Hari Pertama

Saya mengintip ke dalam kelas itu dari balik jendela. Tampak ia dan anak-anak sebayanya melingkari ibu guru. Ibu guru menawari mereka beberapa mainan dan mereka tertarik. Ia melihat ke atas lemari berwarna cerah dan menunjuk ke salah satu jenis mainan. Saya tidak jelas melihat karena pantulan cahaya matahari dari kaca jendela. Ibu guru pun mengambilkan dan memberikan kepadanya. Ia tampak senang.

Tidak ada kegaduhan, tangis, rengekan di hari pertama sekolahnya. Ia seperti berada di rumah kedua. Saya mengintip lagi, ia dan teman-temannya semakin asyik memasuki dunia baru.

Kondisi berbeda terjadi di kelas sebelahnya. Beberapa anak menangis dan menjerit. Mungkin kaget atau takut karena ditinggal ibunya. “Biasa anak nangis baru masuk sekolah. Tiga hari sudah biasa, kok,” kata seorang ibu guru ketika saya mendaftarkannya beberapa bulan sebelumnya. Jadi, saya sudah siap jika ia akan menangis atau menjerit ketika saya tinggal.

Dan ketika ia tidak menunjukkan ketakutannya di hari pertama di kelompok bermain itu, saya bernafas lega. Pesan ibu guru itu untuk mengajaknya kembali ke sekolah secara berkala sebelum aktif, benar adanya. Mungkin ia sudah terbiasa sehingga telah kenal lingkungan sehingga merasa nyaman.

“Gimana, seneng Kak di sekolah?” Tanya saya usai satu jam terpisah. “Seneng.” “Tadi main apa?” “Lilin. Dibulet-buletin gitu, lho. Aku bisa.”

Semoga kesenangannya terus bertambah di situ.

Doa Makan Damar

Suatu sore, tiba-tiba ia mengucapkan urutan kata-kata dengan irama pelan, tapi tidak datar. Enak mendengarnya. Itu doa makan yang diajarkan di sekolahnya:

Tuhan Yesus yang baik,

Terima kasih atas makanan dan minuman yang tersedia bagi kami

Berkatilah supaya menyehatkan badan dan jiwa kami

Amin

Amin.

Stasiun Tanjung Priok: Tantangan Untuk Berintegrasi

 

Ketika turun dari angkutan umum di Terminal Tanjung Priok, dengan mudah Anda mendapati sebuah bangunan berwarna putih kusam dengan tiang bendera merah-putih tertancap di atas atap datarnya. Itu dia, Stasiun Tanjung Priok yang menurut kabar akan difungsikan kembali. Meski terlihat kusam, stasiun tersebut masih tampak kokoh dan megah. Ada sumber yang mengatakan kalau bangunan tersebut dibangun tahun 1918. Sumber lainnya mengatakan antara tahun 1924-1925.

Dari tampak luar, bangunan bergaya arsitektur Art Deco berdiri kokoh di Jalan Taman Stasiun Tanjung Priok. Langgam berciri geometris tersebut dapat dilihat dari detail ventilasi kaca patri dengan bingkai kayu berbentuk persegi. Ventilasi-ventilasi yang ada menciptakan irama tersendiri pada bagian fasad bangunan. Massa bangunan pun terlihat dinamis, dengan adanya satu bagian yang timbul dari tengah bangunan utama.

Sewaktu berada di dalam stasiun itu, memang tidak seperti di dalam stasiun kereta api lainnya. Kondisinya sepi, gelap, kotor, dan berbau tak sedap. Meski demikian, kemegahan tetap dapat dilihat dari dinding-dinding yang dibuat tinggi. Bagian ini sebagian dilapisi dengan batu alam persegi berwarna biru atau hijau dan sebagian lainnya dicat tembok. Selain kesan megah, peninggian dinding juga dapat berfungsi untuk pencahayaan alami. Misalnya saja di lantai dasar dekat dengan ruang loket terdapat hall yang dulu berfungi sebagai ruang tunggu penumpang. Ruang inilah yang memberi kesan dinamis pada bangunan utama dari tampak luar.

