Hadiah Ulang Tahun

Pada suatu masa, ketegaran hatimu akan diuji oleh orang-orang di sekitarmu: mereka yang kau sayangi, kau cintai, kau rindukan. Cerita-cerita yang bagimu mengasyikkan bisa saja dicela oleh mereka. Kau dianggap salah. Seratus persen salah; yang bisa jadi kau dianggap bodoh.

Oh, Tuhan, apa salah saya?

Kau mungkin akan berpikir demikian. Sebab, kau kira orang-orang tersebut akan selalu berada di pihakmu. Mendukung setiap laku dan keputusan. Oh, tidak, Sayang… Setiap orang bisa dan boleh berubah. Kau yang harus adaptif!

Setelah resah menggeluti hati, kau boleh menentukan sikap. Hendak meninggalkan mereka atau berpikir positif: suatu saat mereka tidak akan berbuat seperti itu lagi.

 

(Thanks to Echa).

Tetap Berbuat Baik

“Riuh sekali di luar sana,” ujarku suatu sore di sebuah kedai kopi. Kau tersenyum, “tidak mau ikut serta? Supaya tambah riuh,” katamu. Aku tertawa lebar, “ikut sinting aku nanti!”

Aku kemudian bercerita, “akibat kondisi politik di negara ini, aku merasa kehilangan banyak teman. Mereka jadi berbeda. Atau aku yang berubah juga?”

“Ya, banyak juga yang merasa begitu. Padahal tahu sendiri politik itu dinamis. Tidak ada lawan abadi. Tidak ada kawan abadi,” katamu sambil menyeruput kopi Gayo.

“Tapi, kami pernah melewati waktu bersama. Sekarang hilang begitu saja hanya karena pilihan berbeda,” aku protes.

“Nah, kamu juga tidak paham politik. Santai saja lah, semua orang berhak punya pandangan dan tidak apa-apa jika berbeda denganmu.”

Aku merengut karena merasa tidak dibela. Kau tertawa lagi. “Lebih baik, kamu ambil studi politik. Biar ngga tambah mumet memikirkan dunia,” sambungmu.

“Ah, politik dangkal. Persamaan matematis abadi,” kataku mengutip pernyataan  Fisikawan Albert Einstein.

Kau pun tergelak.

“Jadi, mau ambil studi Fisika?” sahutmu. “Tidak juga,” jawabku.

“Hanya, apakah segala sesuatu ini bisa diperbaiki?”

Kau terdiam memandangku. Lalu pelan menjawab, “terkadang kita tidak perlu memaksa keadaan seturut keinginan. Tetaplah saja berbuat baik dengan mereka.”

(Setelah kurang tidur, 28 April 2017)

Soulmate

Kepada AD dan ME:

Adakah kau berdua mengerti tentang pasangan jiwa? Tautan yang tak lekang oleh waktu; keseimbangan; keselarasan. Jika salah satu hilang, lainnya akan goyah, lalu kelamaan menjadi hancur.

Pada masanya, kau berdua mencipta banyak karya indah. Dunia terhanyut oleh cinta yang kau berdua sebarkan lewat nada. Segala pekerjaan dengan kasih akan indah hasilnya. Pun dengan tatanan musik dan syair puitis itu; sanggup menyihir setiap orang yang percaya dengan ketulusan cinta.

Kemudian, setelah puncak jaya menaungi kau berdua, kekuatan cinta diuji. Ujian yang secara alami tiba ketika kesempurnaan tampak berkuasa. Sayangnya, cinta itu runtuh secara perlahan. Kesejukan yang ada, berubah menjadi terik. Suhu semakin meningkat dan membakar perjuangan bersama masa lalu.

“Tidakkah kau ingat surat cinta pertama kita?”

Setelah bejana cinta itu terpecah, kepingannya terkubur dalam ingatan-ingatan mereka yang masih mendamba lagu cinta kau berdua. Tiada lagi kini musik pengantar rindu di sudut hati. Kau berdua menjadi terasing dan seperti pohon kering. Enggan mati dan berusaha berdiri tegak di tengah gerlap dunia itu. Kau berdua, masing-masing, kembali mencipta denting piano, tapi hambar. Kesendirian membuat kau berdua sekarat. Mati cipta.

“Aku bisa membuatmu kembali jatuh padaku.”

Kini hanya untai nada-nada lama yang kerap berbisik di telinga. Usang tapi tetap dirindukan. Ah, kita tidak sedang bercinta lagi, bukan?

Beji habis hujan, 10 April 2017.

Mama Tunggu di Luar Saja

Sekitar tujuh bulan lalu, saya rehat sejenak di warung kopi ini setelah mengantar anak pertama kali sekolah. Saat itu, hati kecewa karena apa yang saya harapkan agar anak tidak mengambek ketika sekolah, pupus. Seminggu pertama sekolah, semua bisa dikontrol. Namun, setelahnya tidak. Saya tidak pernah membayangkan bahwa ia bisa menjerit-jerit ketika saya hendak tinggal ke luar sekolah. Sedangkan teman-temannya tampak asyik bermain di halaman sekolah.

Berbagai rayuan sudah saya berikan. Dari membelikan mainan setiap pulang sekolah, hingga naik kereta commuterline dari sekolahnya. Apa pun yang dia suka saya penuhi, supaya ia mau masuk sekolah keesokan hari. Kemudian setiap pagi saya menjadi cukup tertekan. Memikirkan hal yang akan kembali terjadi: susah mandi, menangis saat berangkat yang kemudian dilanjutkan ketika sampai di sekolah.

