Si Ibu Gemuk

Sekitar pukul 7 malam tadi, saya menghentikan sebuah angkutan biru untuk menyambangi tempat fotokopi. Di dalam angkutan itu hanya ada dua perempuan. Yang satu bertubuh gemuk dengan rambut diikat. Yang satu lagi bertubuh kurus dengan rambut terurai sebahu. Si ibu gemuk cerita soal anak dan suaminya pada si ibu kurus. “Anak tiga sekarang udah sekolah semua. Saya tanya ke suami, kamu punya uang ngga untuk nyekolahin?” Si ibu kurus menimpali, “Iya, hari gini sekolah kan mahal.” “Makanya, saya tanya ke bapaknya mampu ngga? Anaknya mau sekolah tinggi, tapi bapaknya ngga bisa biayain, ya susah!”

Saya sebenarnya tak ingin mendengar, tapi suara mereka keras dan membuat saya terpaksa harus mendengar. Dengan wajah murung si ibu gemuk bicara lagi.

Biarin aja saya ngomong gitu. Habis kerjaannya mancing terus.” sambung si ibu kurus, “emang suka mancing di mana?” “di UI,” jawabnya. UI yang dimaksud Universitas Indonesia. Memang di situ ada beberapa danau yang bisa dimanfaatkan warga untuk memancing ikan. Si ibu gemuk cerita kalau suaminya itu mulai mancing sejak pagi hingga sore hari dan tanpa bayar. Setiap kali mancing segala persiapan suami lakukan sendiri, termasuk membawa makanan dan kopi.

Setelah itu si ibu kurus mulai cerita sedikit soal anaknya. Si ibu gemuk mendengarkan sementara tangannya mengambil uang dari dompet. Tak berapa lama si ibu kurus selesai cerita, ia mengucap, “Bang, bang, BCA.” Namun, supir angkutan tak dengar hingga akhirnya terlewat tujuan si ibu gemuk. “Yah, bang, kalo nyupir tuh jangan ngebut-ngebut. Kan saya udah bilang dari tadi.” Lagi-lagi si ibu gemuk mengomel. Ia kemudian turun lalu membayar. “Ini sekalian ya!” katanya pada si ibu kurus.” “Oh, ini ada bude.” “Ngga apa-apa, sekalian aja. ” Si ibu kurus kemudian mengucapkan terima kasih.

“Itu suaminya masih muda banget. Sama saya tua-an saya,” kata si ibu kurus pada saya ketika angkutan sudah berjalan. Saat itu kami tinggal berdua di tempat duduk belakang supir. Saya hanya tersenyum. “Yah gimana habis masih muda, saya kenal banget sama suaminya..” sambungnya. Saya tak menimpali karena harus turun.

Ah, bukankah seharusnya masih muda justru harus lebih kuat bekerja? Lalu buat apa menikah kalau akhirnya enggan bekerja? Apakah memancing menjadi salah satu pelarian suami karena istrinya marah-marah terus? Atau….

Ah, sudahlah.

Beji, 15 Juni 2011

Advertisements

2 thoughts on “Si Ibu Gemuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s