 

IMG_5314 (2).JPG

Dari Pintu Masuk Utama Stasiun

Pada bagian lantai, bentuk persegi mendominasi ruang-ruang yang ada. Misalnya saja lantai di peron yang berbentuk segi empat 10×10 cm dan berwarna merah kecoklatan. Sayangnya, di beberapa ruangan sudah tidak lagi berkeramik sehingga hanya tertinggal semen saja.

IMG_5319 (2).JPG

Kantor Kepala Stasiun

Yang selanjutnya menarik mata adalah bentuk atap lengkung berstruktur baja yang berfungsi sebagai pelindung peron. Bahan atap adalah seng bercat hijau yang sudah terlihat karat di sana-sini. Namun atap tersebut tidak seluruhnya terbungkus seng. Di setiap penurunan atap terdapat sisi bukaan untuk pencahayaan alami yang diisi dengan kaca berbentuk segi empat. Bukaan ini terdapat pula di bagian depan dan belakang atap.

 

IMG_5307 (2)

Jalur Kereta

IMG_5354 (2)

Ruang Tunggu Penumpang

Di bawah atap lengkung tersebut terdapat jalur rel yang dapat digunakan untuk empat kereta api yang masing-masing mengangkut delapan gerbong. Namun, saat ini tidak seluruh jalur berfungsi, karena Stasiun Tanjung Priok hanya melayani transportasi kereta barang ekspor-impor dari pelabuhan. “Kereta biasanya mulai aktif pukul 11 malam hingga 5 pagi,” ungkap Subur Toyib, Kepala Stasiun Tanjung Priok yang baru menjalani masa jabatan selama tiga bulan.

Pemfungsian Kembali

Stasiun Tanjung Priok resmi tidak melayani kereta penumpang pada Januari 2000. Jumlah penumpang yang semakin sedikit sehingga tidak menutup biaya operasional menjadi alasan utama. Sebelumnya stasiun ini melayani beberapa rute ke luar Jakarta, seperti Solo, Surabaya, atau Semarang. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata kebutuhan akan Stasiun Tanjung Priok sebagai penyedia moda kereta api untuk penumpang kian mendesak. Oleh karena itu rencana pemfungsian kembali pun disusun. “Apabila telah berfungsi, stasiun peninggalan Belanda ini akan lebih tertata,“ ujar Subur.

Rencana pemfungsian kembali Stasiun Tanjung Priok ditangani langsung oleh Direktorat Jenderal Kereta Api (Dirjen KA) dan akan dilaksanakan mulai awal November 2008. Pengaktifan jalur kereta penumpang akan dilaksanakan pada 2009. Rute Tanjung Priok – Ancol – Kota ini nantinya akan difasilitasi dengan kereta api jenis ekonomi AC. Sayang, hingga berita ini dibuat, konsep pemfungsian kembali Stasiun Tanjung Priok dari Dirjen KA masih belum tersedia.

Meski tinggal beberapa bulan lagi menuju 2009, namun saya belum melihat adanya kegiatan untuk menunjang pemfungsian kembali stasiun tersebut. “Sementara ini, PT Kereta Api (PT KA) akan ‘membersihkan’ para penghuni rumah tidak permanen di sepanjang rel kereta. Selain itu, dengan biaya dari Dirjen KA, kami akan merenovasi seluruh stasiun namun tidak merubah bangunannya karena termasuk cagar budaya,” ungkap Subur. Ia juga menyatakan bahwa Pemerintah setempat hanya memperbolehkan mengganti atap yang bocor dan pengelupasan dinding untuk diperbaharui lagi. Fungsi-fungsi ruangan pun akan dikembalikan seperti semula. Dengan risiko, para agen perjalanan yang menempati ruang-ruang di bagian depan stasiun untuk sementara waktu dipindah.

