Undangan Perkawinan

Perkawinan tentu menjadi saat yang membahagiakan. Oleh karena itu, sahabat dan teman akan diundang menghadiri perisitiwa tersebut. Namun, akhir-akhir ini saya melihat trik mengundang. Undangan dibagi menjadi tiga: khusus perayaan akad, khusus resepsi, atau keduanya.

Saat menikah tiga tahun lalu, saya memakai undangan tipe ketiga, boleh hadir di gereja dan resepsi, atau silakan pilih salah satu. Alhasil, teman suami yang Muslim pun hadir di gereja. Mereka mau tahu seperti apa perayaan nikah di gereja. Itu tidak jadi soal.

Yang kemudian menimbulkan sedikit persoalan adalah saat kita ternyata hanya diundang ke akad saja. Jadi tidak boleh datang ke resepsi? Iya! Sebab, si pengundang kerap memberikan tanda pada undangan, di mana Anda harus hadir.

Kondisi ini kemudian memicu pertanyaan: kenapa saya hanya boleh datang ke akad? Bukankah saya termasuk teman? Apakah saya orang kecil sehingga tidak diundang ke resepsi?

Tidak ada teman yang sempurna, Saudara! Undangan memang terbatas dan hak mereka memilih siapa saja yang tepat untuk hadir di pesta. “Harga makanan pesta makin mahal, tahu!” kata seorang teman.

Sakit hati? Tidak perlu. Yang kita butuhkan hanya dada yang lapang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s