Cinta Rex

Aku sudah lupa pada definisi cinta menurut kamus besar Bahasa Indonesia. Tapi aku punya definisi sendiri. Cinta adalah berbagi. Aku bisa berbagi rasa senang, sedih, marah, atau apa pun kepada siapa saja. Orang lain tentu saja boleh melakukan hal yang sama. Tapi, entah kenapa teman-temanku kerap marah jika aku cerita soal kedekatanku pada perempuan-perempuan.

‘Playboy’, ‘player’, si mulut manis. Itu sapaan mereka setiap kuceritakan tentang para hawa yang sedang dekat denganku. Padahal, mereka itu sedang sedih. Putus asa. Apa aku salah menemani mereka?

“Lalu, bagaimana dengan Ve?” Tanya Bim sahabatku suatu ketika saat aku bercerita soal Lea. Lea, temanku yang sedang sedih karena ditinggal pacar. Pacar busuk! Ah ya, Ve. Dia selalu minta kejelasan hubungan kami, terpaksa aku penuhi permintaannya untuk menjadi kekasih. “Aku hanya menemani Lea. Dia sedang terpuruk.” Bim melengos seperti tidak setuju. “Hati-hati,” ujarnya lalu meninggalkanku.

***

Malam itu, Lea dan aku makan malam di sebuah kafe. Ia minta ditemani kembali dan aku menurut. Dengan alasan bertemu klien, aku pamit tidak bisa menemani Ve Sabtu malam kali itu. Ve agak marah tapi aku tahu, ia pemaaf.

Di meja kafe, sambil memainkan ujung tisu, Lea lagi-lagi hampir mau menangis saat cerita soal sakit hatinya. “Aku sayang dia, Rex. Kami sudah berencana menikah. Entah mengapa, dia pergi begitu saja tanpa kabar. Apa salahku?” Aku ingin sekali memeluknya. Namun, aku hanya mampu memegang tangannya yang halus namun tampak begitu lemah. “Semua akan baik-baik, saja Le. Kamu terlalu baik buat dia, maka biarkan dia pergi… Ada aku.” Lea menatapku dengan wajah terkejut. Aku tersenyum membalasnya. “Kamu ngga percaya?” tanyaku. Lea tersenyum. “Terima kasih, Rex,” ujarnya sambil memainkan ujung jemariku.

Usai makan malam, kami menuju ke parkir. Ketika aku hendak masuk mobil, aku melihat sepasang kekasih sedang bercumbu di remang halaman parkir. ‘Seperti tidak ada tempat lain saja,’ pikirku. Namun, aku tertegun. Aku seperti mengenal mereka. Apa aku tak salah lihat? Aku memberanikan diri mendekat. Tak kugubris Lea memanggilku. “Ve? Bim?” Mereka menghentikan cumbuan lalu bersamaan mereka menyebut namaku dengan nada terkejut. Seketika lututku lemas. “Hati-hati.” Tiba-tiba terngiang peringatan Bim padaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s