Lepas

Kamis siang itu, saya selesai memberikan pengarahan kepada mahasiswa. Lalu, saya teringat pada seorang mahasiswa yang tidak pernah masuk kelas setelah Ujian Tengah Semester. Sebut saja Rex. “Rex ke mana, ya? Tolong kabari dia tentang tugas akhir,” kata saya. 

“Hmm.. Rex sepertinya lepas, Bu,” ujar salah satu mahasiswa. “Lepas? Lepas mata kuliah saya?”

Lepas maksudnya sengaja tidak lulus mata kuliah tertentu. Alasan pada umumnya tidak bisa atur waktu. Karena malas bisa juga.

“Bukan, Bu. Lepas kuliah di sini. Katanya begitu, Bu. Ngga tahu serius atau ngga.”

Saya terdiam sejenak. Agak kaget. Lalu mengingatkan ini. “Kalian sudah bisa kuliah S1, walau lama lulusnya, usahakan lulus karena kalau tidak ijazah kalian cuma SMA. Sayang. Kalian mau kerja apa? Ya, mungkin orang tua kaya. Tapi ngga selamanya kaya.”

Mereka tersenyum mendengar saya. 

“Apalagi laki-laki. Kalian cari nafkah. Rasakan, deh nanti kalau rumah tangga,” sambung saya sambil meninggalkan mereka.

Dan saya masih tidak rela mahasiswa itu melepaskan kuliah begitu saja. Lalu terbayang orangtua-nya yang mati-matian cari uang demi anak. Membeli berbagai macam kebutuhan kuliah, benda elektronik, atau mungkin kendaraan pribadi. Ya, ini tidak patut dicontoh. Sebagai anak, menyelesaikan kuliah adalah satu bentuk penghargaan terhadap orangtua.

 

Ah, rasanya begini jadi orangtua…

10 Juni 2014

34th

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s