagi damai. Merapal doa kerap menjadi kekuatan agar aku tidak kecil hati menghadapi realitas: pun semua orang mesti mati.

Pagi ini pembicaraan tentang nestapa terus berlanjut. Aku menyeduh teh untuk menenangkan jiwa. Merelakan kehilangan teman atau saudara yang entah kenapa tidak lagi seperti dulu. Saat ini aku rindu masa lampau yang selalu dihiasi tawa canda dan tangis kesusahan, tapi kita tetap bersama.

Sekarang aku berharap Tuhan berbaik hati sekali lagi untuk meletakkan kasih-Nya di negeri ini supaya nestapa tidak lagi menodai kami.

Dan tawa-tawa kami dahulu hadir kembali.

Standard
tentang hidup

Hujan

Apa yang salah denganku? Dengan tulus aku mengirimkan derai untuk memberikan nyawa, menggairahkan lelahmu yang kering.

Apa yang salah denganku? Dengan gembira aku berbagi kesegaran untukmu. Bukankah kau selalu menungguku saat musim tengah tahun nanti?

Aku terus mendengar keluhmu tentang derasnya hujan hari ini. Maaf, namun aku masih terlalu rindu pada kau. Rindu.

Standard
tentang hidup

Hal Pengampunan

Ada hal-hal tidak enak yang harus kita kunyah secara halus agar mereka dengan mudah tercerna dan segera terbuang ke bagian akhir perasaan.

Tentu rasanya tidak manis: pahit, asam, asin yang terkadang kadarnya berlebihan hingga kita mau muntah amarah atau kutuk. Tapi, apakah mengubah rasa itu menjadi manis? Belum tentu!

Maka, tetaplah mengunyah rasa-rasa yang kita benci sambil terus merapal doa dan meresapi makna setiap rasa tidak enak ke dalam jiwa.

Berapa kali kita harus mengunyah rasa tidak enak sampai halus? Tiga puluh dua kali? Bukan, tujuh puluh kali tujuh kali.

Setelah semua rasa halus, telanlah perlahan dan biarkan mereka menuju ke bagian akhir perasaan: mengampuni.

 

Standard
tentang hidup

Distorsi

Ada hal-hal yang tidak sejalan dengan pemahamanmu, tapi apa penting dipikirkan? Apalagi segala analisis dan sintesismu tidak akan pernah dipakai untuk memperbaiki keadaan. Buat apa?

Banyak tanya tentang sekitar yang seakan semakin buruk. Atau memang dirimu sendiri yang memburuk? Ya, jika memakai teori Paulo Coelho atau Mestakung. Tapi, boleh, kan, melihat segala sesuatu dari sudut pandang terbalik? Kamu sebagai korban. Kamu sebagai kambing hitam. Kamu sebagai obyek penderita. Sakit?

Jika terasa sakit, ubah saja kembali sudut pandangmu. Bahwa semua memang ada waktunya, semua kenyataan tak mungkin sejalan dengan harapan atau keinginan. Kata Buddha, jangan terlalu tinggi berharap sesuatu karena di situ akan muncul stres; “accept everything.” Sedang Yesus berpesan: “Janganlah kuatir akan hidupmu…”

 

 

Standard