Sang Perekayasa Mahasiswa

pa gun

Judul Buku : gunawan tjahjono: arsitek pendidik

Penulis         : Safitri Ahmad

Penerbit      : Anugrah Sentosa

Harga           : Rp. 150.000,-

Tebal            : 336 halaman

Bagi para arsitek, mahasiswa arsitektur, pengajar ilmu arsitektur, tentu tidak asing dengan Gunawan Tjahjono. Pak Gun, demikian ia kerap disapa, adalah sosok yang disegani karena telah menjadi bagian dalam perkembangan arsitektur dan dunia pendidikan ilmu arsitektur. Safitri Ahmad adalah mahasiswa Pak Gun saat ia kuliah di Program Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia (UI). Cara mendidik Pak Gun yang berbeda dengan dosen-dosen lain, membuatnya tertarik untuk menulis buku tentang sisi lain Gunawan Tjahjono yang ia selesaikan kurang lebih 5 tahun.

Safitri membagi isi buku menjadi 27 bab yang isinya saya kelompokkan menjadi dari 4 bagian, yaitu tentang dunia pendidikan, keluarga dan kerabat, hasil karya, serta profesi.

Dunia pendidikan menceritakan tentang kebiasaan Pak Gun mengajar di kelas metode perancangan untuk S1 di UI. Berdiskusi menjadi hal penting bagi Pak Gun, untuk itu setiap mahasiswa wajib membaca buku yang sudah ia berikan. Dan ia bisa marah (walau dengan wajah tenang) saat tahu tidak ada satu pun mahasiswa yang membaca buku Gilles Deleuze: The Folds (Leipniz and the Baroque) karena mereka tidak menemukan buku tersebut. “Mahasiswa saya adalah mahasiswa yang aktif mencari, kalau tidak ada yang membawa buku, saya juga akan meninggalkan kelas ini,” ujarnya (halaman 17).

Pak Gun juga suka pada mahasiswa yang berani tampil di depan kelas memaparkan hasil analisis tugas. “Bila Anda tidak berani tampil maka Anda tidak mengambil kesempatan,” katanya pada seorang mahasiswa yang menjelaskan tentang karya dekonstruksi (halaman 17). Selain berani bicara, mahasiswa rajin dapat menjadi perhatian Pak Gun. Menurutnya pola pikir mahasiswa harus berbeda ketika mereka di sekolah menengah atas. Menjadi mahasiswa harus mampu menemukan jawaban sendiri, bukan menunggu diberi jawaban oleh dosen. Dan untuk menemukan jawaban, mahasiswa harus rajin. Salah satu mahasiswa –juga artis—rajin yang mendapat pujian dari Pak Gun adalah Nicholas Saputra. Pemeran film Ada Apa dengan Cinta, Janji Joni, dan Cinta dari Wamena suatu saat harus mengisi acara di Politeknik UI yang bertepatan dengan mata kuliah Pak Gun. Saat itu Pak Gun mempersilakan Nicholas untuk keluar lebih dahulu, namun ia menolak dan mau meneruskan kuliah hingga selesai. Tentu saja Pak Gun suka. Menurutnya nilai Nicholas juga baik –walau indeks prestasi masih di bawah 3—namun keaktifannya berbicara dan berdebat di kelas membuat ia dipandang oleh Pak Gun (halaman 103).

Kesukaannya pada mahasiswa yang aktif dan mampu membaca banyak buku ternyata didasari dari pendidikannya di Amerika. Setelah lulus dari UI, ia melanjutkan jenjang S2 ke University of California, Los Angeles (1983) lalu jenjang S3 di University of California, Berkeley (1992). Di Amerika, Pak Gun semakin sering menelusuri buku untuk menambah pengetahuan. “…kalau tidak tahu, malu…” ungkapnya. Ia juga dianggap oleh teman-temannya sebagai working library karena tahu macam-macam. “Saya hidupnya di perpustakaan setiap hari, belajar 80 jam seminggu..” katanya (halaman 64). Sebagai seorang dosen ia merasa memiliki kewajiban untuk merekayasa mahasiswa. Ia harus mampu mengubah sikap dari yang sok tahu menjadi mencatat. “Tidak mencatat maka nilai tidak ada,” tegas Pak Gun (halaman 68).

