tentang hidup, tentang kota

Refleksi Sabtu Pagi

Pembicaraan tentang nestapa di kota itu belum kunjung usai. Terkadang aku masih tersedu jika mengingatnya. Apakah Tuhan sedang tidur? Apakah malaikat pelindung mereka masih bermimpi?

Menyusuri jalanan di kota-kota kini tidak lagi damai. Merapal doa kerap menjadi kekuatan agar aku tidak kecil hati menghadapi realitas: pun semua orang mesti mati.

Pagi ini pembicaraan tentang nestapa terus berlanjut. Aku menyeduh teh untuk menenangkan jiwa. Merelakan kehilangan teman atau saudara yang entah kenapa tidak lagi seperti dulu. Saat ini aku rindu masa lampau yang selalu dihiasi tawa canda dan tangis kesusahan, tapi kita tetap bersama.

Sekarang aku berharap Tuhan berbaik hati sekali lagi untuk meletakkan kasih-Nya di negeri ini supaya nestapa tidak lagi menodai kami.

Dan tawa-tawa kami dahulu hadir kembali.

Advertisements
Standard
tentang hidup, tentang kota

Meraih Asa Memiliki Rumah Tinggal Melalui Pengembang

“Menemukan rumah tinggal seperti menemukan jodoh,” kata Drew (Parker Posey) dalam film ‘The Architect’. Dan perjalanan menemukan rumah tinggal serta memeluknya akan terus terjadi dalam hidup siapa pun. Ia tidak punya kata selesai.

Tulisan saya tentang rumah tinggal: http://www.konteks.org/meraih-asa-memiliki-rumah-tinggal-melalui-pengembangg

 

Standard
tentang hidup

Hujan

Apa yang salah denganku? Dengan tulus aku mengirimkan derai untuk memberikan nyawa, menggairahkan lelahmu yang kering.

Apa yang salah denganku? Dengan gembira aku berbagi kesegaran untukmu. Bukankah kau selalu menungguku saat musim tengah tahun nanti?

Aku terus mendengar keluhmu tentang derasnya hujan hari ini. Maaf, namun aku masih terlalu rindu pada kau. Rindu.

Standard
tentang hidup

Hal Pengampunan

Ada hal-hal tidak enak yang harus kita kunyah secara halus agar mereka dengan mudah tercerna dan segera terbuang ke bagian akhir perasaan.

Tentu rasanya tidak manis: pahit, asam, asin yang terkadang kadarnya berlebihan hingga kita mau muntah amarah atau kutuk. Tapi, apakah mengubah rasa itu menjadi manis? Belum tentu!

Maka, tetaplah mengunyah rasa-rasa yang kita benci sambil terus merapal doa dan meresapi makna setiap rasa tidak enak ke dalam jiwa.

Berapa kali kita harus mengunyah rasa tidak enak sampai halus? Tiga puluh dua kali? Bukan, tujuh puluh kali tujuh kali.

Setelah semua rasa halus, telanlah perlahan dan biarkan mereka menuju ke bagian akhir perasaan: mengampuni.

 

Standard
tentang hidup

Distorsi

Ada hal-hal yang tidak sejalan dengan pemahamanmu, tapi apa penting dipikirkan? Apalagi segala analisis dan sintesismu tidak akan pernah dipakai untuk memperbaiki keadaan. Buat apa?

Banyak tanya tentang sekitar yang seakan semakin buruk. Atau memang dirimu sendiri yang memburuk? Ya, jika memakai teori Paulo Coelho atau Mestakung. Tapi, boleh, kan, melihat segala sesuatu dari sudut pandang terbalik? Kamu sebagai korban. Kamu sebagai kambing hitam. Kamu sebagai obyek penderita. Sakit?

Jika terasa sakit, ubah saja kembali sudut pandangmu. Bahwa semua memang ada waktunya, semua kenyataan tak mungkin sejalan dengan harapan atau keinginan. Kata Buddha, jangan terlalu tinggi berharap sesuatu karena di situ akan muncul stres; “accept everything.” Sedang Yesus berpesan: “Janganlah kuatir akan hidupmu…”

 

 

Standard
tentang hidup

Jika

Aku tidak tahu dari mana asal rasa itu. Cinta dan terkadang benci menjadi satu. Namun, aku selalu kembali kepadamu untuk bercerita tentang waktu. Bahwa pada setiap masa, kota ini akan butuh engkau sebagai pencipta dan pelaku. Butuh rasa yang dalam buat menjadi pemeluk bumi yang rendah hati dan aku ingin selalu memberi semangat kepadamu.

Jika waktuku masih di situ…

 

(Hari Rabu Abu dan Hari Kasih Sayang)

Standard
tentang hidup

Ganjuran

untai doa menari di udara yang sejuk pada ruang terbuka itu. aku hanya bisa terdiam setelah menjejakkan langkah menuju pelataran dengan candi dan patung Hati Kudus kecil yang ditanam di dalamnya. wajah-wajah tertunduk membaca lembar doa atau mendaraskan Salam Maria dengan menggunakan rosario. mereka berserah kepada-Nya bahwa semua permohonan bisa terkabul, jika itu memang kehendak-Nya.

aku telah menuliskan beberapa permohonan di secarik kertas yang kemudian dibacakan setiap jumat pertama di awal bulan. berharap bahwa aku boleh menerima mukjizat seperti mereka yang telah hadir di sini untuk mengirimkan doa kepada-Nya.

20170821_113007

terima kasih kepada Hati Kudus Yesus, bahwa doa-doa itu menjadi nyata. bahwa harapan yang kuat akan menerbitkan upaya keras untuk terus berusaha di dalam kehidupan. dan jika doa-doa lain belum terjawab, aku percaya bahwa Kau akan memberikan jalan-jalan lain menuju bahagia seturut kehendak-Mu.

Standard