Sunyi yang Abadi

Ia bernama sunyi. Tiap aku ajak bicara, ia hanya tersenyum, mengangguk, tak bicara. Seperti enggan berkomunikasi denganku. Namun, aku terus mengajaknya bicara, “Bagaimana cara mengambil foto yang baik?” Topik yang mudah-mudahan membuatnya tertarik. Ia yang sedari tadi memang sedang memotret perlahan melepaskan mata dari bidik kameranya, lalu menatapku. “Diam, rasakan suasana, biarkan jiwamu mencari sendiri. Kau akan mendapat gambar yang bagus,” ujarnya dengan nada pelan tapi tegas.

Aku berpaling darinya dan mulai mencari obyek foto. Langit, pepohonan, orang berjalan, ah, kenapa tampak biasa saja? “Rasakan suasana,” ujarmu lagi ketika melihat gambar-gambarku. Ia kemudian memperlihatkan hasil potretnya. “Seorang anak yang sedang digendong ibunya ini tampak tenang sekali, ya. Walau ibunya sedang mengemis,” komentarku pada sebuah foto. Ia tersenyum. Sambungnya, “tiap orang bisa memotret, kamu juga.” Tak lama ia kembali diam, berjalan menyusuri jalur pedestrian yang tak rata dan kembali memotret.

Ia bernama sunyi dan di balik kesunyian dunianya ia bicara banyak lewat foto-fotonya. Bercerita soal kemanusiaan, keindahan manusia, rintik hujan, atau keruwetan kota. Sering aku hendak menanyakan tentang isi hatinya. Bukan tentang teori fotografi, tapi tentang rasa cinta, rindu. Tapi sayang rasanya menganggu ia dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu. Bukankah memang lebih menyenangkan melihatnya memotret kehidupan?

Mungkin itulah rasa cinta ia, rindu ia: mengabadikan dunia.

16 juni 2012
5:57

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s