Ketika Pembicaraan Masih Mengasyikkan

Kita bisa memulai pembicaraan kapan dan tentang apa saja. Apa tajuk yang sedang hangat? Kota sehat, misalnya. “Warga jika sakit mau kerja apa? Kota jadi tidak produktif!” Kau mulai mengeluarkan pendapat. “Jadi, apa saja indikator kota sehat?” Yang lain menimpali. Kemudian terjadi diskusi menarik: dari mulai jajanan enak yang ternyata tidak sehat hingga polusi dari kemacetan kota yang bisa menyebabkan kesakitan pada warga.

Masa lainnya, tajuk hangat tentang kemiskinan kota.Selanjutnya tentang kota yang kreatif; kota cerdas; kota tanggap bencana. Gagasan-gagasan menarik terus terlempar ke udara memberikan pencerahan bagi mereka yang berada di ruang maya itu.

Sampai pada satu masa, pembicaraan menjadi tidak lagi mengasyikkan. Sedikit demi sedikit gagasan luntur ditelan ego. Amarah kemudian menjalar di sela ruang dan hati yang ada di dalamnya. Pembicaraan tidak lagi berdasar ilmu pengetahuan. Masing-masing personal sibuk menjabarkan paham yang belum tentu bisa diterima satu sama lain.

Hingga pada akhirnya saya menyingkir dari keriuhan itu. Mengambil secangkir teh hangat dan memandang langit mendung pagi itu. Berharap segalanya kembali pada masa ketika pembicaraan masih mengasyikkan.

Lagu Damar

Salah satu lagu Damar yang diajarkan di sekolahnya.

Aku bahagia, bahagia

Karena Tuhan Yesus angkat nangisku

Yesus angkat nangisku dan buang ke laut

Byur!

Buang ke laut

Byur!

Buang ke laut.

Berulang dia menyanyi dan membuat saya terhibur bahwa tangis-tangis di sini dan di luar sana akan dihapus oleh-Nya.

Pelayan Masyarakat

Jika kau terus bertanya kenapa kota itu berantakan? Karena birokrasi di dalamnya juga berantakan. Tidak ada koordinasi. Membuat kebijakan tanpa kajian. Membuat peraturan hanya demi ego penguasa. Atau hanya untuk mencari keuntungan semata.

Begitulah. Dan mereka yang bekerja di bawah sesungguhnya juga berteriak, tapi sayang, tidak terdengar oleh atasan. Akhirnya, saya -orang di luar mereka-mendengar segalanya.

Setelahnya saya berdoa dalam hati, semoga mereka terus kuat menjalani pengabdiannya pada masyarakat.

 

 

Cemburu

Apa yang kau pikirkan tentang pernikahan berusia tiga puluh tujuh tahun? Kemakmuran? Keromantisan? Ketakjuban?

Ketika melihat perpisahan pasangan-pasangan di luar sana, saya merasa bahagia melihat mereka yang masih saling setia menjaga janji bersama sehidup semati. Tapi, saya geli juga ketika melihat bahwa pasangan yang sudah menikah puluhan tahun terjebak dalam rasa cemburu. Cemburu melihat pasangannya punya teman baru, cemburu punya ponsel baru, cemburu punya kegiatan baru di luar rumah.

Saya pernah juga mengalami perasaan cemburu. Dulu, waktu masih terlibat dalam hubungan tidak mengikat. Belum terikat saja sudah cemburu, apalagi terikat? Hehe. Sekarang baru bisa tertawa, karena memang bodoh memiliki rasa cemburu. Cemburu berasal dari kegelisahan diri terhadap pasangan dan mengira ia akan ‘kabur’ dari saya dan berpindah ke lain hati. Sebabnya, hanya karena saya tahu ia pernah memiliki perasaan indah dengan orang lain. Padahal, wajar saja bukan jika setiap orang punya masa lalu? Dan ketika ia sudah menjalin hubungan yang lebih baik bahkan memilih diri saya menjadi pasangan seumur hidup, apa masih perlu rasa cemburu?

Pada setiap misa perkawinan di Gereja Katolik, hampir semua pasangan memakai Kitab 1 Korintus 13: 4-7. Begini petikannya:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Berat bukan memiliki kasih? Coba dibaca perlahan, ada satu kalimat bagus di situ: “(kasih) tidak cemburu.” Kalimat bagus yang susah sekali diwujudkan kalau kita tidak percaya pada kasih milik pasangan. Kalimat ini bertentangan dengan pandangan orang bahwa ‘Cemburu artinya cinta.’ “Bah, Mana ada cinta tapi cemburu?!” Mungkin begitu kira-kira kata Rasul Paulus jika mendengar celoteh tersebut. Saya jadi tertawa sendiri. Iya, mana ada cinta tapi cemburu?

Setelah membaca buku tentang bagaimana memahami orang lain dan diri sendiri, saya mencoba mengikis rasa cemburu. Saya perhatikan perilaku pasangan, jika ia terus berkorban untuk dirimu, buat apa takut kehilangan? Atau jika memang ingin tahu tentang seseorang, kenapa tidak tanya langsung? Apalagi kepada pasangan yang sudah hidup serumah selama puluhan tahun. Apakah semakin lama bersama, malahan menimbulkan rasa sungkan?

