Hari Pertama

Saya mengintip ke dalam kelas itu dari balik jendela. Tampak ia dan anak-anak sebayanya melingkari ibu guru. Ibu guru menawari mereka beberapa mainan dan mereka tertarik. Ia melihat ke atas lemari berwarna cerah dan menunjuk ke salah satu jenis mainan. Saya tidak jelas melihat karena pantulan cahaya matahari dari kaca jendela. Ibu guru pun mengambilkan dan memberikan kepadanya. Ia tampak senang.

Tidak ada kegaduhan, tangis, rengekan di hari pertama sekolahnya. Ia seperti berada di rumah kedua. Saya mengintip lagi, ia dan teman-temannya semakin asyik memasuki dunia baru.

Kondisi berbeda terjadi di kelas sebelahnya. Beberapa anak menangis dan menjerit. Mungkin kaget atau takut karena ditinggal ibunya. “Biasa anak nangis baru masuk sekolah. Tiga hari sudah biasa, kok,” kata seorang ibu guru ketika saya mendaftarkannya beberapa bulan sebelumnya. Jadi, saya sudah siap jika ia akan menangis atau menjerit ketika saya tinggal.

Dan ketika ia tidak menunjukkan ketakutannya di hari pertama di kelompok bermain itu, saya bernafas lega. Pesan ibu guru itu untuk mengajaknya kembali ke sekolah secara berkala sebelum aktif, benar adanya. Mungkin ia sudah terbiasa sehingga telah kenal lingkungan sehingga merasa nyaman.

“Gimana, seneng Kak di sekolah?” Tanya saya usai satu jam terpisah. “Seneng.” “Tadi main apa?” “Lilin. Dibulet-buletin gitu, lho. Aku bisa.”

Semoga kesenangannya terus bertambah di situ.

Lagu Damar

Salah satu lagu Damar yang diajarkan di sekolahnya.

Aku bahagia, bahagia

Karena Tuhan Yesus angkat nangisku

Yesus angkat nangisku dan buang ke laut

Byur!

Buang ke laut

Byur!

Buang ke laut.

Berulang dia menyanyi dan membuat saya terhibur bahwa tangis-tangis di sini dan di luar sana akan dihapus oleh-Nya.

Pelayan Masyarakat

Jika kau terus bertanya kenapa kota itu berantakan? Karena birokrasi di dalamnya juga berantakan. Tidak ada koordinasi. Membuat kebijakan tanpa kajian. Membuat peraturan hanya demi ego penguasa. Atau hanya untuk mencari keuntungan semata.

Begitulah. Dan mereka yang bekerja di bawah sesungguhnya juga berteriak, tapi sayang, tidak terdengar oleh atasan. Akhirnya, saya -orang di luar mereka-mendengar segalanya.

Setelahnya saya berdoa dalam hati, semoga mereka terus kuat menjalani pengabdiannya pada masyarakat.

 

 

Cemburu

Apa yang kau pikirkan tentang pernikahan berusia tiga puluh tujuh tahun? Kemakmuran? Keromantisan? Ketakjuban?

Ketika melihat perpisahan pasangan-pasangan di luar sana, saya merasa bahagia melihat mereka yang masih saling setia menjaga janji bersama sehidup semati. Tapi, saya geli juga ketika melihat bahwa pasangan yang sudah menikah puluhan tahun terjebak dalam rasa cemburu. Cemburu melihat pasangannya punya teman baru, cemburu punya ponsel baru, cemburu punya kegiatan baru di luar rumah.

Saya pernah juga mengalami perasaan cemburu. Dulu, waktu masih terlibat dalam hubungan tidak mengikat. Belum terikat saja sudah cemburu, apalagi terikat? Hehe. Sekarang baru bisa tertawa, karena memang bodoh memiliki rasa cemburu. Cemburu berasal dari kegelisahan diri terhadap pasangan dan mengira ia akan ‘kabur’ dari saya dan berpindah ke lain hati. Sebabnya, hanya karena saya tahu ia pernah memiliki perasaan indah dengan orang lain. Padahal, wajar saja bukan jika setiap orang punya masa lalu? Dan ketika ia sudah menjalin hubungan yang lebih baik bahkan memilih diri saya menjadi pasangan seumur hidup, apa masih perlu rasa cemburu?

