Soal Pekerjaan

“Ada dua jenis pekerjaan.

Pertama adalah pekerjaan yang kita lakukan untuk mencari nafkah… ada jenis pekerjaan lainnya, yang juga dilakukan orang untuk mencari nafkah, tetapi melalui pekerjaan ini mereka coba mengisi tiap menitnya dengan pengabdian dan cinta untuk sesama.”

Petikan kalimat di atas saya ambil dari salah satu buku Paulo Coelho “Manuskrip yang Ditemukan di Accra.” Seperti biasa, saya selalu tergelitik untuk merenung setiap membaca bukunya. Kali ini soal pekerjaan.

***

Sejak usia 13 tahun saya bercita-cita menjadi penulis. Mulailah saya mencoba menulis cerpen. Mengarang alur cerita lalu menulisnya di buku kemudian mengetik dengan mesin ketik. Setelah itu saya kirim ke salah satu majalah remaja. Tapi tidak diterima. Saya menulis kembali dan ditolak lagi.

Tapi saya tetap menulis. “Buatkan aku puisi, dong, Ar,” pinta seorang teman saat SMA. Saya buatkan. Tentu tanpa memakai nama saya. Itu buat teman laki-laki yang dia taksir.

Saya terus bercita-cita jadi penulis. Tapi, Semesta belum setuju sepertinya. Terdamparlah saya di dunia sebaliknya: menggambar. Kata-kata harus kau terjemahkan dalam bentuk gambar. Begitulah. Tapi, saya tetap menulis. Lagi-lagi puisi. Terlebih di sela kuliah yang membosankan. Satu dua puisi bisa saya hasilkan.

Dan setelah kuliah itu usai, saya yang kebingungan. Mau kerja apa? Saya pun memutuskan untuk kembali kuliah dengan memilih jurusan yang membuat saya bisa menulis. Meski bukan sastra. Bertemulah saya dengan kajian perkotaan.

Kota lebih kompleks daripada menggambar bangunan tunggal. Saya bertemu dengan teori antropologi, kesehatan masyarakat, lingkungan hidup, bahkan ekonomi. Saat itulah saya merasa Semesta mengizinkan untuk meraih cita.

Namun, saya kemudian penasaran dengan ilmu baru: jurnalistik. Salah satu cara yang saya coba: menjadi kontributor di sebuah majalah arsitektur. Sudah jadi satu tulisan tentang Stasiun Tj. Priok, majalah itu tutup. Apes!

Keinginan saya menulis feature tercapai juga saat diminta seorang Bapak di Majalah Hidup untuk menulis tentang gereja-gereja di Keuskupan Bogor, Jawa Barat. Bersama seorang teman, secara bergantian kami menulis. Honor tidak penting. Yang penting saya bisa menulis dan dibaca orang.

Hingga pada akhirnya saya merasa putus asa: bahwa jurnalistik bukan bidang yang tepat buat saya. Ini didukung dengan tidak pernah dipanggilnya saya pada majalah atau surat kabar yang saya lamar. Realitas menunjukkan akhirnya: saya menjadi penulis laporan proyek atau penelitian.

Dan itu pun (ternyata) menyenangkan. Lebih menyenangkan karena saya bisa membantu pemerintah atau menuliskan fenomena yang terjadi pada sebuah masyarakat perkotaan. Ada nilai lain –tentu disamping uang– yang bisa saya terima dalam setiap pekerjaan. Pak Coelho benar, pekerjaan pada akhirnya bukan semata soal gaji, tapi bagaimana kita melebur di dalamnya dengan penuh cinta dan bisa memberikan sesuatu pada orang lain.

Jika Anda belum merasakan itu, tenang saja. Saya butuh waktu sekitar lima belas tahun untuk menemukan pekerjaan yang bisa menyenangkan hati. Membuat jiwa bergairah. Membuat otak bekerja dengan cepat.

Tapi tunggu dulu, pekerjaan ini menjadi begitu menantang saat saya memiliki seorang anak. Membayangkan bagaimana menulis sambil mengasuh anak? Lain waktu saya cerita soal itu.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s