Kota yang Ramah: Sebuah Harapan

Kota saya ternyata kurang ramah. Bukan maksudnya karena banyak copet tapi lebih kepada kurangnya fasilitas publik untuk orang cacat! Saya tidak cacat, tapi karena baru jatuh dari motor membuat kaki saya menjadi  sulit melangkah. Hari itu, saya pun menyambangi sebuah mall untuk nonton film terbaru, setelah dua bulan lebih hanya bisa menetap di rumah. Sayangnya,  bioskop yang saya kunjungi tidak ada lift dan hanya tersedia tangga. Uff, hanya membayangkan bagaimana ya kalau ada orang ber-kursi roda ingin menonton di bioskop itu?

Selain itu, pedestrian di sepanjang jalan, aduuhhh…betul-betul membuat saya harus ekstra hati-hati. Ketika kaki saya sehat sih, medan terjal apa pun bukan masalah. Namun ketika pedestian tidak rata, paving tidak beraturan, bahkan ada yang sudah hilang dan diganti tanah yang kalau hujan..becek! Perlu usaha lebih dan teman pendamping untuk memegangi saya saat berjalan di pedstrian yang buruk.  Pedestrian datar mungkin hanya ada di Jl. Sudirman (sayangnya).  Lalu bagaimana dengan saudara kita yang hanya bisa jalan dengan tongkat? Pantas saja yang saya lihat di kota ini hanya orang normal. Pertanyaan selanjutnya: apa kota ini hanya untuk orang normal?

Menjadi orang yang tidak normal dalam 3 bulan ini, cukup menggentarkan hati saya. Saya harus mencari “jalur aman” :  tanpa  menyeberang jalan (karena saya belum bisa berlari. Tahu sendiri kendaraan seperti apa di kota ini) dan ketika membayar angkot, saya harus memberikan uangnya dari depan agar supir tidak langsung berlari sebelum saya betul-betul turun dari angkot.

Jadi, memang sulit menjadi orang tidak normal. Dalam arti  saat menikmati fasilitas publik kota yang seharusnya bisa dirasakan semua warga tanpa kecuali. Para desainer bangunan dan kota perlu memiliki empati saat merencana, sehingga kota tidak hanya milik  orang normal. Tapi juga seluruh lapisan sosial yang juga membutuhkan kota sebagai satu tempat untuk melanjutkan hidup.

Advertisements

2 thoughts on “Kota yang Ramah: Sebuah Harapan

  1. yellowtofu says:

    Pemikiran yang bagus. Kota Surabaya tampaknya yang sudah mulai membuat jalan2 pedestrian, awal tahun ini pernah kesana dan jalannya bagus sekali :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s