Rindu

Suatu ketika di suatu kota besar yang hiruk-pikuk dengan berbagai kegiatan rutin, ada rasa tak rutin yang datang menyela. Ia menggeliat masuk ke dalam jadwal yang sudah terpaku pada tenggat waktu. Ia bernama rindu.

***

Ge: Nay, makan bareng yuk?

Nay: Hmm, aku bisa ketemu jam 12, tapi cuma bisa setengah jam. Setelah itu aku ada janji dengan klien.

Ge : Yah… tapi ngga apa, sayang.

(SMS selesai)

***

Aya: Beb, bisa ketemu buat makan siang?

Roi : Kita bisa ketemu jam 12, tapi jam 12.30 aku mesti antar barang.

Aya : Yah..tapi ngga apa-apa. Yang penting bisa ketemu kamu.

(SMS selesai)

***

Jam 12 tepat, Nay dan Ge bertemu di tempat makan pusat belanja itu. Entah kenapa, hari itu Ge kangen sekali dengan Nay. Maka ia putuskan untuk makan bareng Nay di luar.

“Tumben Ge, biasanya kamu males ke luar kantor,” tanya Nay. Ge tersenyum.

“Aku kangen kamu..” Nay tertawa.

“Ya sudah, dimakan dulu nasi sotonya.” Ge kemudian makan. Nay hanya minum jus stoberi.

“Janji dengan kliennya ngga bisa jam 1 siang? Kita belum cerita-cerita..” bujuk Ge. Nay menggeleng.

“Penting Ge. Aku ngga enak mundurkan waktu.” Sambil makan Ge cerita tentang pagi di kantornya.

“Bos aku tadi baik banget, bawain oleh-oleh dari Australia. Dia senang soalnya proyek kami bakal dilaksanakan, terus….” Nay memperhatikan Ge, tapi sebenarnya pikirannya sedang tidak di situ.

***

Jam 12 tepat, Roi dan Aya bertemu di kafe pusat belanja itu.

“Kamu sibuk ya?” tanya Aya ketika Roi datang.

“Begitulah, lagi banyak order buku.” Aya tersenyum.

“Kamu mau makan apa?” sambungnya. Roi menggeleng, “aku minum es coklat aja. Nanti setelah kirim order, aku makan.” Aya cemberut.

“Kamu tuh ya. Aku sudah pesan cheese burger nih,” sambungnya.

“Ngga apa-apa, aku tungguin kamu makan. Kok tumben kamu mau ketemu aku waktu makan siang? Kerjaanmu lagi ngga banyak?” Aya ketawa kecil.

“Aku tadi pagi buka email dan mendapat tawaran promo buku. Entah kenapa, aku tiba-tiba inget kamu dan kangen. Makanya dadakan mau makan siang sama kamu.” Roi tersenyum.

“Memang promo buku apa?”

“Buku tentang sejarah Kota Jogja. Kamu tahu kan aku lagi seneng baca sejarah kota. Tadi baca referensinya menarik…jadi…”

Roi memperhatikan Aya bicara, namun sebenarnya pikirannya sedang tidak di situ.

***

Jam 12.40, taksi biru berhenti tak jauh dari pusat belanja itu. Seorang laki-laki masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu sepuluh menit. Di dalamnya sudah menunggu seorang perempuan.

“Maaf ya sayang, telat. Aku mesti denger cerita Aya dulu. Kita makan di mana sekarang? Kamu belum makan kan?” ujar si laki-laki sambil memeluk.

“Belum, aku laper banget. Tadi ketemu Ge, aku cuma minum jus. Makan ikan bakar yuk?”

“Hmm, kemarin sudah ikan bakar. Sop iga aja, mau?”

“Ahh bolehh…” jawabnya sambil merekatkan pelukan.

Dan siang itu mereka juga melepas rindu. Rindu yang lain..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s