Beberapa ibu di sekolah itu bilang, “Ah, tidak apa… satu bulan paling biasa.” Saya cukup tenang, namun ternyata lewat sebulan, ia masih berlaku sama. Pada tengah semester I, jadwal bertemu dengan Wali Kelas. Secara motorik, anak saya baik, namun masih cengeng dan masih sulit berhubungan dengan temannya. Meski saat masuk menangis, selama di kelas dan pulang sekolah, ia tampak baik-baik saja; tertawa senang 😅. Lagi-lagi nasihat yang saya terima, “Lama-lama biasa, kok, Mam.”

Pada bulan kelima, saya mulai gerah karena tidak ada perubahan pada anak. Saya selalu bertanya, kenapa ia menangis. “Aku maunya sama Mama,” jawabnya. Sampai pada suatu saat, saya mencoba memberi ‘hukuman’ jika ia menangis saat masuk sekolah.

“Sekarang begini, kalau kamu menangis saat masuk sekolah, Mama hukum,ya.”

Dia terdiam. “Kenapa dihukum?” Tanyanya.

“Karena kamu nangis terus. Kamu kan sama Bu Guru di sekolah. Kenapa nangis?”

“Dihukum, ya? Hukumannya apa?”

“Hmm.. kamu masuk di dalam kamar selama sepuluh detik.”

Saya pakai angka sepuluh, karena ia sudah bisa berhitung sampai sepuluh.

“Kamarnya terang, ya?” ia mulai bernegosiasi.

“Ya, gelap, dong. Hukuman itu harus tidak enak.”

Ia mengangguk.

Keesokan harinya, ganti ibu saya yang mengantarnya ke sekolah. Pukul 10 lebih 15, ia mengirim pesan singkat: ‘Anakmu nangis lagi.’

Tiba di rumah sore harinya, saya bertanya pada anak. “Hari ini menangis tidak, ya?” Ia langsung menjawab, “Menangissss!” “Oke, nanti malam dihukum, ya.”

Malamnya hukuman dimulai. “Mama tunggu di luar (kamar), ya,” pintanya. Saya mengangguk lalu mematikan lampu kamar tidur dan menutup pintu. Kemudian dia berhitung satu sampai sepuluh. Setelah selesai, saya buka pintunya lalu menyalami dia. “Besok ngga nangis lagi, ya.” Ia mengangguk sambil tertawa.

Tentu saja hukuman tersebut tidak langsung berdampak padanya. Setidaknya selama satu bulan, uji coba hukuman itu saya lakukan. Kelamaan, hukuman tidak dilakukan setiap hari, hingga akhirnya ia tidak lagi menangis saat mau masuk sekolah.

Beberapa hari lalu, saya mengantarnya ke sekolah. Ketika ia sudah mendekati kelasnya, ia berkata, “Mama tunggu di luar aja.” Lalu ia berjalan sendiri meninggalkan saya yang masih kaget dengan perubahannya. Di dekat saya, guru kelasnya menepuki keberaniannya. Saya lalu tertawa. Ya, saya yakin, gurunya pun sudah cukup lelah menanganinya selama ini 😀.

Pagi ini saya kembali menikmati pisang bakar dan es teh manis. Tapi, kali ini dengan perasaan lega. Memang, masih panjang jalan anak saya dan berbagai kejutan pasti akan hadir. Tapi, paling tidak, satu masalah telah selesai.

Mari makan!

20170207_072232-01

(Srengseng Sawah, 7 Februari 2017)

 

Pandangi Langit Malam Ini

Aku melihat mereka yang kukenal –kerap mencipta tawa, pendengar cerita suka dan sedih dariku, atau berdiskusi bahan ajar– sedang di sebuah ruangan. Dengan wajah penuh amarah, mereka sedang bersiap melakukan gerakan.

Aku hendak menyapa mereka, tapi terlalu takut. Sepertinya mereka tidak lagi bisa melihatku. Mungkin aku sudah dianggap debu atau barang rusak yang bagusnya dibuang ke gudang jiwa mereka.

Gerakan-gerakan itu telah mengantar mereka pada sebuah perjalanan baru. Aku menghargai walau harus menahan perih: dilupakan. Perlahan kutinggalkan mereka saat terus meneriakkan berbagai kalimat-kalimat yang enggan aku dengar.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba kudengar syair lagu ini:

Bila kau rindukan aku, putri
Coba kau pandangi langit malam ini
Bila itu tak cukup mengganti
Cobalah kau hirup udara pagi, aku di situ

Lagu “Pandangi Langit Malam Ini” milik Jikustik terus kudendangkan saat bangun dari mimpi itu. Ya, aku memang rindu mereka…

 

Tidak Pernah Sama

ketika pandanganmu berbeda dengan mereka, bersabarlah. tidak perlu naik darah apalagi berteriak. sungguh, kondisi di luar sana tidak pernah sama dengan kondisi di dalam keluargamu. kebahagiaan di luar sana tidak pernah sama dengan kebahagiaan di dalam keluargamu. kepedihan di luar sana tidak pernah sama dengan kepedihan di dalam keluargamu.

bersyukurlah atas segala sesuatu yang kau miliki saat ini.

Pulih

Merabamu kini punah

Bertukar cerita tampak payah

Adakah lagi arti bersama

Di dalam beda?

 

Mentari masih sama bentuknya

Sinarnya berpantulan saat kita saling tertawa

di bawah pohon kersen itu;

Rindu

 

Hujan masih sama dinginnya

Ketika kau cerita sebuah rahasia

Kita lupa,

Ada rintik-rintik air yang mendengarnya

 

Jika hari itu dan hari ini berubah

Sesungguhnya aku tidak mau;

Dalam menjaga satu

Apakah kita telah lelah?

 

Di tahun ini

Telah banyak tangis diam-diam

Kepada-Mu kukirim doa sendiri

Setiap malam:

negeri ini pulih kembali.

 

(Beji, 30 Desember 2016)