Surat Buat Hujan

Hujan sayang,

Bulan-bulan ini biasanya kau bertandang ke negeriku. Namun, bulirmu hanya jatuh sedikit di tanah halaman rumahku satu minggu lalu. Memang, di beberapa bagian negeri, kau telah sudi singgah beberapa jam. Tapi tidak di tempatku. Di kota ini.

Kotaku ini sebetulnya ladang resapan air, demikian aturan yang pernah kubaca. Seharusnya saat musim kering begini, masih ada air tanah yang bisa terserap. Tapi, “air di rumah saya kering. Terpaksa minta tetangga.” Itu keluhan mereka yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Aku sendiri akhirnya menggali sumur air baru karena sumber lama telah kering.

Rasanya memang tidak menyenangkan tanpa air. Segalanya menjadi berantakan, sebab kegiatan yang berhubungan dengan mandi, mencuci, memasak menjadi terhambat.

Memang, bagian kota ini telah menjadi padat oleh solid. Ketersediaan void berupa ruang terbuka hijau, hutan kota, taman kota tergusur oleh kepentingan ekonomi. Saat kekeringan, semua baru sadar bahwa pepohonan penting!

Hujan sayang,

Aku harap, dirimu tidak berlama-lama berkunjung ke kota ini. Kulihat, rerumputan telah mengering. Dedaunan layu. Sinar matahari terlampau terik di sini. Dan kau seakan hilang ditelan kemarau ini.

Hujan, kehadiranmu amat kunanti. Kami nanti.

Salam sayang,

Manusia Pengeluh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s