Mata

Dari mata itu menetes air yang berasal dari kebimbangan hati, kejenuhan, kelelahan. Ia hanya ingin mencari ruang untuknya bekerja. Ternyata itu tak semulus seperti yang ada di benaknya. Janji-janji yang ia pernah terima tiada nyata. Dan menunggu menjadi teman kesehariannya. Sungguh, itu lebih menyakitkan daripada sepi.

Dari mata itu menetes air yang berasal dari harapan jiwa, keinginan untuk terus mencukupi kehidupan mereka. Makan harus ada rupiah, bila tidak, dunianya kiamat. Tapi, ia kembali harus menunggu sembari menonton dunia orang yang tampak normal: kerja, punya gaji.

Dari matanya menetes air yang berasal dari tangisan anaknya: Bu, makan bu, aku lapar! Tapi tak sepeser pun ia punya. Dengan terpaksa ia harus ke tetangga, pinjam uang. Kali ini berhasil. Entah besok.

Dari matanya menetes air yang berasal dari kebencian pada pasangan sehidup-semati. Ya, dulu ia berjanji akan mencintai seumur hidup di depan pemuka agama dan keluarga. Dan hari itu, beberapa bulan lalu, ia yang dicintai berkhianat. Bersama seorang anak balita, ia pun ditinggalkan dalam rumah mungil ini. Tiba-tiba garis takdirnya berubah. Profesi ibu rumah tangga menjadi amat buruk karena tak menghasilkan apa-apa. Saat itulah ia merasa jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Tanpa seorang penolong!

Dari mata itu masih terus menetes air yang entah kapan akan mengering. Di kamarnya, genangan air itu semakin meninggi.

8 sept 2011
Terinspirasi dari macam-macam pengalaman&SGA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s