tentang kota

Ayo Berubah Bersama MRT Jakarta!

“Damar, kamu suka naik sepeda, motor, mobil, bus, pesawat, atau kereta?”

“Kereta!”

Damar, anak saya suka sekali dengan kereta sejak usia sekitar 2 tahun. Ketertarikannya dimulai saat menonton film kartun kereta di televisi. Kemudian berlanjut dengan melihat majalah kereta dan video hingga kini berusia 4 tahun. Ia kemudian mengenal jenis-jenis kereta lainnya, seperti monorail, light rapid transit (LRT), high speed rail, dan mass rapid transit (MRT). Jenis terakhir saya ceritakan perkembangan pembangunannya di Jakarta.

“Nanti kalau MRT sudah jadi, kita naik, ya!” ajak saya suatu kali. Ia mengangguk sambil tersenyum senang.

Saya kemudian teringat dengan kondisi jalan raya yang tersendat terutama menuju Kota Jakarta saat ini. Bertempat tinggal di Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi dan bekerja di Kota Jakarta sudah menjadi ‘hal biasa’ untuk melalui kemacetan. Suami saya kerap naik motor dari Depok menuju tempat bekerja di Jakarta Selatan dan bisa memakan waktu 2 jam. “Melelahkan!” keluhnya. Meski demikian, kendaraan motor masih menjadi pujaan hati warga.

Jika melihat data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2014, komuter Jabodetabek menggunakan sarana transportasi untuk pergi berupa sepeda motor sebanyak 58,19 persen; kendaraan umum berupa angkutan kota, kereta, TransJakarta/APTB sebanyak 27 persen; dan mobil sebanyak 12,76 persen. Bentuk motor yang ramping sehingga bisa menyalip deretan mobil yang tersendat dan harga terjangkau, menyebabkan warga terus menaikinya sebagai sarana transportasi.

Walau jumlahnya jauh dari pengendara sepeda motor, masih ada warga yang  memilih sarana transportasi umum Kereta Rel Listrik (KRL)-Commuterline Jabodetabek dan TransJakarta. Keduanya memiliki kesamaan yaitu punya jalur khusus. TransJakarta pun kini telah memiliki jalan layang sehingga perjalanan menjadi lebih lancar. Sedangkan Kereta Rel Listrik (KRL)-Commuterline Jabodetabek saat ini memiliki hingga 12 rangkaian dan waktu kedatangan lebih cepat. Adanya perbaikan pelayanan jasa kereta listrik, menurut situs www.krl-commuterline.co.id menyebabkan pengguna mencapai 1 juta per hari pada Mei 2017. Suami saya yang biasanya naik motor pun kini bersedia naik kereta. “Cepat sampai dan kalau dapat tempat duduk bisa tidur,” katanya.

Salah satu kunci penyediaan sarana transportasi di perkotaan adalah massal. Jon D. Fricker dan Robert K. Whitford (2004) dalam bukunya yang berjudul “Fundamentals of Transportation Engineering: A Multimodal Approach” menulis bahwa karakter sarana transportasi massal yaitu mampu mengangkut masyarakat umum, terutama difabel; serta rute dan jadwal harus tepat waktu. Mengingat waktu orang kota sedikit karena harus dibagi antara bekerja, istirahat, rekreasi dengan keluarga, maka kebutuhan sarana transportasi massal yang cepat dan hemat menjadi darurat.

Lagi-lagi saya teringat anak yang jatuh cinta pada kereta. Sebagai sarana transportasi yang mampu menampung penumpang dalam jumlah banyak, kendaraan berbasis rel ini juga memiliki harga tiket yang terjangkau. Saat ini Pemerintah Provinsi Jakarta tengah menyiapkan prasarana dan sarana MRT. Menurut data dari situs www.jakartamrt.co.id, pengerjaan proyek fase satu yang terdiri dari stasiun layang, telah mencapai 64 persen. Sedangkan stasiun bawah tanah telah mencapai 88 persen. PT. Mass Rapid Transit Jakarta mentargetkan pada Maret 2019, warga dapat menikmati perjalanan dengan MRT.

MRT nantinya memiliki rangkaian sebanyak 6 kereta dengan kapasitas 1.950 orang per kereta. Target penumpang sehari yaitu 173.400 orang. MRT akan menjadi sarana transportasi di dalam Kota Jakarta sehingga perjalanan menuju dan dari area perkantoran, perdagangan, bisnis, serta hiburan lebih mudah dicapai. Bagi warga di luar Jakarta tentu bisa mencapai stasiun-stasiun MRT melalui stasiun Kereta Rel Listrik (KRL)-Commuterline Jabodetabek, halte TransJakarta atau angkutan umum lainnya.

IMG-20170830-WA0003

Warga menggunakan sarana MRT Jakarta (Ilustrasi: Diptya Anggita)

Lalu bagaimana mengubah kebiasaan warga untuk menaiki transportasi massal? Menurut saya, orangtua menjadi role model untuk memperkenalkan transportasi massal. Apa yang bisa diharapkan dari anak jika orangtua lebih suka naik motor ke toko terdekat atau kendaraan pribadi untuk mencapai tempat bekerja?

