Bala Tentara

Di tengah kemacetan sore itu, di sela lagu klasik yang diputar, Tiwi, teman dari Bali bercerita. “Gue menemukan Kitab Buddha di rumah Bokap. Salah satu isinya tentang Sang Buddha yang digoda Mara saat bertapa.” Ia seorang Hindu, namun tertarik membaca kitab agama lain.

“Mara bisa dianggap iblis,” Tiwi meneruskan. “Mara menggoda: buat apa Kau bertapa? Bersenang-senanglah!”

“Lalu Buddha bagaimana?” Tanya saya. “Dia menegur Mara. Dia bilang pikiranNya sekarang tidak lagi memikirkan kesenangan.”

“Lo tahu siapa ‘bala tentara’ Mara?” Saya menggeleng. “Nafsu, rasa tidak suka, kegelisahan, rasa takut…”

“Mirip dengan kisah Yesus yang digoda di padang gurun. Ia diminta iblis menjatuhkan diri karena pasti malaikat akan menyelamatkan Dia. Hmm… menurut gue itu bentuk kesombongan jika Yesus melakukannya.” Tiwi manggut-manggut di belakang kemudi. Macet belum juga terurai.

“Dia juga disuruh mengubah batu jadi roti. Tapi kata Yesus, hidup bukan hanya dari roti,” sambung saya.

Pembicaraan ‘berat’ ini kemudian berlanjut di Whatsapp setelah kami pulang ke rumah masing-masing.

“Menurut gue, pernyataan Buddha ini sesuai dengan kondisi modern saat ini,” ketik Tiwi. Saya meng-iya-kan. Betapa hedonisme terus menjalar lalu mengikat manusia dalam pesta pora. Saya lalu memotret beberapa ayat dari Surat Rasul Paulus kepada Umat di Galatia 5: 16-25. Di situ tertulis tentang upaya manusia untuk hidup dalam roh, bukan daging.

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, … perselisihan, iri hati, amarah, … kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.”

“Iya sama kayak Buddha,” ketik Tiwi.

“Gue jadi inget waktu baca buku filsafat agama. Perasaan bebas itu ketika kita biasa saja. Tidak senang tidak sedih. Mungkin juga bisa melewati rasa sedih, takut, dengki,” sambung saya.

“Tidak boleh senang berlebihan atau sedih berlebihan,” ketik Tiwi.

“Iya.”

Advertisements

2 thoughts on “Bala Tentara

  1. Pada dasarnya semua agama mengajarkan hal yang sama ya, dan kebesaran Tuhan jugalah yang membebaskan umatnya untuk memilih melalui jalan mana akan kembali kepadaNya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s