Sisi lain Pak Gun tentang keluarga dan kerabat juga diulas oleh Safitri. Pada bab 7 “Chia Yong Guan” diceritakan tentang keluarga, masa kecil Pak Gun di Medan, Sumatera Utara hingga kuliah di UI. Di bab ini terbaca betapa Pak Gun mengagumi ibunya. “…kalau ibu saya buta huruf. Belajar baca sendiri. Akhirnya bisa baca koran. Ia tidak pernah sekolah. Tapi pintar. Ibu saya cerdas. Sangat bright. Kalau ia sekolah pasti hebat” (halaman 72). Sayangnya, saat ibunya meninggal karena serangan jantung, Pak Gun tidak bisa hadir di pemakaman karena sedang ujian di Berkeley. “Ia hanya bisa ke kuburan ibunya ketika pulang ke Indonesia untuk penelitian disertasi di Kota Gede, Jawa Tengah,” ungkap Julien, istri Pak Gun (halaman 130). Kesukaannya pada buku, juga ia tularkan pada anak-anaknya. “…Kita mau buku apa saja pasti dibelikan…” kata Aji anak pertama Pak Gun. Pak Gun memiliki 3 orang anak yang bernama Ismiaji Cahyono, Puspa Cahyono, dan Ary Dananjaya. Sebagai seorang ayah, Pak Gun menerapkan disiplin pada anaknya saat sekolah dasar di Amerika. Ada waktu belajar, bermain, dan tidur. Sebelum berangkat ke Amerika, ia juga sudah memesan buku pelajaran untuk dibawa anak-anaknya. “…Supaya kita tetap belajar tentang Indonesia,” kata Aji.  Pak Gun juga tidak memaksa anak-anaknya mengikuti jejaknya sebagai arsitek. Mereka dibebaskan untuk menentukan minat masing-masing (halaman 133).

Sisi lain Pak Gun dari sudut pandang para sahabat, Emirhadi Suganda dan Sadili Somaatmadja, juga diulas. Keduanya dosen UI di jurusan arsitektur. Mereka memiliki hubungan yang erat karena satu angkatan dan jarak rumah serta kantor berdekatan. Sadili saat itu satu kantor dengan Pak Gun. Suatu ketika, kantor mereka bangkrut dan harus bubar. Lalu barang inventaris kantor dibagikan. “…Rupanya Pak Gunawan sudah mengincar buku-buku itu… saya mah VW (Volkswagen) saja,” ujar Sadili (halaman 116).

Di dalam buku ini terdapat lima karya Pak Gun yang diulas oleh Safitri. Semuanya disertai foto dan gambar-gambar kerja, seperti denah. Karya-karya tersebut diisi oleh pendapat Safitri yang memang biasa menulis di majalah arsitektur. Sedangkan pendapat dari klien, ia pisahkan dalam bab tersendiri. Pada umumnya, klien berpendapat bahwa Pak Gun memiliki konsep kuat dalam merancang. “Konsep Pak Gunawan tentang rumah tinggal agar tidak mencolok dengan lingkungan sekitarnya dipegang teguh oleh beliau,“ kata Titi A. Soenanto. Selain itu, Pak Gun selalu mewawancarai pemilik rumah tentang kegiatan dan seperti apa rumah yang diinginkan. “Pak Gun bilang, jangan mengikuti tren, sesuai yang kita mau saja, “ kata Andrina Kustiwulan.

