Jerat

Apa yang kutanam, akan kutuai. Demikian pun sakit ini. Sakit yang kata orang adalah kutukan kini menyerang tubuhku sedikit demi sedikit. Mulanya aku tak percaya, Tuhan mungkin hanya sedang bercanda. Tapi, nyatanya tidak demikian. Ia kian merasuk ke sel-sel darah yang aku baru rasakan sepuluh tahun kemudian.

Mulanya aku salahkan orangtua. Bukankah mereka yang seharusnya melindungi aku selama ini dari lingkaran setan di dunia? Ke mana mereka ketika aku kesepian? Hanya mencari uang dengan dalih supaya keluarga kami bisa makan.

Aku juga salahkan saudara kandungku yang tak mau tahu tentang cerita-ceritaku. Meski tak berprestasi, tapi aku tetap punya kisah menarik saat sekolah. Di mana mereka saat aku butuh pendengar?

Ah, hanya teman-teman yang aku punya. Mereka memberikanku ketenangan jiwa raga. Kesakitan-kesakitan sejenak yang kemudian membawaku pada suasana nyaman. Tak perlu ada marah, duka. Hanya tenang, itu saja.

Apa daya, ketenangan itu yang membawaku ke dalam derita panjang ini. Pada akhirnya, yang salah bukan siapa-siapa, tapi diri sendiri. Aku pun kembali ke pelukan orangtua dan saudara-saudara kandung yang dulu aku hakimi. Indahnya, mereka masih menerima aku apa adanya. Merawatku dalam perjalanan waktu yang rasanya makin dekat menuju selesai.

Bila keadaan ini yang harus kutuai, aku masih bersyukur masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Menyapa kembali keluargaku, bertemu Tuhan setiap waktu, dan tetap menebar mimpi tentang kesuksesan hidup.

Meski hidupku tinggal sepenggal…

 

8 April 2012

Buat seorang teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s