Saya harap kejadian-kejadian di sekitar saya hanya ketidaksadaran orang yang ‘lupa sesaat’ tentang janji. Cemburu menyebabkan mereka lupa juga memeriksa diri, “Apa yang salah dengan diri saya?” Jika kau percaya pada pasangan, tentu pertanyaan Seno Gumira Ajidarma ini mampu kau jawab:

“Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?”

(Pagi mendung)

Buat Sarjana yang Baru Lulus

Nak,

Selamat atas selesai masa sekolahmu. Perjalanan empat atau lima tahun di gedung bernama kampus, tentu tidak mudah. Di situ, tentu kau belajar banyak hal. Mulai dari menyelesaikan tugas tepat waktu, menunggu penilaian dari dosen dengan jantung berdebar, atau menahan emosi ketika kerjasama dengan teman kelompok.

Semua bahagia dan pahit sudah kau terima. Lalu sekarang apa? Dengan hasil jerih payah yang telah kau dapat, kau mau apa?

Kerja! Ya, tentu kerja. Ilmu atau keterampilan yang kau miliki harus jadi landasan untuk bekerja meraih cita. Sebentar, kerja buat mendapat apa? Uang!

Apa sekadar uang?

Saya paham, sekolah butuh uang dan orangtua yang berkewajiban mengeluarkannya –jadi, kau membuat kesalahan besar jika mengabaikan sekolahmu sampai ‘drop out’– Kini, saatnya kau ‘mengembalikan’ uang mereka. Walau kau sesungguhnya tidak pernah mampu melunasi ‘utang’-mu kepada orangtua.

Lalu, kau mau gaji berapa untuk memenuhi dompet atau rekeningmu? Ini yang saya tidak habis pikir. Beberapa sarjana baru lulus, sudah mematok gaji tinggi. Tinggi berkisar lima juta ke-atas. Entah karena mereka merasa lulusan terbaik atau dari kampus ternama.

Sebentar, pengalaman apa yang kau miliki? Apa kehebatanmu dibanding sarjana sebelah saya yang sudah lima tahun bekerja? Indeks presentasi kumulatif yang hampir empat? Belum tentu!

Bekerja tidak semata cari uang. Kau butuh pengalaman. Kau butuh mengalami berbagai situasi sehingga kau memang kuat bertahan di tengah ‘sikutan’ pekerja lain. Kau juga harus tahu strategi supaya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Kau juga harus bertahan dengan ‘cacian’ pemilik kerja. Tidak apa, itu untuk melatih mental dan otakmu supaya tidak lembek.

Setelah kau tahu bagaimana susahnya cari uang, kau akan semakin mapan. Kau semakin mahir dalam keterampilan dan bicara dengan pemilik kerja atau rekan kerja. Itu tidak mungkin dicapai dalam setahun! Jadi, sabar saja!

Nah, selama kau belum mampu dengan kondisi tersebut, ikuti saja air yang mengalir. Berapa pun perusahaan yang akan beri sebagai imbalan, coba saja terima. Dengan catatan, kau bekerja pada bidang yang kau cintai dan tidak ‘tekor’ untuk ongkos pergi-pulang dalam sebulan. Kepandaian menghitung ongkos ini sebetulnya bisa diperoleh saat sekolah. Mungkin kau pernah membantu sebuah pekerjaan. Tapi, sekali lagi, kau ‘hanya’ sarjana yang baru lulus. Terima dulu status itu.

Menerima status ‘baru lulus’ memang tidak mudah. Terlebih pada mereka yang merasa sudah mampu sekolah dan bekerja. Namun, percayalah, ketika kau rendah hati dan cakap dalam bekerja rezeki akan mencarimu. Perusahaan besar akan berlomba menarik perhatian dengan nilai gaji yang besar.

Kau hanya butuh waktu. Itu saja.

 

(Minggu sore ketika hujan deras)

 

Aku Cinta Kau yang Kemarin

Aku cinta kau yang kemarin:

Ketika tulisanmu tentang teori, bukan berisi caci atau maki kepada negeri; pun kepada politisi. 

Ketika tulisanmu tentang cara baik hidup di kota, bukan cuma kritik keras buat pemerintah kota yang lalai kepada warga.

Ketika tulisanmu menggerakkan hati untuk berdamai dengan kondisi, percaya bahwa realitas adalah teman terbaik di hari ini.

Ketika tulisanmu tentang mempercayai bahwa kehangatan hati akan melumerkan keangkuhan penguasa.

Ketika tulisanmu tentang bagaimana menjadi teman yang baik dari seorang musuh.

Aku terus membaca kalimat-kalimat hujatan tanpa henti setiap hari. Mungkin hingga bulan kedua tahun depan. Aku semakin mengerti bahwa di luar sana, banyak orang yang kau kira teman ternyata hanya kabut. Kau lihat fisiknya namun saat disentuh hilang. Di luar sana tidak ada teman abadi. Karena yang abadi cuma ilusi.

Aku terus memungut setiap sampah kata yang mengotori pandanganku. Kupilah. Yang buruk kubakar dalam kotak penghilang ingatan. Yang masih bisa didaur ulang, kusimpan dalam memori. Suatu waktu, mungkin aku bisa cerita ke anak-anak penerus bangsa, bahwa menulis haruslah mendamaikan. Bukan untuk menyakiti.

Dalam diam di sini aku hanya bisa menulis: aku cinta kau yang kemarin.