IMG_5363 (2).JPG

Kantor Agen Perjalanan

Di atas tanah seluas 46.930 meter persegi, bangunan utama yang memiliki luas 3.768 meter persegi ini terdiri dari dua lantai. Saat ini yang berfungsi hanya lantai dasar yang memiliki ruang berfungsi kantor dan sebuah karaoke. Ruang lainnya seperti tempat penjualan tiket, peron, restoran, penginapan dan ruang bawah tanah, kini tidak berfungsi. Kondisi serupa terjadi pada lantai dua yang berisi kamar-kamar yang pada zaman Belanda digunakan sebagai penginapan.

IMG_5350 (2).JPG

Loket

Stasiun ini sebenarnya memiliki tiga pintu masuk. Namun karena tidak lagi melayani kereta penumpang, saat ini hanya satu yang masih dibuka, yaitu pada Jalan Taman Stasiun Tanjung Priok. Sedangkan pintu masuk dari Jalan Tenggiri dan Jalan Tongkol, ditutup.

Stasiun Sebagai Tempat Perpindahan Antar Moda

Letak Stasiun Tanjung Priok berada diantara pelabuhan, terminal angkutan umum, dan halte Trans Jakarta koridor X. “Posisi ini sudah bagus,“ ungkap Jachrizal Sumabrata, peneliti bidang transportasi perkotaan pada Pusat Kajian Wilayah dan Perkotaan (PUSWIKA) Universitas Indonesia. Karena bagusnya posisi, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi stasiun ini.

Kereta api memiliki potensi sebagai angkutan umum kapasitas besar. Idealnya ia bisa mengangkut 10.000-15.000 orang per jam per arah. Lalu bagaimana untuk mendapatkan penumpang sebanyak itu? Adalah yang dinamakan feeder. Feeder berfungsi untuk mengumpulkan orang dari berbagai area untuk berjalan atau berpindah ke satu titik. “Keberhasilan dari sebuah stasiun dapat juga dilihat dari kemudahan (calon penumpang) mengakomodir feeder,” ujar Jachrizal. Selain itu, kereta api yang ideal seharusnya tepat jadwal, memiliki kapasitas penumpang yang memadai, aman, dan nyaman.

Stasiun pun juga memiliki syarat tertentu agar dapat dikatakan ideal. “Setidaknya stasiun memiliki tempat perpindahan orang yang mudah, ada fungsi komersial, dan nyaman,” ungkap Jachrizal. Kemudahan yang dimaksud adalah saat penumpang hendak berganti moda. Ketika turun dari kereta api kemudian melanjutkan naik bus, mereka tidak perlu lagi jalan beratus-ratus meter. Sayangnya, hingga saat ini stasiun-stasiun di Jakarta belum mampu berfungsi pula sebagai tempat perpindahan moda. Stasiun hanya dianggap sebagai tempat menunggu kereta api saja. “Padahal orang turun dari kereta api tidak kemudian untuk naik kereta api lagi. Tapi pasti beralih ke moda lain,” ujar Jachrizal.

IMG_5317 (2).JPG

Terminal Tanjung Priok dari dalam Stasiun Tanjung Priok

Lalu apa kata kunci agar stasiun dapat berfungsi menjadi tempat perpindahan antar moda? Integrasi. Dari segi desain, tempat pemberhentian kereta api dan bus dapat diletakkan menjadi satu kawasan, sehingga penumpang tidak sulit untuk berpindah moda. Oleh karena adanya kawasan pemberhentian yang menyatu ini, maka diperlukan satu pengelolaan yang terintegrasi pula antar stakeholder terkait agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan.

Stasiun Tanjung Priok kini memiliki banyak pekerjaan rumah. Dari mempercantik fisik bangunan, menambah fasilitas, dan berintegrasi dengan moda sekitarnya. Bila ingin menunjukkan eksistensi, Stasiun Tanjung Priok memang harus berupaya keras memenuhi persyaratan menjadi stasiun yang sesungguhnya: memudahkan penumpang beralih moda dengan aman dan nyaman.

 

Catatan: Pada awalnya tulisan yang dibuat pada 13 November 2008 ini, dibuat untuk kebutuhan penyusunan artikel pada sebuah majalah arsitektur. Namun karena satu dan lain hal, tulisan ini batal naik. Tulisan telah saya perbaiki seperlunya pada 17 Agustus 2016.

