Malaikat Buat Tea

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1)

Sore itu aku mendengar Tea bercerita di sebuah kedai. Kami duduk dekat jendela dan ditemani kentang goreng dan teh lemon hangat. Ini pilihan yang tepat karena sore itu hujan turun deras. “Terkadang aku masih belum percaya dengan cinta,” ia membuka pembicaraan. “Kok bisa?” tanyaku. Ia mengambil sebatang kentang lalu mencocolnya dengan sambal botolan. “Menurutmu apa ada malaikat berwujud manusia di zaman edan ini, Mei?” tanyanya balik sambil mengunyah. Aku tertawa lalu menyambung, “aku percaya ada. Aku punya ibu yang baik hati.” Ia melengos. “Maksudku bukan itu. Laki-laki. Oke, aku ralat, malaikat berwujud laki-laki.” Aku tersenyum, “Ada, bapakku.” Tea cemberut, tak puas dengan jawabanku.

“Kekasih kamu? Ia bukan malaikat?” tanya Tea. “Ah, aku tahu kok arah pembicaraanmu.” Aku berhenti kemudian menghirup teh lemonku. “Malaikat itu baik hati. Ia rela berkorban demi orang-orang yang dikasihinya. Ia memaafkan tiap kesalahan yang ada. Ia penyabar. Ia selalu mengingatkan jika orang itu sedang lupa daratan. Dan kekasihku? Ia tidak sempurna, tapi aku merasa nyaman bersamanya. Setidaknya, ia tak mengangguku yang sedang ngobrol bersama kamu sore ini.”

Tea tertawa lalu menyambung, “Aku sedang dekat dengan laki-laki, tapi aku belum berani untuk serius. Kamu tahu lah, pengalaman sebelumnya buatku trauma.” Kali ini suaranya mengecil. Aku menghembuskan nafas perlahan. Sejenak memoriku kembali pada kisahnya dua tahun lalu. Kekasihnya dulu suka memukul saat marah. Meski demikian, entah karena cinta buta, Tea masih saja mempertahankan hubungannya. Hingga akhirnya, ibunya memaksa Tea memutuskan hubungan atau kekasihnya itu akan dilaporkan ke polisi. Dan Tea memilih yang pertama.

“Aku tahu malaikat itu ada, tapi mungkin hanya beberapa dari ribuan laki-laki di dunia,” sambungnya lirih. Aku tersenyum, lalu memegang tangannya, “Kalau kamu belum siap, tidak apa. Jalani saja dulu pelan-pelan. Dia temanmu?” Tea mengangguk. “Ya, berteman dulu. Kamu bisa juga cari informasi tentang dia dari teman-temannya. Tapi yang pasti, ikuti kata hati. Kalau memang belum saatnya, jangan dipaksa.”

“semua akan ada masanya, Tea. Masa sedihmu sudah lewat, kamu akan mendapatkan masa bahagia.”

Beji, 11 maret 2012

setelah berbincang, membaca makalah dan artikel soal perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s