Pusat Belanja yang Hampir Mati

Baru kali ini saya melihat sebuah pusat belanja yang sepi. Jumat sore tentu saat yang tepat untuk jalan-jalan cuci mata, temu janji dengan teman atau pacar, atau membeli kebutuhan bekerja. Tapi, di pusat belanja ini saya seperti berada di tempat yang mau mati. Pada masanya, tempat tersebut memang menjadi tujuan utama warga karena masih sedikit pesaing di sepanjang jalan utama kota. Kini, ia seperti sedang terseok-seok mengejar ketinggalan.

Untuk orang yang tidak suka keramaian pusat belanja seperti saya –orang yang aneh!– pusat belanja ini jadi favorit. Tapi begitu masuk di gerai dan melihat wajah sedih pramuniaga, saya jadi ikut sedih. Bisa Anda bayangkan, di ruang seluas hmm… sekitar 200 meter persegi hanya berisi tiang penggantung baju, lemari pajang, dan pramuniaga. Pembeli dapat dihitung dengan jari. Tidakkah itu memilukan?

Berhubung saya tidak sedang ingin beli pakaian, jadi dengan terpaksa saya abaikan wajah-wajah lesu mereka. Wajah yang memancarkan kegetiran. Namun, tangan mereka terus merapikan tumpukan pakaian atau menyapa, “Silakan…”

Kalau kata ibu saya, “Yang penting usaha dulu…”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s