Pada setiap misa perkawinan di Gereja Katolik, hampir semua pasangan memakai Kitab 1 Korintus 13: 4-7. Begini petikannya:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Berat bukan memiliki kasih? Coba dibaca perlahan, ada satu kalimat bagus di situ: “(kasih) tidak cemburu.” Kalimat bagus yang susah sekali diwujudkan kalau kita tidak percaya pada kasih milik pasangan. Kalimat ini bertentangan dengan pandangan orang bahwa ‘Cemburu artinya cinta.’ “Bah, Mana ada cinta tapi cemburu?!” Mungkin begitu kira-kira kata Rasul Paulus jika mendengar celoteh tersebut. Saya jadi tertawa sendiri. Iya, mana ada cinta tapi cemburu?

Setelah membaca buku tentang bagaimana memahami orang lain dan diri sendiri, saya mencoba mengikis rasa cemburu. Saya perhatikan perilaku pasangan, jika ia terus berkorban untuk dirimu, buat apa takut kehilangan? Atau jika memang ingin tahu tentang seseorang, kenapa tidak tanya langsung? Apalagi kepada pasangan yang sudah hidup serumah selama puluhan tahun. Apakah semakin lama bersama, malahan menimbulkan rasa sungkan?

Saya harap kejadian-kejadian di sekitar saya hanya ketidaksadaran orang yang ‘lupa sesaat’ tentang janji. Cemburu menyebabkan mereka lupa juga memeriksa diri, “Apa yang salah dengan diri saya?” Jika kau percaya pada pasangan, tentu pertanyaan Seno Gumira Ajidarma ini mampu kau jawab:

“Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?”

(Pagi mendung)

Buat Sarjana yang Baru Lulus

Nak,

Selamat atas selesai masa sekolahmu. Perjalanan empat atau lima tahun di gedung bernama kampus, tentu tidak mudah. Di situ, tentu kau belajar banyak hal. Mulai dari menyelesaikan tugas tepat waktu, menunggu penilaian dari dosen dengan jantung berdebar, atau menahan emosi ketika kerjasama dengan teman kelompok.

Semua bahagia dan pahit sudah kau terima. Lalu sekarang apa? Dengan hasil jerih payah yang telah kau dapat, kau mau apa?

Kerja! Ya, tentu kerja. Ilmu atau keterampilan yang kau miliki harus jadi landasan untuk bekerja meraih cita. Sebentar, kerja buat mendapat apa? Uang!

Apa sekadar uang?

Saya paham, sekolah butuh uang dan orangtua yang berkewajiban mengeluarkannya –jadi, kau membuat kesalahan besar jika mengabaikan sekolahmu sampai ‘drop out’– Kini, saatnya kau ‘mengembalikan’ uang mereka. Walau kau sesungguhnya tidak pernah mampu melunasi ‘utang’-mu kepada orangtua.

Lalu, kau mau gaji berapa untuk memenuhi dompet atau rekeningmu? Ini yang saya tidak habis pikir. Beberapa sarjana baru lulus, sudah mematok gaji tinggi. Tinggi berkisar lima juta ke-atas. Entah karena mereka merasa lulusan terbaik atau dari kampus ternama.

Sebentar, pengalaman apa yang kau miliki? Apa kehebatanmu dibanding sarjana sebelah saya yang sudah lima tahun bekerja? Indeks presentasi kumulatif yang hampir empat? Belum tentu!

Bekerja tidak semata cari uang. Kau butuh pengalaman. Kau butuh mengalami berbagai situasi sehingga kau memang kuat bertahan di tengah ‘sikutan’ pekerja lain. Kau juga harus tahu strategi supaya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Kau juga harus bertahan dengan ‘cacian’ pemilik kerja. Tidak apa, itu untuk melatih mental dan otakmu supaya tidak lembek.

Setelah kau tahu bagaimana susahnya cari uang, kau akan semakin mapan. Kau semakin mahir dalam keterampilan dan bicara dengan pemilik kerja atau rekan kerja. Itu tidak mungkin dicapai dalam setahun! Jadi, sabar saja!

