Menuju Dunia Baru

Setelah hari itu, semua semakin meyakinkan saya untuk meninggalkan dunia yang selama ini memperpanjang hidup kami. Saya dan keluarga.

“Kenapa?” tanya teman saya.

“Dunia itu semakin tak tentu arah. Raja dunia itu ragu untuk meminang saya menjadi satu bagian di kerajaannya. Saya pun ragu untuk terus bertahan di situ. Enam tahun bukan waktu sebentar untuk memastikan apakah saya bisa menjadi bagian di kerajaan itu. Saya terlalu lama hanya menjadi peran pembantu yang kadang dibutuhkan kadang tidak. Begitulah, dan saya mulai jenuh..”

“Akhirnya kau akan pergi?”

“Secara perlahan. Karena apa yang saya mau ternyata belum sesuai dengan kenyataan. Ah, apa memang saya terlalu pelan dalam mengambil sikap? Apakah orang yang terlampau hati-hati jarang sukses? Saya ingat pemimpin kerajaan tetangga, ia terkenal lamban. Mungkin maksudnya hati-hati. Tapi ada yang terjadi? Ia kalah pamor dengan wakilnya yang beraksi cepat. Dan si cepat pun memperoleh simpati banyak orang.”

Teman saya tersenyum. “Karakter orang beda-beda. Percaya diri saja itu yang penting. Kau tak akan nyaman kalau harus mengikuti gaya orang lain. Hidupmu kau yang jalani. Lakukan apa yang kau yakin bisa. Orang lain kau jadikan contoh bertindak bukan sebagai saingan.”

Aku terdiam. Teman saya bisa jadi benar dan sekarang saya pun dalam kondisi berserah. Kesempatan yang datang sudah saya gunakan, kini tinggal menunggu keputusan dari pemberi kesempatan. Menunggu memang menyebalkan. Tapi, saya tak mau bersaing dengan waktu karena tahu pasti akan kalah…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s