Aku Cinta Kau yang Kemarin

Aku cinta kau yang kemarin:

Ketika tulisanmu tentang teori, bukan berisi caci atau maki kepada negeri; pun kepada politisi. 

Ketika tulisanmu tentang cara baik hidup di kota, bukan cuma kritik keras buat pemerintah kota yang lalai kepada warga.

Ketika tulisanmu menggerakkan hati untuk berdamai dengan kondisi, percaya bahwa realitas adalah teman terbaik di hari ini.

Ketika tulisanmu tentang mempercayai bahwa kehangatan hati akan melumerkan keangkuhan penguasa.

Ketika tulisanmu tentang bagaimana menjadi teman yang baik dari seorang musuh.

Aku terus membaca kalimat-kalimat hujatan tanpa henti setiap hari. Mungkin hingga bulan kedua tahun depan. Aku semakin mengerti bahwa di luar sana, banyak orang yang kau kira teman ternyata hanya kabut. Kau lihat fisiknya namun saat disentuh hilang. Di luar sana tidak ada teman abadi. Karena yang abadi cuma ilusi.

Aku terus memungut setiap sampah kata yang mengotori pandanganku. Kupilah. Yang buruk kubakar dalam kotak penghilang ingatan. Yang masih bisa didaur ulang, kusimpan dalam memori. Suatu waktu, mungkin aku bisa cerita ke anak-anak penerus bangsa, bahwa menulis haruslah mendamaikan. Bukan untuk menyakiti.

Dalam diam di sini aku hanya bisa menulis: aku cinta kau yang kemarin.

Advertisements

2 thoughts on “Aku Cinta Kau yang Kemarin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s