Tuhan Yesus Ada di Mana?

Tadi malam pukul sembilan, saya membantu anak bersiap untuk tidur. Cuci muka, sikat gigi, ganti pakaian. Seperti biasa. Sejak usia dua setengah tahun, saya mulai memintanya meletakkan pakaian kotor di dalam ember yang letaknya di lorong menuju ruang tidur.

“Kak,tolong masukkan bajumu ke ember.”

Dia bergegas mengambil baju sekaligus celana dan berjalan menuju ember yang hanya berjarak dua meter. Namun, tiba-tiba dia melirik ke ruang pakaian kami yang gelap. Dia berbalik lagi ke tempat saya yang sedang duduk di depan pintu ruang mandi.

“Ayo, masukkan.”

Dia berjalan lagi namun belum sampai di lokasi, dia kembali ke tempat saya. Dia memang suka takut pada gelap, walau jika tidur lampu kamar pasti saya matikan.  Mungkin karena sendirian. Akhirnya saya temani dia membuka tutup ember dan dia pun segera memasukkan baju dan celana.

“Kenapa, Kak? Takut?”

“Takut,” jawabnya.

Kan ada Tuhan Yesus,” kata saya. Itu yang tiap kali saya ucapkan jika dia takut.

“Tuhan Yesus ada di mana? Di kamar?” Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang  tidak biasa.

“Di mana-mana. Di kamar, di dapur…” Belum selesai saya bicara, dia lalu meninggalkan saya dan berjalan menuju ruang tamu. Saya mengikutinya.

“Di situ?” Kata anak usia tiga tahun itu sambil menunjuk lukisan Yesus di ruang tamu.

Saya tertawa sambil menepuk dahi.

“Ya, ya, jadi Mama harus taruh lukisan Yesus di mana-mana, ya?” Tanya saya sambil mengingat bahwa gambar Yesus dan salib hanya berada di ruang tamu dan ruang tidur.

“Iya,” jawabnya polos.

(Beji, 06:49)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s