67

Tujuh belas Agustus tahun ini sepi. Karena bersamaan dengan bulan puasa, lomba-lomba di lingkungan rumah saya ditiadakan. Namun, semarak masih ada meski tak seheboh era orde baru, misalnya memasang lampu berkelip. Tahun ini umbul-umbul berupa bendera warna-warni dipasang tiap 5 meter di pagar rumah warga. Ketua Rukun Tetangga saya juga mengirim pesan pendek enam hari sebelum hari H:

Aslm wr.wb/selamat siang bpk/ibu wrg rt 03/04 yth dlm rngka menyambut hut RI ke 67 kami mengajak bpk/ibu untk pasang bendera merah putih di setiap rumah. terima kasih.

Saya yang baru berkeluarga tentu belum punya bendera dan tiangnya. Tukang bendera yang biasanya berjualan keliling tak pernah kami dengar suaranya dari rumah. Suami pun tak sempat mencarinya. Akhirnya saya minta tolong Ayah untuk membelikannya. “Di depan pasar biasanya ada yang jual,” kata saya. Sehari, dua hari, karena sibuk baru H-2 Ayah mendapatkannya. “Cuma beli benderanya, tiangnya ngga ada.” “Harganya berapa?” “12.500.- Biasanya sih 10.000 tapi kasihan lihat orang yang jual. Mau pulang kampung ke Cirebon.”

Kayu yang ada di rumah Ayah, akhirnya kugunakan sebagai tiang bendera. Nah, terpasanglah sudah benderaku.

Saya lirik kanan kiri tetangga saya, belum juga memasang bendera. Ah, mungkin mereka tidak mendapat pesan pendek dari Pak RT…

Beji, 17 Agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s