Tentang Kebersamaan

Musik pembuka sinema menghentak.

Lihatlah Para Insan
Yang Berhati Penuh Cinta dan Rindu
Sejenak Kemudian Saling Benci
Keangkuhan Datang

Bisakah Kau Bayangkan
Anak Dara Menari
Diiringi Penyair Cinta

Memori sesaat memutar cerita lama tentang kebersamaan. Tawa riuh di lorong menunggu pengajar atau hasil ajar. Wajah-wajah muda belum terkontaminasi debu kefanatikan. Atau perihal tengik lainnya.

Asmara yang Membara
Kan Dahaga di Kegersangan Rindu
Laksana Ku yang Ratu
Kau yang Raja
Terbaring Lupa Terbangun

Potongan gambar lama pada layar menceritakan persahabatan kekal. Apakah memang ada? Jika ada, kuhaturkan puji-pujian dan sorak-sorai sebab pada hari ini, aku tidak punya siapa-siapa. Mereka pada waktunya telah pergi. Penggantinya meski hanya beberapa jiwa, namun telah memulihkan rasa sepi selama ini.

Demikianlah Hidup
Selalu Membimbing Manis
Tapi Terkadang Terluka

Pandanganku mengabur. Ada yang tidak sanggup kutahan. Pada saatnya ia tumpah, biar saja. Toh ruang gelap ini tetap bisu ketika melihatku terpaku dalam jilatan memori yang bergantian menampilkan peristiwa-peristiwa tanpa kuminta. Yang kusadari, bahwa dalam perjalanan waktu memang harus ada yang bertahan atau pergi.

Jika mereka yang kau harapkan bertahan akhirnya pergi, mungkin akan hadir utusan (-utusan) lain untuk menemanimu.

 

(Syair lagu ‘Demikianlah’ oleh Melly Goeslaw)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s