Nah, selama kau belum mampu dengan kondisi tersebut, ikuti saja air yang mengalir. Berapa pun perusahaan yang akan beri sebagai imbalan, coba saja terima. Dengan catatan, kau bekerja pada bidang yang kau cintai dan tidak ‘tekor’ untuk ongkos pergi-pulang dalam sebulan. Kepandaian menghitung ongkos ini sebetulnya bisa diperoleh saat sekolah. Mungkin kau pernah membantu sebuah pekerjaan. Tapi, sekali lagi, kau ‘hanya’ sarjana yang baru lulus. Terima dulu status itu.

Menerima status ‘baru lulus’ memang tidak mudah. Terlebih pada mereka yang merasa sudah mampu sekolah dan bekerja. Namun, percayalah, ketika kau rendah hati dan cakap dalam bekerja rezeki akan mencarimu. Perusahaan besar akan berlomba menarik perhatian dengan nilai gaji yang besar.

Kau hanya butuh waktu. Itu saja.

 

(Minggu sore ketika hujan deras)

 

Aku Cinta Kau yang Kemarin

Aku cinta kau yang kemarin:

Ketika tulisanmu tentang teori, bukan berisi caci atau maki kepada negeri; pun kepada politisi. 

Ketika tulisanmu tentang cara baik hidup di kota, bukan cuma kritik keras buat pemerintah kota yang lalai kepada warga.

Ketika tulisanmu menggerakkan hati untuk berdamai dengan kondisi, percaya bahwa realitas adalah teman terbaik di hari ini.

Ketika tulisanmu tentang mempercayai bahwa kehangatan hati akan melumerkan keangkuhan penguasa.

Ketika tulisanmu tentang bagaimana menjadi teman yang baik dari seorang musuh.

Aku terus membaca kalimat-kalimat hujatan tanpa henti setiap hari. Mungkin hingga bulan kedua tahun depan. Aku semakin mengerti bahwa di luar sana, banyak orang yang kau kira teman ternyata hanya kabut. Kau lihat fisiknya namun saat disentuh hilang. Di luar sana tidak ada teman abadi. Karena yang abadi cuma ilusi.

Aku terus memungut setiap sampah kata yang mengotori pandanganku. Kupilah. Yang buruk kubakar dalam kotak penghilang ingatan. Yang masih bisa didaur ulang, kusimpan dalam memori. Suatu waktu, mungkin aku bisa cerita ke anak-anak penerus bangsa, bahwa menulis haruslah mendamaikan. Bukan untuk menyakiti.

Dalam diam di sini aku hanya bisa menulis: aku cinta kau yang kemarin.

Doa Makan Damar

Suatu sore, tiba-tiba ia mengucapkan urutan kata-kata dengan irama pelan, tapi tidak datar. Enak mendengarnya. Itu doa makan yang diajarkan di sekolahnya:

Tuhan Yesus yang baik,

Terima kasih atas makanan dan minuman yang tersedia bagi kami

Berkatilah supaya menyehatkan badan dan jiwa kami

Amin

Amin.

Stasiun Tanjung Priok: Tantangan Untuk Berintegrasi

 

Ketika turun dari angkutan umum di Terminal Tanjung Priok, dengan mudah Anda mendapati sebuah bangunan berwarna putih kusam dengan tiang bendera merah-putih tertancap di atas atap datarnya. Itu dia, Stasiun Tanjung Priok yang menurut kabar akan difungsikan kembali. Meski terlihat kusam, stasiun tersebut masih tampak kokoh dan megah. Ada sumber yang mengatakan kalau bangunan tersebut dibangun tahun 1918. Sumber lainnya mengatakan antara tahun 1924-1925.

Dari tampak luar, bangunan bergaya arsitektur Art Deco berdiri kokoh di Jalan Taman Stasiun Tanjung Priok. Langgam berciri geometris tersebut dapat dilihat dari detail ventilasi kaca patri dengan bingkai kayu berbentuk persegi. Ventilasi-ventilasi yang ada menciptakan irama tersendiri pada bagian fasad bangunan. Massa bangunan pun terlihat dinamis, dengan adanya satu bagian yang timbul dari tengah bangunan utama.

