Bunga Tidur #1

Suatu waktu, seorang laki-laki dari masa dua belas tahun lalu muncul membawa kain putih. Matanya dalam menatap mata yang ada di depannya. Di depannya seorang perempuan juga sedang menatapnya. Dengan mata menyipit, ia bertanya, “Kamu siapa?”

Ia tidak segera menjawab. Hanya menyerahkan kain warna putih tadi ke tangan perempuan itu. Perempuan itu menolak. “Kamu siapa? Ia lalu berpaling, “saya tidak kenal!” Suaranya terdengar gemetar.

Laki-laki bertubuh tinggi namun agak bongkok itu kemudian menjawab, “Kamu tidak mungkin lupa saya. Kenangan ini saya mau berikan kepada kamu, pemiliknya. Saya menemukannya di sudut hati. Masih terbungkus rapi.” Perempuan itu tiba-tiba tersedu. Ia kembali menatap laki-laki itu. “Kenapa kamu tinggalkan saya ketika saya masih butuh kamu? Kenapa?!”

Ia lalu menunduk. Ia tahu, perempuan di depannya tidak mungkin lupa, meski ia bagai alien datang dari luar angkasa membawa kado. “Saya hanya mau mengembalikan. Ini membuat saya terus merasa bersalah padamu. Maafkan jika saya sudah menyakiti.”

Perempuan itu menghapus air mata yang entah kenapa tidak juga kering. Ada rasa marah yang kembali meletup, tapi juga rindu. Dua belas tahun lalu,ia ditinggal pergi setelah laki-laki itu memutuskan hubungan yang sebetulnya masih ia inginkan. Lalu, sekarang ia datang tanpa diundang dan membawa buah tangan yang ingin sekali ia buang.

“Saya tidak mau ini!” Perempuan itu kemudian mengambil kain putih itu lalu melemparkan ke sebuah sungai kecil di dekat mereka berdiri. Ia menyambung, “silakan kamu pergi.”

Laki-laki itu masih menunduk lalu perlahan menatap perempuan yang pernah dikasihinya. “Semua butuh waktu untuk memaafkan. Berdamai. Saya juga butuh waktu untuk memberanikan diri datang dan minta ampun darimu atas kesalahan.” Ia menarik napas, “jika masa lalu memang harus pergi, saya akan pergi sekarang. Toh, kamu akhirnya sudah membuang segalanya.” Ia terdiam sejenak lalu meneruskan bicara, “jadi, apakah saya dimaafkan sekarang?”

Perempuan itu tetap menatap laki-laki yang pernah ia harapkan menjadi penyelamat hidup. Ingin sekali menyentuhnya, tapi ia tahu, itu melewati batas. Mereka sama-sama paham bahwa telah ada penyelamat hidup yang sesungguhnya di masing-masing sisi mereka.

“Saya sudah memaafkan kamu sejak kamu pergi. Saya sempat berharap untuk bertemu kamu. Tapi kesempatan itu baru hadir sekarang, ketika saya sudah melupakan segalanya.”

Jeda.

“Silakan pergi. Terima kasih sudah menemui saya.”

Dua pundak yang tadinya berhadapan kini saling membelakangi. Tanpa lagi menoleh, mereka meneruskan jalannya masing-masing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s