Selain menjadi dosen dan arsitek, Pak Gun juga menjadi juri sayembara, Tim Penasihat Arsitektur Kota (TPAK) di Jakarta, peneliti, dan kini rektor Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro, Tangerang Selatan. Di masa tugasnya yang baru ini, Pak Gun mengembangkan liberal arts dan sustainable development. “Di zaman Romawi ada dua jenis manusia: liberal yang bebas dan servile yang membantu liberal mengembangkan usaha. Arsitektur, akuntansi, termasuk servile art. Lalu yang liberal ngapain? Mereka mengatur. Pandai ngomong, pandai menulis, pandai berhitung. Lalu berdebat juga pandai dengan mendahulukan moral dan menjadi orang terhormat…” kata Pak Gun. Sedangkan sustainable development juga penting. “…lulus sarjana sebagai penyelamat dunia…” sambungnya (halaman 334).

Buku ini menarik karena isinya dari berbagai sudut pandang –termasuk penulis—tentang Pak Gun. Ia juga mampu menuliskan berbagai hal tentang Pak Gun dari berbagai sisi yang mungkin kebanyakan orang belum tahu. Yang pasti, bagi mereka yang penasaran dengan isi kepala Pak Gun menjadi terbantu dengan membaca buku ini. Perjalanan hidupnya yang bisa dibilang tidak mulus bukan menjadi penghalang untuknya mengembangkan diri. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita kaum muda yang sudah mampu menikmati berbagai fasilitas untuk makin mudah mengembangkan wawasan, bukan malah menjadi pemalas.

Bagian cover buku berwarna latar putih menarik karena digambar sendiri oleh anak pertama Pak Gun, Aji. Tidak ada penjelasan di dalam buku ini mengenai makna gambar, namun saya berpendapat di tengah benang ruwet itu terdapat lorong yang seakan “masuk” ke dalam buku dan kita akan mendapatkan Pak Gun sebagai pengurai benang kusut tersebut.

Safitri detil menulis kata-kata Pak Gun dan orang-orang di sekitarnya sehingga isinya penuh dengan kutipan. Saya percaya ia terpengaruh dengan penelitian tesisnya yang menggunakan metode kualitatif yang harus menuliskan kutipan-kutipan sebagai bukti. Ini cukup berbeda dengan buku biografi kebanyakan yang menuliskan secara deskriptif data dan informasi orang yang sedang dibicarakan sehingga layak dibaca oleh para dosen, arsitek, mahasiswa arsitektur, dan mereka yang tertarik dengan arsitektur.

Meski demikian saya menemukan perbedaan gaya menulis percakapan antara halaman 62-67 dengan halaman 314-322. Pada halaman depan ia membedakan warna tulisan abu-abu untuk pertanyaannya dan warna tulisan hitam untuk jawaban Pak Gun. Namun, gaya tersebut tidak ia aplikasi kembali di halaman lainnya sehingga dapat membingungkan pembaca. Pada bab 17 “Rumah Batu” dan bab 23 “Sayembara Bangka Belitung” menurut saya “anti-klimaks” karena Safitri seperti tidak selesai bercerita. Di bab 17, pada awal bab ia memasukkan nama “Novi” namun setelahnya ia tidak bercerita lagi soal Novi. Sedangkan di bab 23 ia tidak menceritakan apakah sayembara tersebut menang atau kalah. Untuk gambar-gambar karya Pak Gun, Safitri seperti lupa menuliskan judul sehingga pembaca –yang bukan arsitek—dapat bingung memperoleh informasi bagian mana dalam gambar yang ia bahas dalam tulisan. Ada beberapa kesalahan ketik dan penggunaan kata yang tidak sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan, misalnya pada judul buku yang tidak menggunakan huruf kapital di awal kata dan penggunaan kata “Kamu” –dengan huruf kapital— yang diletakkan di tengah kalimat. Satu lagi, Safitri tidak menyertakan foto Pak Gun di dalam buku ini, sehingga bila Anda belum kenal harus googling dulu.

 

Margaret Arni

(Ibu, pekerja lepas, pernah menjadi bimbingan Pak Gun)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s