Renungan Bulan Juni*

Juni penghujan membawa cerita-cerita sendu tentang kehidupan. Kala penopang utama dalam rumah tangga direnggut oleh kebutaan penguasa. Lalu orang-orang itu ditinggal dalam kehampaan. Emosi kemudian memuncak yang sewaktu-waktu bisa menikam jiwa.

Sementara itu, ada pula orang-orang yang tidak menetapkan aturan dengan konsisten. Aturan penting tentang pemberian hak pembayaran. Jika kau lupa ambil hak, jangan harap mereka akan memberikannya kepadamu.

Kemudian ada seorang pelajar yang sedang menyelesaikan sekolah sambil bekerja. “Usaha orangtua saya sedang turun,” katanya memberi alasan. Jika tidak bekerja, upaya lulus bisa jauh di mata.

Cerita-cerita itu saling memantul di dalam pikiran saya. Memberikan berbagai pandangan “menurut saya”. Apa masih dibutuhkan teori motivasi jika sudah terjebak dalam jurang? Semoga masih ada bebatuan yang bisa dipanjat. Atau Tuhan bersedia mengirimkan penolong yang menurunkan tali untuk mengangkat mereka kembali ke atas. 

*) tulisan yang seharusnya saya unggah bulan juni, namun (ternyata) gagal. Mungkin saat itu sinyal internet sedang lelah.

Bunga Tidur #2

Di dalam balutan ruang dan waktu lampau, aku terbawa dalam bunga tidur malam tadi. Kau kembali menjelma utuh di hadapanku. Berbaur dengan duka dan rindu. Langit sore menjelang malam menjadi latar kehadiranmu. Sedang aku terus mencoba menciptakan pembicaraan yang lama tiada.

“Kita mau pergi ke mana?”

“Sesukamu.”

“Aku ingin ke taman. Di ujung sana ada taman dengan kerlip lampu.”

Kami berjalan ke sana. Titik-titik lampu bohlam mungil mengajak kami tersenyum bahagia. Merah, hijau, kuning. Mereka tampak meriah. Kau pun terpukau. Di sela pohon rendah, wajahmu tersapu kerlap-kerlip lampu. Wajah yang menyimpan (terlalu) banyak rahasia, hingga saat bertemu denganku pun kau enggan bicara.

Tiba-tiba taman itu gelap. Lampu-lampu tadi mati dan aku mulai sibuk mencari kau. Seperti biasanya, kau kemudian menghilang dan entah kapan aku bisa menemukanmu kembali. Aku mendongak menatap langit berawan. Berharap purnama muncul dan menemaniku menemukan jalan pulang.

 

Pembicaraan Mengenai Kota

“Bagaimana menurutmu dengan walikota yang baru itu?”

Saya cuma tersenyum. “Menurutmu bagaimana?” Saya tanya balik.

Gimana, ya. Kayaknya sama aja dengan yang dulu. Jalanan masih macet. Sumpek!” Jawabnya dengan wajah masam. “Jika akhir pekan, saya malas jalan ke luar rumah. Macet di mana-mana. Setiap sisi kiri kanan jalan pasti ada pertokoan yang minim tempat parkir. Atau kendaraan yang keluar masuk toko, rumah makan, bikin antrean kendaraan di jalan,” sambung saya.

Dia mengangguk-angguk. Sambungnya, “Saya cari data tentang rencana ketinggian bangunan di dinas tata kota, mereka bilang belum punya…”

“Padahal sudah ada apartemen 20 lantai di situ?” Tanya saya balik. Dia mengiyakan dengan wajah bingung. “Begitulah… Pemerintah kota seharusnya memiliki peraturan dulu, baru swasta atau masyarakat mengkutinya. Bukan semuanya diserahkan pasar,” kata saya.

“Oleh karena itu, wajah kota kita tampak begitu komersial? market oriented?” Dia menduga. Saya tersenyum. “Sampai di jalan lingkungan pun perdagangan bersaing. Dari toko kelontong, bengkel, jual-beli mobil, sampai jasa pengecatan mobil tersebut. Semua lahan dipakai dagang!” Seru saya.

