Rahasia

“Kamu bantu mengajar di mata kuliah perancangan ya..” ajak sekretaris jurusan itu yang dulu adalah senior saya, Jumat pagi lalu. Saya sempat terdiam tapi sedetik kemudian menjawab iya. Bingung karena tugas ini begitu mendadak meski saya pernah mengajukan lamaran sebagai tenaga pengajar di kampus ini. Ah, itu pun diminta oleh teman yang bekerja sebagai dosen. Di dalam benak saya tak pernah sedikit pun mau mengajar. Kenapa? Tidak percaya diri. Tidak merasa jenius seperti profesor yang menjadi pembimbing saya ketika mengambil strata dua.

Sekitar dua tahun lalu, pastor di gereja meminta saya untuk mengajar di salah satu kelas persiapan penguatan iman.  Itu saja sudah membuat saya gugup bukan main. Selama seminggu saya belajar tak henti karena harus menguasai materi, sehingga bila ada peserta yang bertanya dapat terjawab. Pengajaran saat itu menurut saya berjalan kurang aktif sebab peserta tak ada yang bertanya. Bisa jadi mereka malu atau ajaran saya kurang oke. Entah. Tapi sejak itu saya tidak mau mengajar lagi.

Hingga Agustus 2011, dua teman yang telah menjadi dosen bertanya apa saya sudah mengajar untuk semester selanjutnya. Saya jawab tak tahu karena memang belum ada panggilan. “Ngga diterima kali,” sambung saya. Namun sejak Jumat itulah hidup saya berubah. Berbaur bersama dosen-dosen senior yang dulu menjadi pengajar saya (ini cukup aneh rasanya), bertatap muka dengan mahasiswa, mendengar presentasi tugas, mengedarkan absensi. Ohya, ada pula beberapa mahasiswi yang ketika bertemu mencium tangan saya. Eh, ini sungguh di luar dugaan!

Ketika akhirnya menjadi pengajar saya pun terus belajar dan menyegarkan teori-teori yang pernah didapat. Sambil mengingat metode belajar para dosen yang pernah saya terima. Mahasiswa itu cenderung suka ‘ngantuk kalau mendengar ceramah. Jadi ingat profesor pembimbing saya yang dulu mengajar dengan unik. Ia menugaskan kami membaca buku dan kemudian mendiskusikannya di minggu depan. Bila kami tak baca, sudah pasti tidak akan ‘nyambung dengan topik kelas saat itu. Akibatnya kalau ditanya olehnya cuma bisa ‘mesem-mesem’ dan ditanggung nilai minus!

Setelah tamat kuliah, saya membaca novel filsafat ‘Dunia Sophie’ karangan Jostein Gaarder. Di halaman 83 ada sub bab tentang ‘Seni Berdiskusi’ ala Socrates:

“Hakikat dari seni Socrates terletak dalam fakta bahwa dia tidak ingin menggurui orang. Sebaliknya dia memberi kesan sebagai seseorang yang selalu ingin belajar dari orang-orang yang diajaknya berbicara. Jadi bukannya memberi kuliah seperti layaknya seorang guru tradisional, dia mengajak berdiskusi.”

Aha! Model ini persis yang dilakukan sang profesor. Meski mengajak diskusi orang lain bukan hal yang mudah -apalagi yang diajak diskusi tidak menguasai topik- namun cara ini sepantasnya saya coba!

“Kenapa kamu mau jadi dosen? Gajinya kecil!” demikian pernyataan seorang pengajar ketika kami mengobrol soal pekerjaan. Saya tersenyum mendengarnya sekaligus bertanya dalam hati, lalu kenapa bapak bertahan menjadi dosen hingga sekarang? Puluhan tahun! Rahasia itu yang belum saya temukan. Namun, menurut saya menjadi pengajar itu ajaib. Ia bisa membuat muridnya tahu, pintar, dan akhirnya menjadi kaya. Sedangkan si pengajar? Bisa saja ia tetap hidup sederhana dan kalah kaya dengan muridnya…

Ya, kalau sudah tahu kunci rahasia itu, saya akan bocorkan pada Anda!

Beji, 14 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s