Sewaktu berada di dalam stasiun itu, memang tidak seperti di dalam stasiun kereta api lainnya. Kondisinya sepi, gelap, kotor, dan berbau tak sedap. Meski demikian, kemegahan tetap dapat dilihat dari dinding-dinding yang dibuat tinggi. Bagian ini sebagian dilapisi dengan batu alam persegi berwarna biru atau hijau dan sebagian lainnya dicat tembok. Selain kesan megah, peninggian dinding juga dapat berfungsi untuk pencahayaan alami. Misalnya saja di lantai dasar dekat dengan ruang loket terdapat hall yang dulu berfungi sebagai ruang tunggu penumpang. Ruang inilah yang memberi kesan dinamis pada bangunan utama dari tampak luar.

 

IMG_5314 (2).JPG

Dari Pintu Masuk Utama Stasiun

Pada bagian lantai, bentuk persegi mendominasi ruang-ruang yang ada. Misalnya saja lantai di peron yang berbentuk segi empat 10×10 cm dan berwarna merah kecoklatan. Sayangnya, di beberapa ruangan sudah tidak lagi berkeramik sehingga hanya tertinggal semen saja.

IMG_5319 (2).JPG

Kantor Kepala Stasiun

Yang selanjutnya menarik mata adalah bentuk atap lengkung berstruktur baja yang berfungsi sebagai pelindung peron. Bahan atap adalah seng bercat hijau yang sudah terlihat karat di sana-sini. Namun atap tersebut tidak seluruhnya terbungkus seng. Di setiap penurunan atap terdapat sisi bukaan untuk pencahayaan alami yang diisi dengan kaca berbentuk segi empat. Bukaan ini terdapat pula di bagian depan dan belakang atap.

 

IMG_5307 (2)

Jalur Kereta

IMG_5354 (2)

Ruang Tunggu Penumpang

Di bawah atap lengkung tersebut terdapat jalur rel yang dapat digunakan untuk empat kereta api yang masing-masing mengangkut delapan gerbong. Namun, saat ini tidak seluruh jalur berfungsi, karena Stasiun Tanjung Priok hanya melayani transportasi kereta barang ekspor-impor dari pelabuhan. “Kereta biasanya mulai aktif pukul 11 malam hingga 5 pagi,” ungkap Subur Toyib, Kepala Stasiun Tanjung Priok yang baru menjalani masa jabatan selama tiga bulan.

Pemfungsian Kembali

Stasiun Tanjung Priok resmi tidak melayani kereta penumpang pada Januari 2000. Jumlah penumpang yang semakin sedikit sehingga tidak menutup biaya operasional menjadi alasan utama. Sebelumnya stasiun ini melayani beberapa rute ke luar Jakarta, seperti Solo, Surabaya, atau Semarang. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata kebutuhan akan Stasiun Tanjung Priok sebagai penyedia moda kereta api untuk penumpang kian mendesak. Oleh karena itu rencana pemfungsian kembali pun disusun. “Apabila telah berfungsi, stasiun peninggalan Belanda ini akan lebih tertata,“ ujar Subur.

Rencana pemfungsian kembali Stasiun Tanjung Priok ditangani langsung oleh Direktorat Jenderal Kereta Api (Dirjen KA) dan akan dilaksanakan mulai awal November 2008. Pengaktifan jalur kereta penumpang akan dilaksanakan pada 2009. Rute Tanjung Priok – Ancol – Kota ini nantinya akan difasilitasi dengan kereta api jenis ekonomi AC. Sayang, hingga berita ini dibuat, konsep pemfungsian kembali Stasiun Tanjung Priok dari Dirjen KA masih belum tersedia.

Meski tinggal beberapa bulan lagi menuju 2009, namun saya belum melihat adanya kegiatan untuk menunjang pemfungsian kembali stasiun tersebut. “Sementara ini, PT Kereta Api (PT KA) akan ‘membersihkan’ para penghuni rumah tidak permanen di sepanjang rel kereta. Selain itu, dengan biaya dari Dirjen KA, kami akan merenovasi seluruh stasiun namun tidak merubah bangunannya karena termasuk cagar budaya,” ungkap Subur. Ia juga menyatakan bahwa Pemerintah setempat hanya memperbolehkan mengganti atap yang bocor dan pengelupasan dinding untuk diperbaharui lagi. Fungsi-fungsi ruangan pun akan dikembalikan seperti semula. Dengan risiko, para agen perjalanan yang menempati ruang-ruang di bagian depan stasiun untuk sementara waktu dipindah.

