Hari Pertama

Saya mengintip ke dalam kelas itu dari balik jendela. Tampak ia dan anak-anak sebayanya melingkari ibu guru. Ibu guru menawari mereka beberapa mainan dan mereka tertarik. Ia melihat ke atas lemari berwarna cerah dan menunjuk ke salah satu jenis mainan. Saya tidak jelas melihat karena pantulan cahaya matahari dari kaca jendela. Ibu guru pun mengambilkan dan memberikan kepadanya. Ia tampak senang.

Tidak ada kegaduhan, tangis, rengekan di hari pertama sekolahnya. Ia seperti berada di rumah kedua. Saya mengintip lagi, ia dan teman-temannya semakin asyik memasuki dunia baru.

Kondisi berbeda terjadi di kelas sebelahnya. Beberapa anak menangis dan menjerit. Mungkin kaget atau takut karena ditinggal ibunya. “Biasa anak nangis baru masuk sekolah. Tiga hari sudah biasa, kok,” kata seorang ibu guru ketika saya mendaftarkannya beberapa bulan sebelumnya. Jadi, saya sudah siap jika ia akan menangis atau menjerit ketika saya tinggal.

Dan ketika ia tidak menunjukkan ketakutannya di hari pertama di kelompok bermain itu, saya bernafas lega. Pesan ibu guru itu untuk mengajaknya kembali ke sekolah secara berkala sebelum aktif, benar adanya. Mungkin ia sudah terbiasa sehingga telah kenal lingkungan sehingga merasa nyaman.

“Gimana, seneng Kak di sekolah?” Tanya saya usai satu jam terpisah.¬†“Seneng.” “Tadi main apa?” “Lilin. Dibulet-buletin gitu, lho. Aku bisa.”

Semoga kesenangannya terus bertambah di situ.

Menjaring Kembali Mimpi

Pernahkah kau pada satu waktu merasakan hal-hal yang selama ini terasa mengasyikkan menjadi tidak bermakna?

Pekerjaan mendebarkan karena penuh gairah mendadak terasa berat. Keruh.

Kemudian, mau kau hanya satu: pergi dan meninggalkan semua di sudut ruang itu. Ruang bekas tempat kerja yang selama ini tempatmu mengadu teori dan fakta.

Lalu, kau mau ke mana setelah ini?

Tidak ada jawaban. Hanya, kau rindu pada desa. Mengolah tanah di kebun sayur, mungkin? Kau tertawa terbahak. “Tapi, tak ada yang tidak mungkin, bukan?” Sambungmu.

Pada hari depan, kau hanya mencoba meraba. Sungguh, kejenuhan tampaknya kian menggerogoti mimpi-mimpi.

Akankah mereka kembali?

22 Juli

Tentang cerita-cerita masa lalu darimu, aku semakin percaya tentang kesabaran; ketaatan. Bagaimana membuat kuat hati untuk menemukan pasangan yang sepadan. Bagaimana mempertahankan kepercayaan yang selama ini menjadi pedoman dalam hidup.

Aku semakin mengerti bahwa setiap langkah ini memiliki arahnya sendiri. Ia telah mengatur, hanya kita apakah paham tentang itu semua: tetap mengikuti alur-Nya yang terkadang tampak curam dan berwaktu panjang.

Kemudian pada saatnya, ketika kau mampu melewati jalur patahan itu dan selalu bangkit kembali saat terjatuh, dataran subur itu akan menerima kedatanganmu. Meski hari-hari nanti mungkin saja jalanmu berkelok, namun aku percaya, kau telah terlatih mengatur langkah.

Selamat berbahagia untukmu, sekarang dan selamanya bersama kekasih jiwa.

 

(Buat: Trinanti Sulamit)

Damai

Kapan ada mengerti

Antara kau dan aku

Antara aku dan kau

Supaya tercipta damai

Bukan damai buatmu saja

Bukan damai untukku sendiri

Tapi damai antara kita

Berdua.

