Kematian

Terdengar lantun lagu “Putih” milik Efek Rumah Kaca. Mirip nada buat tahlil, kata saya. Dia menjelaskan bahwa lagu itu tidak kunjung selesai, hingga akhirnya salah satu teman band indie dari Jakarta tersebut meninggal. Lagu ini kemudian paripurna.

“… Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga…”

Setelah dengar lagu itu, keesokan paginya mendengar berita duka dari seorang bapak yang dekat dengan keluarga saya. Setelah berjuang beberapa bulan dengan sakit stroke, ia pun usai. Ketika menengok di Facebook, seorang teman juga berduka karena kehilangan istri yang baru dua bulan bersamanya. Tidakkah itu terasa perih? Ya, saya merasakanya!

“… Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah…”

Seharusnya tidak perlu ada air mata. Seharusnya kita semua bahagia ketika salah satu anggota keluarga atau saudara atau teman dipanggil Tuhan. “Mereka kembali kepada Tuhan. Itu suka cita,” kata seorang pastor kepada saya.

“… Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian…”

Dan saya mencoba memahami itu semua. Menyiapkan diri untuk menerima kepergian mereka dari saya atau sebaliknya. Meninggalkan mereka menuju-Nya.

 

(Beji, ketika gerimis)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s