tentang hidup

Jam Dinding

Malam itu, enam tahun lalu, suami dan saya mencari jam dinding untuk di rumah. Kemudian, kami mencarinya di toko tepi jalan dekat rumah. Saya sebetulnya ingin beli jam dinding ‘lucu’ keluaran merk tertentu, tapi, kok mahal, ya? Alhasil, saya berencana untuk mencari yang bentuk sederhana saja.

“Cari jam seperti apa?” Tanya penjual. “Hmm, lihat-lihat dulu, Pak,” jawab saya sambil hati-hati melihat berbagai bentuk jam karena toko yang sempit. Di ruang sekitar 10 meter persegi itu berisi jam berbagai bentuk. Ada yang dipasang di dinding. Ada pula yang berdiri. Saya lihat meja kecil untuk memperbaiki jam. Tampak berantakan.

“Mau jam romawi atau angka?” Saya tidak menjawab pertanyaannya karena tidak ada ide. Bagi saya keduanya sama saja.

“Kalau buat anak belajar, bisa pilih angka,” sarannya. Saya yang saat itu sedang hamil muda tersadar bahwa perkataan Bapak ini ada benarnya. Jauh berbeda seperti pemikiran saya soal bentuk ‘lucu’ jam dinding 😆.

Akhirnya saya memilih sebuah jam di dinding bentuk bulat hitam dan angka putih dengan harga 80 ribu rupiah.

Seiring berjalannya waktu, kami memiliki seorang anak dan ternyata kebutuhan jam dinding penting dalam pertumbuhannya. Misal untuk mengetahui waktu tidur, nonton film kesayangan, mandi, dan sekolah. Lalu, anak saya mulai berlatih menulis angka dan salah satunya menggambar jam.

20180113_214225-01

Maafkan jika gambar angka jam masih tidak teratur 😅. Namun, jam dinding tersebut sudah menjadi alat belajar untuk anak saya.  Ini namanya membeli barang dengan manfaat tinggi. Terima kasih, Bapak penjual jam dinding!

Advertisements
Standard
tentang hidup

Baper

Seorang teman menyanyikan kembali lagu Mocca ‘Friend’. Seperti biasa, saya selalu terbawa perasaan jika mendengar lirik-lirik tentang pertemanan atau persahabatan. Merasa bahwa teman saya tinggal beberapa. Teman yang sesungguhnya, ya. Yang bisa saya ajak bercerita tentang apa pun. Melupakan tentang siapa saya; asal saya; agama saya; pekerjaan saya; merk tas atau sepatu saya; gaji saya.

Jika teman memang mutiara, memang sulit sekali mendapatkannya. Jika sudah dapat, menjaganya pun bukan soal biasa. Karena mutiara itu indah, siapa pun bisa merengkuh dari pelukan saya.

Berada di perkembangan masa kini, saya semakin tahu mana teman sesungguhnya:

If anyone can fill my world with joy and happiness/And cast away all of my loneliness/Always there beside me when I am down/And never left my face with a frown

Teman bisa membuatmu berharap, bahwa masih ada kehidupan yang lebih baik daripada kecewa merasa tersakiti hanya karena terbawa perasaan.

Standard
tentang kota

Kereta Api sebagai Penunjang Hidup Masyarakat Indonesia

Separuh kegiatan saya selama ini didukung oleh moda transportasi berbasis rel, mengingat semakin lamanya waktu yang harus ditempuh akibat kemacetan di jalan raya. Saya menggunakan moda transportasi ini tidak hanya untuk urusan pekerjaan di Jakarta, dengan CommuterLine, namun juga ke luar kota dengan kereta yang disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Misalnya saat saya ingin berkunjung ke rumah sanak saudara di Sukabumi. Jika menggunakan bus dari kota domisili saya di Depok, waktu yang ditempuh bisa mencapai lima jam. Sedangkan bila saya naik Kereta Api Pangrango dari Stasiun Bogor Paledang cukup memakan waktu dua jam; ditambah sekitar 45 menit jika saya dari Stasiun Depok Baru menuju Stasiun Bogor. Selain soal waktu tempuh, harga tiket Kereta Api Pangrango juga bersaing dengan tiket bus Depok-Sukabumi.  Pangrango memiliki kelas eksekutif dengan harga Rp 50.000 dan kelas ekonomi dengan harga Rp. 20.000. Jika naik bus tanpa pendingin udara dikenakan biaya Rp 50.000.

Jika Anda turun di Stasiun Bogor, jarak menuju Stasiun Bogor Paledang sekitar 150 meter dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Namun, yang masih sedikit mengganjal sampai saat ini adalah akses dari Stasiun Bogor ke Stasiun Bogor Paledang yang masih sulit karena harus menaiki jembatan penyeberangan orang yang berada di sisi selatan. Pada Agustus 2017, jumlah penumpang yang dilayani Kereta Api Pangrango sebanyak 71.125 dari total jumlah tempat duduk yang disediakan sebanyak 76.788 (www.kumparan.com, 17/09). Angka ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi untuk menggunakan kereta api menuju Sukabumi.

Selain itu, Presiden Jokowi telah merencanakan membangun rel ganda pada jalur Bogor Paledang sampai Sukabumi sepanjang 57 kilometer. Pada 2019 diharapkan masyarakat dapat menikmati perjalanan dengan jumlah kereta mencapai 10 rangkaian. Bisa dibayangkan saat itu penumpang yang datang dari arah Jakarta menuju Stasiun Bogor Paledang akan mengalami peningkatan sehingga kemudahan mencapai stasiun menjadi hal yang sangat penting.

