Pekerjaan Adalah Kesempatan

Seorang teman dekat cerita tentang keresahannya pada saya, “Teman-teman di kantor mau resign. Katanya nggak kuat menahan beban kerja. Capek denger amarah orang terus..” Teman dekat saya itu bekerja di bagian pelayanan dan informasi pelanggan yang kerjanya setiap hari adalah mendengar protes orang. Lalu ia menambahi, “Padahal mereka masih training 2 bulan..”

Wow, cukup mengejutkan mendengar para “fresh graduate” itu dengan mudah keluar masuk perusahaan. Padahal cari kerja sekarang sulit. Apalagi lewat jalur formal ke perusahaan-perusahaan besar. Saya yang baru 2 tahun malang – melintang di dunia kerja “kenalan” (maksudnya bisa kerja hanya karena koneksi teman), cukup kaget dan prihatin dengan kondisi itu. Pikir saya, kok nggak menimbang sejak melamar pekerjaan yang dituju supaya tidak ‘salah alamat’. Pertanyaan ini segera dijawab teman saya itu, “Perusahaan sekarang pintar cari nama bagus untuk sebuah posisi. Begitu kita melamar, ternyata pekerjaannya tidak sebagus namanya.”

Well, tapi mereka pasti menjalani wawancara, bukan? Saat itulah cara kita tahu seperti apa kurang lebih porsi pekerjaan. Kalau sudah setuju dengan pekerjaan yang ada, ya jalani lah sampai pada target waktu yang telah ditentukan.

Mari sejenak kita lihat angka pengangguran di Jakarta. Menurut BPS (dalam Depsos RI), pada Februari 2008 tingkat pengangguran terbuka mencapai 9,43 juta orang. Belum lagi, angka ini akan semakin naik di 2009. Lalu, apakah kita mau menjadi salah satu orang di dalam jumlah tersebut?

Menjadi penganggur bukan hal yang menyenangkan. Jadi, begitu mendapat pekerjaan kenapa tidak dijalani sepenuh hati? Jadi ingat sepotong ucapan Mak Nyak pada sinetron Si Doel Anak Sekolahan, “Kalo udah dapet kerjaan dilakuin aje. Kalo ngga cocok, dicocok-cocokin. Hari gini susah dapet kerja.”

Dan mengutip kata motivator, Mario Teguh, dari seorang Bapak, “Bila kita belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat kita, bakatilah apapun pekerjaan kita sekarang. Kita akan tampil secermelang yang berbakat.”

Intinya kita mau terus belajar dan tidak cengeng menghadapi risiko pekerjaan. Kadang pekerjaan adalah kesempatan. Bukan keinginan atau mimpi kita mau menjadi apa.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s