Angkringan Cinta

Sabtu malam, Depok habis hujan. Ah, waktu yang tepat untuk rencana yang sudah ia susun sejak Jumat: makan nasi kucing di angkringan. Pilihannya di Sawangan, Depok. Kedai yang buka seusai maghrib dan tutup pukul 12 malam itu dapat dicapai kira-kira 30 menit dari pusat kota dengan angkutan kota. Ah, itu kalau tak macet. Depok tak mau kalah dengan macetnya Jakarta. Jadi untuk makan nasi kucing seharga 3,000 rupiah, Anda harus menempuh waktu sekitar satu jam (!)

Gerobak angkringan dengan aneka pililhan nasi dan lauk telah tersedia. Nasi kucingnya ada tiga pilihan, dengan teri, usus pedas, dan orek tempe yang kemasannya dibungkus dengan daun pisang serta kertas coklat. Untuk lauk saya bagi menjadi dua jenis, berprotein nabati dan hewani. Untuk nabati tersedia tahu tepung dan mendoan. Sedangkan hewani lebih banyak jumlahnya. Ada burung puyuh, ayam, sate telur puyuh, sate kulit, sate usus, sate ati ampela, dan sate bakso. Jenis-jenis ini sudah dibumbu bacem, jadi Anda tinggal pilih dan akan dibakar oleh si mas penjual. Oh ya, penjualnya ada tiga orang laki-laki dan semuanya masih muda. Sekitar usia 20-an. Untuk memanggang lauk atau memasak air, mereka tetap menggunakan anglo, perapian kecil dengan arang sebagai bahan bakarnya.

Malam itu ia cukup lapar. Jadilah tiga bungkus nasi kucing dan tiga sate. Saya cukup satu nasi kucing dan dua sate. Minumnya? Selain air kemasan, kami pesan menu andalan: wedang ronde pakai susu. Isi minuman ini tak banyak, hanya kacang, kolang-kaling, dan adonan bulat dari bahan tepung ketan yang berisi kacang tanah. Tapi begitu tercampur dengan air jahe, serai, dan susu…mantap! Berbagai pilihan sate di sini rata-rata harganya Rp. 2,000; sedangkan burung puyuh Rp. 9,000. Untuk minuman macam wedang ronde mereka jual Rp. 5,000.

Dengan ke-khas-an kedai nasi kucing, kami duduk di tikar dengan tenda terpal. Karena berlokasi di halaman ruko dan tepat di tepi jalan utama, kedai ini cukup sering disambangi orang. Ada keluarga, kelompok pemuda, bahkan pasangan. Meskipun menurut http://www.sahabatjogja.com/nasi-kucing-jogja-angkringan-lik-man/ makan nasi kucing kurang dari tiga orang tak afdol, tapi malam itu tak kami saja kok yang datang ke angkringan hanya berdua, he-he.

Setelah puas cerita dan tentu saja makanan dan minuman tandas, kami pun beranjak pulang. Ketika hendak membayar, salah seorang penjaja mencari catatan bon.

“Meja mana, mbak?”tanyanya.

“Yang itu,” jawab saya menunjuk meja paling pinggir.

“Yang mana ya?” sambungnya sambil bolak-balik beberapa bon. Salah satunya temannya yang sedang menuang air ke gelas kemudian menyahut.

“Yang ada tulisanya ‘lope’-nya.”

“Apa itu ‘lope’?” tanya saya sembari mendekati si mas yang memegang bon. Si mas yang bilang ‘lope’ hanya tersenyum.

Dan itu dia bon-nya. Pada kertas yang berisi daftar menu, harga satuan, dan jumlah, di bagian paling bawah ditulis: LOVE.

Rp. 33,500 untuk LOVE malam itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s