Sudah Waktunya, Heira

Senja hari ini indah sekali. Seharusnya. Tapi entah kenapa, di hatiku senja kali ini menyedihkan. Ia akan segera membawaku pergi pada malam dan aku enggan menuju kepadanya. Sebentar lagi Aldo akan pulang dari rumah tetangga. Aku sudah menduga ia akan berkeluh kesah. Nah, itu dia datang.

“Bu, kamu tahu anak-anak Pak Rosyid itu selalu memberi uang tiap awal bulan. Anaknya cuma tiga, tapi selalu rajin mengirim kepada bapak ibunya. Ngga kayak anak-anak kita, kalo aku ngga sakit, mungkin mereka sudah lupa padaku,” protesnya. Aku yang sedang duduk di teras rumah lalu membuang nafas kemudian menanggapi keluhannya.

“Ada lah Pak yang memberi perhatian. Ngga selalu berupa uang. Aku dapat kiriman surat dari cucu juga sudah senang..”

“Ah, kamu itu! Anak kita ada sepuluh. Kalau seorang mengirim 200 ribu saja, kita sudah lumayan bisa hidup. Ini mana? Paling cuma Resa, Fikar, Maya. Mana yang lain?”

Aku terdiam. Rasa sakit yang kerap mendera dada akhir-akhir ini membuatku enggan membalas tiap protes Aldo. Semenjak ia pensiun 10 tahun lalu, hidupnya jadi berubah. Yang dipikirnya hanya uang. Seakan ia mati kalau tak punya uang. Padahal uang pensiunnya walau tak seberapa masih bisa menghidupi kami. Toh hanya tinggal berdua.

Dulu waktu menikah dan punya anak, aku sudah berjanji pada diri sendiri, tak akan merepoti anak saat tua. Mereka sudah punya keluarga sendiri, punya kebutuhan hidup masing-masing. Dan janji itu kutepati. Aku tak pernah minta uang kepada anak-anak. Aku selalu menyisihkan sedikit uang pemberian Aldo untuk tabungan kami di hari tua.

Tapi, dasar Aldo, hobi makan kerap menghabiskan uangnya. Tak jarang ia pinjam tabunganku untuk berfoya-foya. Makan di luar kuanggap kegiatan tak berguna. Makananku apa rasanya tak enak maka ia selalu jajan di luar?

“Aduh..” Aku berbisik sambil memegang dadaku. Aldo masih saja berceloteh. Kali ini tentang kekayaan temannya, Pak Rano. “Dia itu dulu biasa saja, tapi anak-anaknya kaya. Makanya bisa punya rumah besar. Bagaimana anak-anak kita? Katanya kaya, tapi rumah orangtuanya tak pernah mereka perbaiki!”

“Ya sudah Pak. Besok aku bilang Maya kalau kamu mau minta renovasi rumah ini,” sahutku sambil memijit dada. “Ah, ngapain kita minta-minta? Mereka harusnya sadar. Apa mereka dulu minta disekolahkan pada kita? Tidak! Saya dengan rela menyekolahkan mereka, bukan karena mereka minta,” katanya dengan nada tinggi.

Aku makin tak enak mendengar protes Aldo. Bukankah memang kewajiban orangtua menyekolahkan anak-anaknya? “Aku ke kamar dulu, Pak. Capek.”

“Ah, kamu kalau aku ajak diskusi soal ini selalu pergi. Kamu terlalu memanjakan anak-anak! Ini akibatnya, mereka jadi tak peduli pada kita.”

Aku diam saja. Dadaku makin sakit, mungkin tidur bisa menyembuhkan. Di tempat tidur yang terbuat dari besi kurebahkan diri beberapa menit. Rasa sakitnya sedikit mereda. Di samping ranjang ada meja kecil. Di situ terpajang foto keluarga besar kami. Kuambil satu foto berpigura kayu itu. Kupandangi satu demi satu anak-anakku. Foto itu diambil sekitar tahun 60-an. Mereka tampak sehat walau penghasilan Aldo saat itu tak seberapa. Kuletakkan foto itu dan kuambil foto lainnya. Kali ini foto bersama anak dan cucu. Aku tersenyum. Kangen dengan Fero, Mahda, Lina, Sean. Ah, masih ada tujuh lagi cucuku. Dan mereka lucu-lucu. Oh ya, besok aku akan kirim surat kepada mereka.

Tiba-tiba dadaku kembali sakit, kali ini dengan sesak yang membuatku tak bisa bernafas. Aku ingin berteriak memanggil Aldo, tapi tak kuat. Foto tadi jatuh di atas perutku. Selanjutnya kupejamkan mata dan tiba-tiba teringat anak-anak saat bermain bersama bapaknya. Aldo tampak bahagia melihat mereka saat itu. Tapi kenapa sekarang tidak lagi, Aldo?

Ah, sudahlah. Aku lelah, capai sekali. Ingatan itu kelamaan sirna lalu berganti dengan cahaya putih. Dengan latar itu, kulihat seorang perempuan berdiri dan tersenyum padaku. Ibu! “Ibu aku kangen, Ibu. Lama tak berjumpa!” Kataku sambil berlari mendapatinya. Ia kemudian memelukku erat. Seketika ketenangan merebak di jiwaku. “Sudah waktunya, Heira. Kamu ikut aku,” ujar Ibu. Aku pun mengangguk dan mengikuti dia.

 

Beji, 6:59 PM

28 agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s