Ketika Pembicaraan Masih Mengasyikkan

Kita bisa memulai pembicaraan kapan dan tentang apa saja. Apa tajuk yang sedang hangat? Kota sehat, misalnya. “Warga jika sakit mau kerja apa? Kota jadi tidak produktif!” Kau mulai mengeluarkan pendapat. “Jadi, apa saja indikator kota sehat?” Yang lain menimpali. Kemudian terjadi diskusi menarik: dari mulai jajanan enak yang ternyata tidak sehat hingga polusi dari kemacetan kota yang bisa menyebabkan kesakitan pada warga.

Masa lainnya, tajuk hangat tentang kemiskinan kota.Selanjutnya tentang kota yang kreatif; kota cerdas; kota tanggap bencana. Gagasan-gagasan menarik terus terlempar ke udara memberikan pencerahan bagi mereka yang berada di ruang maya itu.

Sampai pada satu masa, pembicaraan menjadi tidak lagi mengasyikkan. Sedikit demi sedikit gagasan luntur ditelan ego. Amarah kemudian menjalar di sela ruang dan hati yang ada di dalamnya. Pembicaraan tidak lagi berdasar ilmu pengetahuan. Masing-masing personal sibuk menjabarkan paham yang belum tentu bisa diterima satu sama lain.

Hingga pada akhirnya saya menyingkir dari keriuhan itu. Mengambil secangkir teh hangat dan memandang langit mendung pagi itu. Berharap segalanya kembali pada masa ketika pembicaraan masih mengasyikkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s