Keluarga Guyub

“Keluarga Katolik hanya layak disebut sebagai sebuah Gereja kecil bila anggota-anggota keluarga tersebut sungguh-sungguh guyub (rukun dan mesra) dan sekaligus beriman” (Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Bogor, 2010).

(blogspot.com)

Petikan kalimat di atas adalah bagian dari renungan Aksi Adven Pembangunan 2010. “Tugas yang berat! Syarat pertama saja tak lolos!” kata seorang teman waktu membaca itu. “Guyub?” Ia mengangguk. “Kenapa?” tanya saya. Ia lalu bercerita. “Saya dan kakak-adik tidak akrab. Jarang mengobrol hanya sekadar cerita pekerjaan. Atau hal kecil, soal tanding bola, misalnya, seperti tak ada waktu.  Sibuk dengan urusan masing-masing. Minta bantuan apalagi. Mereka tampaknya enggan untuk dimintai tolong bagi kepentingan saya.  Lalu, kalau tak guyub dengan saudara kandung, bagaimana keluarga saya ini mampu menjadi Gereja?”

Menjawab pertanyaan teman saya, di buku yang sama menyebutkan bahwa dalam mendidik anak-anaknya, orangtua harus membangun suasana rumah tangga yang dipenuhi oleh cinta kasih, agar mereka mengerti bagaimana menjadi orang yang dicintai dan harus mencintai. Peran orang tua selanjutnya menjadi hal penting di sini. Hingga akhir hayat, hubungan anak-orang tua seyogianya tetap harmonis, sehingga dapat merekatkan hubungan anak-anak.

Ibu. Ia adalah orang terbaik yang bisa merekatkan jalinan antar anak yang mulai renggang. Hubungan anak-ibu umumnya lebih erat sehingga ia berkompeten untuk mengikat kembali ikatan anak-anak yang longgar karena pengaruh lingkungan. Di film ‘Dim Sum Funeral’ karya sutradara Anna Chi diceritakan, bagaimana cara seorang ibu mengumpulkan anak-anaknya yang saling bermusuhan: pura-pura mati. Berhasilkah cara itu? Iya! Meski setelah tahu ibunya berbohong, mereka amat marah. Tapi, akhirnya mereka sadar kalau ide ibunya sangat jenius. Saat itu mereka mengerti perlunya menguatkan tali persaudaraan. Hingga kemudian sang ibu sungguhan mati, mereka tetap saling menguatkan di kehidupan selanjutnya.

Akhirnya, selain mengurusi Gereja di paroki masing-masing, ada Gereja mini yang harus selalu kita perbaharui. Di situlah tempat orangtua dan anak berkumpul: saling menghormati, menyayangi, dan mendoakan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s