Tuhan Bukan Restoran

Pernahkah kau rasa bahwa doamu tak didengar Tuhan?

Ketika sesuatu yang kau anggap perlu, butuh, mendesak, tak jua hadir di hadapan. Bukankah Ia mengajak kita yang letih lesu serta berbeban berat untuk menghadapNya dan kita akan mendapat kelegaan? Namun, mengapa doa sepertinya belum juga terkabul?

Seorang bijak berkata, “Meminta pada Tuhan bukan seperti pesan makanan di restoran. Kau pesan ayam goreng, akan keluar ayam goreng. Kau pesan jus buah, akan keluar jus buah. Jadi, kau pun tak bisa marah-marah ketika apa yang terpesan tak keluar sama persis seperti yang kau mau. Atau pesanan terlalu lama datang.”

“Pada Tuhan kau bisa memohon, namun bukan berarti mendesakNya terus sehingga secepat kilat apa yang kau pinta terhidang di depan mata. Tuhan bukan tempat pesan makan cepat saji. Kau perlu melatih diri untuk sensitif pada petunjukNya. Tak jarang apa yang terjadi bukan yang kau pinta, namun itu tepat buatmu.”

“Karena Ia maha apa pun, biarkan jalan hidupmu, Ia yang pilihkan. Percayalah, itu akan selalu baik, meski kerap butuh waktu untuk menanti dan kenyataan jauh dari harapan. Kau pun harus terus berusaha mencari jalan melalui bisikanNya. Berdoa.”

Beji, 11 Agustus 2011

Advertisements

One thought on “Tuhan Bukan Restoran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s