Anak-anak kebanyakan suka mendengar cerita. Alangkah baik jika kita sering bercerita keuntungan menaiki transportasi massal, sehingga timbul kemauan mereka untuk mencoba naik MRT. Penjelasan berupa gambar dan video dapat menjadi alat bantu mereka selain membaca informasi. Peran guru dan dosen juga penting. Pelajaran mengenai transportasi massal dapat menambah wawasan mereka. Jika perlu, diadakan study tour ke stasiun dan menaiki MRT bersama pengajar, sehingga pelajar atau mahasiswa dapat menikmati pengalaman menaiki sarana transportasi massal.

IMG-20170830-WA0002

Naik MRT Jakarta bersama anak (Ilustrasi: Diptya Anggita)

Bekerja bersama ubah Jakarta bukan hanya pekerjaan pemerintah, namun kita sebagai warga. Selamat menanti MRT Jakarta!

Advertisements
Standard
tentang hidup

Menjaring Kembali Mimpi

Pernahkah kau pada satu waktu merasakan hal-hal yang selama ini terasa mengasyikkan menjadi tidak bermakna?

Pekerjaan mendebarkan karena penuh gairah mendadak terasa berat. Keruh.

Kemudian, mau kau hanya satu: pergi dan meninggalkan semua di sudut ruang itu. Ruang bekas tempat kerja yang selama ini tempatmu mengadu teori dan fakta.

Lalu, kau mau ke mana setelah ini?

Tidak ada jawaban. Hanya, kau rindu pada desa. Mengolah tanah di kebun sayur, mungkin? Kau tertawa terbahak. “Tapi, tak ada yang tidak mungkin, bukan?” Sambungmu.

Pada hari depan, kau hanya mencoba meraba. Sungguh, kejenuhan tampaknya kian menggerogoti mimpi-mimpi.

Akankah mereka kembali?

Standard
tentang hidup

22 Juli

Tentang cerita-cerita masa lalu darimu, aku semakin percaya tentang kesabaran; ketaatan. Bagaimana membuat kuat hati untuk menemukan pasangan yang sepadan. Bagaimana mempertahankan kepercayaan yang selama ini menjadi pedoman dalam hidup.

Aku semakin mengerti bahwa setiap langkah ini memiliki arahnya sendiri. Ia telah mengatur, hanya kita apakah paham tentang itu semua: tetap mengikuti alur-Nya yang terkadang tampak curam dan berwaktu panjang.

Kemudian pada saatnya, ketika kau mampu melewati jalur patahan itu dan selalu bangkit kembali saat terjatuh, dataran subur itu akan menerima kedatanganmu. Meski hari-hari nanti mungkin saja jalanmu berkelok, namun aku percaya, kau telah terlatih mengatur langkah.

Selamat berbahagia untukmu, sekarang dan selamanya bersama kekasih jiwa.

 

(Buat: Trinanti Sulamit)

Standard
tentang hidup

Ketika Mereka Pergi

Ada pola yang sama ketika mereka hendak berpulang. Rasa ingin bertemu dengan teman-teman di media sosial atau sekadar menumpahkan isi hati; ya, mungkin supaya teman-teman menoleh dan memberi komentar di dalam statusnya.

Sayangnya, tidak semua teman peka. Mereka dianggap sedang iseng atau rindu saja karena lama tidak menampilkan diri di dunia maya. Status mereka diacuhkan, lalu mereka terlupakan oleh hal lainnya. Hingga pada suatu masa, mereka tidak lagi bisa mengetik kata hati, isi pikiran, komentar di dinding akun. Teman-temannya mendadak membanjiri akun dan mengucapkan selamat jalan. Berharap di surga nanti, mereka sempat pinjam ponsel malaikat untuk memeriksa akun (?) Status-statusnya kemudian dibaca kembali oleh teman-teman dan mereka menyesal tidak menanyakan kabar atau melanjutkan kepada sebuah pertemuan.

Kita hanya butuh peka, terutama kepada teman lama yang tidak sempat bersua. Jika waktu belum mengizinkan untuk bertemu, kirimkan saja doa kepada mereka agar sehat dan sejahtera.

Kepada teman-temanku yang telah mendahului, terima kasih telah menjadi mitra seperjalanan. Bahagia selalu dalam keabadian.

 

(Buat: Bambang Sutikno).

Standard
tentang hidup

Hadiah Ulang Tahun

Pada suatu masa, ketegaran hatimu akan diuji oleh orang-orang di sekitarmu: mereka yang kau sayangi, kau cintai, kau rindukan. Cerita-cerita yang bagimu mengasyikkan bisa saja dicela oleh mereka. Kau dianggap salah. Seratus persen salah; yang bisa jadi kau dianggap bodoh.

Oh, Tuhan, apa salah saya?

Kau mungkin akan berpikir demikian. Sebab, kau kira orang-orang tersebut akan selalu berada di pihakmu. Mendukung setiap laku dan keputusan. Oh, tidak, Sayang… Setiap orang bisa dan boleh berubah. Kau yang harus adaptif!

Setelah resah menggeluti hati, kau boleh menentukan sikap. Hendak meninggalkan mereka atau berpikir positif: suatu saat mereka tidak akan berbuat seperti itu lagi.

 

(Thanks to Echa).

Standard