Kota yang Mahal

Katanya kota itu adalah tempat tinggal yang bisa meningkatkan kualitas hidup warganya. Tapi coba lihat kota saya, dia kini sedang ‘diguncang’ pemilik dana untuk dibangun sebanyak-banyaknya bangunan: ruko, mall, rumah, town house, toko, jalan.. tanpa ada ruang publik yang hijau, yang bisa disambangi kala penat melanda atau ingin bersenda gurau dengan teman.

Semua kebutuhan itu hanya bisa dipenuhi di pusat perbelanjaan.. ruang tertutup ber-AC dan dipenuhi gerai makanan dan kafe (yang tak murah). Jadi, sekarang kalau hanya mau bertemu teman lama harus menyediakan uang setidaknya Rp. 100.000,- (kalau mau tempatnya nyaman). Bukan jumlah yang sedikit bagi mereka yang masih jobseeker atau masih sekolah. Hanya untuk ketawa-ketiwi dan bercerita masa lalu pun harus mengeluarkan uang sebesar itu?

Coba bayangkan di tengah kota ini ada ruang hijau (semacam taman kota) yang disediakan lapangan olahraga, arena bermain, tempat-tempat duduk, dan ruang jajan. Mungkin hanya butuh uang Rp. 10.000,- untuk beli minuman dan makanan ringan. Kangen dengan teman terlunasi dan tempat nyaman pun terpenuhi. Tapi…apa mungkin ini terjadi?

Kalau kota yang seperti ini hanya ada di angan saja, sepertinya saya harus beranjak dari lamunan ini.

Dan menghadapi realitas: kota yang mahal..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s