IMG_5363 (2).JPG

Kantor Agen Perjalanan

Di atas tanah seluas 46.930 meter persegi, bangunan utama yang memiliki luas 3.768 meter persegi ini terdiri dari dua lantai. Saat ini yang berfungsi hanya lantai dasar yang memiliki ruang berfungsi kantor dan sebuah karaoke. Ruang lainnya seperti tempat penjualan tiket, peron, restoran, penginapan dan ruang bawah tanah, kini tidak berfungsi. Kondisi serupa terjadi pada lantai dua yang berisi kamar-kamar yang pada zaman Belanda digunakan sebagai penginapan.

IMG_5350 (2).JPG

Loket

Stasiun ini sebenarnya memiliki tiga pintu masuk. Namun karena tidak lagi melayani kereta penumpang, saat ini hanya satu yang masih dibuka, yaitu pada Jalan Taman Stasiun Tanjung Priok. Sedangkan pintu masuk dari Jalan Tenggiri dan Jalan Tongkol, ditutup.

Stasiun Sebagai Tempat Perpindahan Antar Moda

Letak Stasiun Tanjung Priok berada diantara pelabuhan, terminal angkutan umum, dan halte Trans Jakarta koridor X. “Posisi ini sudah bagus,“ ungkap Jachrizal Sumabrata, peneliti bidang transportasi perkotaan pada Pusat Kajian Wilayah dan Perkotaan (PUSWIKA) Universitas Indonesia. Karena bagusnya posisi, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi stasiun ini.

Kereta api memiliki potensi sebagai angkutan umum kapasitas besar. Idealnya ia bisa mengangkut 10.000-15.000 orang per jam per arah. Lalu bagaimana untuk mendapatkan penumpang sebanyak itu? Adalah yang dinamakan feeder. Feeder berfungsi untuk mengumpulkan orang dari berbagai area untuk berjalan atau berpindah ke satu titik. “Keberhasilan dari sebuah stasiun dapat juga dilihat dari kemudahan (calon penumpang) mengakomodir feeder,” ujar Jachrizal. Selain itu, kereta api yang ideal seharusnya tepat jadwal, memiliki kapasitas penumpang yang memadai, aman, dan nyaman.

Stasiun pun juga memiliki syarat tertentu agar dapat dikatakan ideal. “Setidaknya stasiun memiliki tempat perpindahan orang yang mudah, ada fungsi komersial, dan nyaman,” ungkap Jachrizal. Kemudahan yang dimaksud adalah saat penumpang hendak berganti moda. Ketika turun dari kereta api kemudian melanjutkan naik bus, mereka tidak perlu lagi jalan beratus-ratus meter. Sayangnya, hingga saat ini stasiun-stasiun di Jakarta belum mampu berfungsi pula sebagai tempat perpindahan moda. Stasiun hanya dianggap sebagai tempat menunggu kereta api saja. “Padahal orang turun dari kereta api tidak kemudian untuk naik kereta api lagi. Tapi pasti beralih ke moda lain,” ujar Jachrizal.

IMG_5317 (2).JPG

Terminal Tanjung Priok dari dalam Stasiun Tanjung Priok

Lalu apa kata kunci agar stasiun dapat berfungsi menjadi tempat perpindahan antar moda? Integrasi. Dari segi desain, tempat pemberhentian kereta api dan bus dapat diletakkan menjadi satu kawasan, sehingga penumpang tidak sulit untuk berpindah moda. Oleh karena adanya kawasan pemberhentian yang menyatu ini, maka diperlukan satu pengelolaan yang terintegrasi pula antar stakeholder terkait agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan.

Stasiun Tanjung Priok kini memiliki banyak pekerjaan rumah. Dari mempercantik fisik bangunan, menambah fasilitas, dan berintegrasi dengan moda sekitarnya. Bila ingin menunjukkan eksistensi, Stasiun Tanjung Priok memang harus berupaya keras memenuhi persyaratan menjadi stasiun yang sesungguhnya: memudahkan penumpang beralih moda dengan aman dan nyaman.

 

Catatan: Pada awalnya tulisan yang dibuat pada 13 November 2008 ini, dibuat untuk kebutuhan penyusunan artikel pada sebuah majalah arsitektur. Namun karena satu dan lain hal, tulisan ini batal naik. Tulisan telah saya perbaiki seperlunya pada 17 Agustus 2016.