Sebagai contoh, saya memiliki anak kecil dan bila bepergian cukup merasa kelelahan saat harus berjalan menaiki jembatan penyeberangan orang setinggi kurang lebih 10 meter. Belum lagi mereka yang membawa barang menuju ke Stasiun Bogor Paledang dari Stasiun Bogor. Kesulitan yang dialami penumpang akan bertambah saat hujan mengingat predikat Bogor sebagai kota hujan.

PT KAI sendiri telah melakukan pembangunan jalur bawah tanah di dalam area stasiun. Hal ini menimbulkan harapan agar dibangun pula jalur bawah tanah khusus pejalan kaki yang menghubungkan Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang melalui Jalan Kapten Muslihat. Penyediaan jalur bawah tanah menuju Stasiun Bogor Paledang tentunya harus berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bogor sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar.

20170620_084335-01

Jalur bawah tanah di Stasiun Manggarai

Pengendara kendaraan pribadi yang ingin menuju Stasiun Bogor Paledang bisa memarkirkan kendaraan mereka di Stasiun Bogor kemudian berjalan kaki menuju Stasiun Bogor Paledang. Jalur bawah tanah lebih sesuai di lokasi tersebut karena di koridor Jalan Kapten Muslihat terdapat bangunan tua bersejarah Gereja Katedral dan Gunung Salak di sisi selatan. Dengan begitu, pergerakan manusia di bawah tanah tidak akan menganggu visual kota tersebut. Tangga di jalur bawah tanah sebaiknya dilengkapi dengan eskalator bagi para lansia, ibu hamil, dan ibu dengan anak. Ramp dan jalur tuna netra juga disediakan bagi para difabel. Selain itu, tempat makan khas Bogor dapat menarik minat penumpang untuk mengisi perut dan bersantai sejenak sambil menunggu kereta datang.

KAI di masa depan saya harap bisa menjadi moda transportasi pilihan sebagai penunjang hidup masyarakat. Ia bukan lagi hanya sebuah benda namun pelayanan yang membuat siapa pun dapat pergi dengan mudah. Tiket bisa dibeli di mana saja, hemat biaya, jadwal kereta tepat waktu, akses yang lancar untuk mencapai stasiun, penyediaan lahan parkir yang memadai, serta sebagai tempat pengembangan usaha kecil dan menengah warga lokal.

Apakah Anda juga berharap hal yang sama?

Standard
tentang hidup

Enggan Bersama

Kabut masih membayangi langkahku setelah kau pergi. Dalam keremangan itu, dia menghampiriku. “Hai, apa kabar?”

Pertanyaan biasa yang jarang aku terima. Ekpresinya tulus dan berbinar. Ya, aku tidak salah jika melihat matanya selalu berbinar saat menatapku. Seterang kerlip bintang di angkasa ketika aku dan kau berteduh di bawahnya.

“Sedang baca buku apa?” Ia bertanya lagi. Tentu saja hanya buku biografi. Apakah ini penting buatnya? Rasa ingin tahunya besar hingga akhirnya aku pinjamkan beberapa buku untuk menyegarkan hausnya.

Percakapan dengannya kemudian sedikit mengalihkan lamunku tentangmu. Sampai pada suatu hari, kurasakan ia tidak lagi hanya ingin bercakap. “Apakah bisa kita bersama?” Pertanyaan yang seakan ingin ia ungkapkan di tiap pertemuan.

Aku tetap diam. Enggan menjadi bagian darinya yang terlalu sempurna buatku. Atau memang karena kenangan adalah abadi sehingga menutup mataku terhadap keindahan-keindahan baru?

Entah.

Setelah malam itu, ia pun tenggelam. Lari dari tangkapan mataku. Percakapan selesai. Aku kembali sendiri. Oh, tidak sendiri. Ada kenangan tentangmu menemani sepi ini. Kini dan selamanya.

 

 

Standard
tentang hidup

Kenangan adalah Abadi*)

Dua belas tahun lalu aku meletakkan asa kepada satu hawa. Tiada kebaikan Semesta, selain memberi nafas kepadaku dan kau. Kita menjelma menjadi pasangan abadi dalam sunyi. Sunyi yang indah dalam keriuhan mereka menentang kebersamaan kita.

Apakah ada yang salah?

Dua belas tahun lalu, kau membiarkan tubuh itu kudekap. “Aku takut kehilanganmu,” katamu. Tahukah kau bahwa udaraku yang bersatu dengan malam dan pagi akan selalu menemani gerak langkahmu selamanya? Tapi, mereka terus berteriak minta aku pergi.

Apakah ada yang salah?

Bersamamu, bumi tiada punah. Jika harus, biarkan aku mati di sampingmu. Kau tertawa geli. “Aku serius,” kataku. Kau hanya mengangguk sambil menggenggam jemariku. Di belakang kita tampak amarah menjejali malam yang damai.

Apakah ada yang salah?

Sampai pada malam ke seratus dua puluh, dua belas tahun lalu, kau mulai enggan bercerita. Hari-harimu semakin penuh dengan catatan-catatan kerja yang tidak menyisakan waktu buatku. Aku bertanya pada gemintang dan rembulan yang terkadang menemani kami bercengkerama. Mereka bungkam, tidak mau menjawab tanyaku.

Kemudian pada malam ke seratus lima puluh, kau menulis pada secarik kertas dan memberikan kepadaku. “Aku rasa, aku tidak baik untukmu. Terima kasih telah menemaniku selama ini.”

Pertanyaan “apakah aku salah?” terus bergelayut. Kuharapkan jawaban itu, namun kau seakan mati ditelan bumi. Hilang tanpa jejak. Ah, tapi kenangan akan abadi, bukan? Aku melangkah di bawah langit hitam. Bulan mati malam itu.

 

*)Terinspirasi pada judul buku puisi SDD “Duka-Mu Abadi”.

Standard