“Pada akhirnya, saya memilih pindah dari kota itu. Semua harga meningkat termasuk tanah untuk rumah atau perumahan,” sambung saya.

“Walau, pasti di pinggiran kota tempat tinggalmu nanti, akan sumpek juga jika tidak diantisipasi dari sekarang oleh si bupati,” ujarnya.

Saya mengangguk lemah. Teori-teori tentang kota yang baik tampaknya tidak laku di tempat kami berada: kota yang mengutamakan keselamatan pejalan kaki; kota yang memiliki ruang-ruang terbuka umum untuk bersosialiasi atau tempat bermain anak; kota yang punya jalur transportasi massal; kota yang memiliki parkir bersama; kota yang menyediakan rumah murah.

Atau semua teori itu memang cuma ilusi. Utopia.

 

 

Bunga Tidur #1

Suatu waktu, seorang laki-laki dari masa dua belas tahun lalu muncul membawa kain putih. Matanya dalam menatap mata yang ada di depannya. Di depannya seorang perempuan juga sedang menatapnya. Dengan mata menyipit, ia bertanya, “Kamu siapa?”

Ia tidak segera menjawab. Hanya menyerahkan kain warna putih tadi ke tangan perempuan itu. Perempuan itu menolak. “Kamu siapa? Ia lalu berpaling, “saya tidak kenal!” Suaranya terdengar gemetar.

Laki-laki bertubuh tinggi namun agak bongkok itu kemudian menjawab, “Kamu tidak mungkin lupa saya. Kenangan ini saya mau berikan kepada kamu, pemiliknya. Saya menemukannya di sudut hati. Masih terbungkus rapi.” Perempuan itu tiba-tiba tersedu. Ia kembali menatap laki-laki itu. “Kenapa kamu tinggalkan saya ketika saya masih butuh kamu? Kenapa?!”

Ia lalu menunduk. Ia tahu, perempuan di depannya tidak mungkin lupa, meski ia bagai alien datang dari luar angkasa membawa kado. “Saya hanya mau mengembalikan. Ini membuat saya terus merasa bersalah padamu. Maafkan jika saya sudah menyakiti.”

Perempuan itu menghapus air mata yang entah kenapa tidak juga kering. Ada rasa marah yang kembali meletup, tapi juga rindu. Dua belas tahun lalu,ia ditinggal pergi setelah laki-laki itu memutuskan hubungan yang sebetulnya masih ia inginkan. Lalu, sekarang ia datang tanpa diundang dan membawa buah tangan yang ingin sekali ia buang.

“Saya tidak mau ini!” Perempuan itu kemudian mengambil kain putih itu lalu melemparkan ke sebuah sungai kecil di dekat mereka berdiri. Ia menyambung, “silakan kamu pergi.”

Laki-laki itu masih menunduk lalu perlahan menatap perempuan yang pernah dikasihinya. “Semua butuh waktu untuk memaafkan. Berdamai. Saya juga butuh waktu untuk memberanikan diri datang dan minta ampun darimu atas kesalahan.” Ia menarik napas, “jika masa lalu memang harus pergi, saya akan pergi sekarang. Toh, kamu akhirnya sudah membuang segalanya.” Ia terdiam sejenak lalu meneruskan bicara, “jadi, apakah saya dimaafkan sekarang?”

Perempuan itu tetap menatap laki-laki yang pernah ia harapkan menjadi penyelamat hidup. Ingin sekali menyentuhnya, tapi ia tahu, itu melewati batas. Mereka sama-sama paham bahwa telah ada penyelamat hidup yang sesungguhnya di masing-masing sisi mereka.

“Saya sudah memaafkan kamu sejak kamu pergi. Saya sempat berharap untuk bertemu kamu. Tapi kesempatan itu baru hadir sekarang, ketika saya sudah melupakan segalanya.”

Jeda.

“Silakan pergi. Terima kasih sudah menemui saya.”

Dua pundak yang tadinya berhadapan kini saling membelakangi. Tanpa lagi menoleh, mereka meneruskan jalannya masing-masing.