 

(Setelah dari Bantar Gebang)

Ketika Mereka Pergi

Ada pola yang sama ketika mereka hendak berpulang. Rasa ingin bertemu dengan teman-teman di media sosial atau sekadar menumpahkan isi hati; ya, mungkin supaya teman-teman menoleh dan memberi komentar di dalam statusnya.

Sayangnya, tidak semua teman peka. Mereka dianggap sedang iseng atau rindu saja karena lama tidak menampilkan diri di dunia maya. Status mereka diacuhkan, lalu mereka terlupakan oleh hal lainnya. Hingga pada suatu masa, mereka tidak lagi bisa mengetik kata hati, isi pikiran, komentar di dinding akun. Teman-temannya mendadak membanjiri akun dan mengucapkan selamat jalan. Berharap di surga nanti, mereka sempat pinjam ponsel malaikat untuk memeriksa akun (?) Status-statusnya kemudian dibaca kembali oleh teman-teman dan mereka menyesal tidak menanyakan kabar atau melanjutkan kepada sebuah pertemuan.

Kita hanya butuh peka, terutama kepada teman lama yang tidak sempat bersua. Jika waktu belum mengizinkan untuk bertemu, kirimkan saja doa kepada mereka agar sehat dan sejahtera.

Kepada teman-temanku yang telah mendahului, terima kasih telah menjadi mitra seperjalanan. Bahagia selalu dalam keabadian.

 

(Buat: Bambang Sutikno).

Hadiah Ulang Tahun

Pada suatu masa, ketegaran hatimu akan diuji oleh orang-orang di sekitarmu: mereka yang kau sayangi, kau cintai, kau rindukan. Cerita-cerita yang bagimu mengasyikkan bisa saja dicela oleh mereka. Kau dianggap salah. Seratus persen salah; yang bisa jadi kau dianggap bodoh.

Oh, Tuhan, apa salah saya?

Kau mungkin akan berpikir demikian. Sebab, kau kira orang-orang tersebut akan selalu berada di pihakmu. Mendukung setiap laku dan keputusan. Oh, tidak, Sayang… Setiap orang bisa dan boleh berubah. Kau yang harus adaptif!

Setelah resah menggeluti hati, kau boleh menentukan sikap. Hendak meninggalkan mereka atau berpikir positif: suatu saat mereka tidak akan berbuat seperti itu lagi.

 

(Thanks to Echa).

Tetap Berbuat Baik

“Riuh sekali di luar sana,” ujarku suatu sore di sebuah kedai kopi. Kau tersenyum, “tidak mau ikut serta? Supaya tambah riuh,” katamu. Aku tertawa lebar, “ikut sinting aku nanti!”

Aku kemudian bercerita, “akibat kondisi politik di negara ini, aku merasa kehilangan banyak teman. Mereka jadi berbeda. Atau aku yang berubah juga?”

“Ya, banyak juga yang merasa begitu. Padahal tahu sendiri politik itu dinamis. Tidak ada lawan abadi. Tidak ada kawan abadi,” katamu sambil menyeruput kopi Gayo.

“Tapi, kami pernah melewati waktu bersama. Sekarang hilang begitu saja hanya karena pilihan berbeda,” aku protes.

“Nah, kamu juga tidak paham politik. Santai saja lah, semua orang berhak punya pandangan dan tidak apa-apa jika berbeda denganmu.”

Aku merengut karena merasa tidak dibela. Kau tertawa lagi. “Lebih baik, kamu ambil studi politik. Biar ngga tambah mumet memikirkan dunia,” sambungmu.

“Ah, politik dangkal. Persamaan matematis abadi,” kataku mengutip pernyataan ¬†Fisikawan Albert Einstein.

Kau pun tergelak.

“Jadi, mau ambil studi Fisika?” sahutmu. “Tidak juga,” jawabku.

“Hanya, apakah segala sesuatu ini bisa diperbaiki?”

Kau terdiam memandangku. Lalu pelan menjawab, “terkadang kita tidak perlu memaksa keadaan seturut keinginan. Tetaplah saja berbuat baik dengan mereka.”

(Setelah kurang tidur, 28 April 2017)