Cemburu

Apa yang kau pikirkan tentang pernikahan berusia tiga puluh tujuh tahun? Kemakmuran? Keromantisan? Ketakjuban?

Ketika melihat perpisahan pasangan-pasangan di luar sana, saya merasa bahagia melihat mereka yang masih saling setia menjaga janji bersama sehidup semati. Tapi, saya geli juga ketika melihat bahwa pasangan yang sudah menikah puluhan tahun terjebak dalam rasa cemburu. Cemburu melihat pasangannya punya teman baru, cemburu punya ponsel baru, cemburu punya kegiatan baru di luar rumah.

Saya pernah juga mengalami perasaan cemburu. Dulu, waktu masih terlibat dalam hubungan tidak mengikat. Belum terikat saja sudah cemburu, apalagi terikat? Hehe. Sekarang baru bisa tertawa, karena memang bodoh memiliki rasa cemburu. Cemburu berasal dari kegelisahan diri terhadap pasangan dan mengira ia akan ‘kabur’ dari saya dan berpindah ke lain hati. Sebabnya, hanya karena saya tahu ia pernah memiliki perasaan indah dengan orang lain. Padahal, wajar saja bukan jika setiap orang punya masa lalu? Dan ketika ia sudah menjalin hubungan yang lebih baik bahkan memilih diri saya menjadi pasangan seumur hidup, apa masih perlu rasa cemburu?

Pada setiap misa perkawinan di Gereja Katolik, hampir semua pasangan memakai Kitab 1 Korintus 13: 4-7. Begini petikannya:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Berat bukan memiliki kasih? Coba dibaca perlahan, ada satu kalimat bagus di situ: “(kasih) tidak cemburu.” Kalimat bagus yang susah sekali diwujudkan kalau kita tidak percaya pada kasih milik pasangan. Kalimat ini bertentangan dengan pandangan orang bahwa ‘Cemburu artinya cinta.’ “Bah, Mana ada cinta tapi cemburu?!” Mungkin begitu kira-kira kata Rasul Paulus jika mendengar celoteh tersebut. Saya jadi tertawa sendiri. Iya, mana ada cinta tapi cemburu?

Setelah membaca buku tentang bagaimana memahami orang lain dan diri sendiri, saya mencoba mengikis rasa cemburu. Saya perhatikan perilaku pasangan, jika ia terus berkorban untuk dirimu, buat apa takut kehilangan? Atau jika memang ingin tahu tentang seseorang, kenapa tidak tanya langsung? Apalagi kepada pasangan yang sudah hidup serumah selama puluhan tahun. Apakah semakin lama bersama, malahan menimbulkan rasa sungkan?

Saya harap kejadian-kejadian di sekitar saya hanya ketidaksadaran orang yang ‘lupa sesaat’ tentang janji. Cemburu menyebabkan mereka lupa juga memeriksa diri, “Apa yang salah dengan diri saya?” Jika kau percaya pada pasangan, tentu pertanyaan Seno Gumira Ajidarma ini mampu kau jawab:

“Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?”

(Pagi mendung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s