Mama Tunggu di Luar Saja

Sekitar tujuh bulan lalu, saya rehat sejenak di warung kopi ini setelah mengantar anak pertama kali sekolah. Saat itu, hati kecewa karena apa yang saya harapkan agar anak tidak mengambek ketika sekolah, pupus. Seminggu pertama sekolah, semua bisa dikontrol. Namun, setelahnya tidak. Saya tidak pernah membayangkan bahwa ia bisa menjerit-jerit ketika saya hendak tinggal ke luar sekolah. Sedangkan teman-temannya tampak asyik bermain di halaman sekolah.

Berbagai rayuan sudah saya berikan. Dari membelikan mainan setiap pulang sekolah, hingga naik kereta commuterline dari sekolahnya. Apa pun yang dia suka saya penuhi, supaya ia mau masuk sekolah keesokan hari. Kemudian setiap pagi saya menjadi cukup tertekan. Memikirkan hal yang akan kembali terjadi: susah mandi, menangis saat berangkat yang kemudian dilanjutkan ketika sampai di sekolah.

Beberapa ibu di sekolah itu bilang, “Ah, tidak apa… satu bulan paling biasa.” Saya cukup tenang, namun ternyata lewat sebulan, ia masih berlaku sama. Pada tengah semester I, jadwal bertemu dengan Wali Kelas. Secara motorik, anak saya baik, namun masih cengeng dan masih sulit berhubungan dengan temannya. Meski saat masuk menangis, selama di kelas dan pulang sekolah, ia tampak baik-baik saja; tertawa senang ­čśů. Lagi-lagi nasihat yang saya terima, “Lama-lama biasa, kok, Mam.”

Pada bulan kelima, saya mulai gerah karena tidak ada perubahan pada anak. Saya selalu bertanya, kenapa ia menangis. “Aku maunya sama Mama,” jawabnya. Sampai pada suatu saat, saya mencoba memberi ‘hukuman’ jika ia menangis saat masuk sekolah.

“Sekarang begini, kalau kamu menangis saat masuk sekolah, Mama hukum,ya.”

Dia terdiam. “Kenapa dihukum?” Tanyanya.

“Karena kamu nangis terus. Kamu kan sama Bu Guru di sekolah. Kenapa nangis?”

“Dihukum, ya? Hukumannya apa?”

“Hmm.. kamu masuk di dalam kamar selama sepuluh detik.”

Saya pakai angka sepuluh, karena ia sudah bisa berhitung sampai sepuluh.

“Kamarnya terang, ya?” ia mulai bernegosiasi.

“Ya, gelap, dong. Hukuman itu harus tidak enak.”

Ia mengangguk.

Keesokan harinya, ganti ibu saya yang mengantarnya ke sekolah. Pukul 10 lebih 15, ia mengirim pesan singkat: ‘Anakmu nangis lagi.’

Tiba di rumah sore harinya, saya bertanya pada anak. “Hari ini menangis tidak, ya?” Ia langsung menjawab, “Menangissss!” “Oke, nanti malam dihukum, ya.”

Malamnya hukuman dimulai. “Mama tunggu di luar (kamar), ya,” pintanya. Saya mengangguk lalu mematikan lampu kamar tidur dan menutup pintu. Kemudian dia berhitung satu sampai sepuluh. Setelah selesai, saya buka pintunya lalu menyalami dia. “Besok ngga nangis lagi, ya.” Ia mengangguk sambil tertawa.

Tentu saja hukuman tersebut tidak langsung berdampak padanya. Setidaknya selama satu bulan, uji coba hukuman itu saya lakukan. Kelamaan, hukuman tidak dilakukan setiap hari, hingga akhirnya ia tidak lagi menangis saat mau masuk sekolah.

Beberapa hari lalu, saya mengantarnya ke sekolah. Ketika ia sudah mendekati kelasnya, ia berkata, “Mama tunggu di luar aja.” Lalu ia berjalan sendiri meninggalkan saya yang masih kaget dengan perubahannya. Di dekat saya, guru kelasnya menepuki keberaniannya. Saya lalu tertawa. Ya, saya yakin, gurunya pun sudah cukup lelah menanganinya selama ini ­čśÇ.

Pagi ini saya kembali menikmati pisang bakar dan es teh manis. Tapi, kali ini dengan perasaan lega. Memang, masih panjang jalan anak saya dan berbagai kejutan pasti akan hadir. Tapi, paling tidak, satu masalah telah selesai.

Mari makan!

20170207_072232-01

(Srengseng Sawah, 7 Februari 2017)

 

Advertisements

Greatest Love of All

 

Pukul tujuh pagi koleksi musik memutar lagu ini:

“I believe the children are our are future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be…”

(Alm) Whitney Houston mengingatkan saya tentang anak. Tentang membesarkannya menjadi seorang yang baik.

 

(Gong Xi Fa Cai 2016)

Tuhan Yesus Ada di Mana?

Tadi malam pukul sembilan, saya membantu anak bersiap untuk tidur. Cuci muka, sikat gigi, ganti pakaian. Seperti biasa. Sejak usia dua setengah tahun, saya mulai memintanya meletakkan pakaian kotor di dalam ember yang letaknya di lorong menuju ruang tidur.

“Kak,tolong masukkan bajumu ke ember.”

Dia bergegas mengambil baju sekaligus celana dan berjalan menuju ember yang hanya berjarak dua meter. Namun, tiba-tiba dia melirik ke ruang pakaian kami yang gelap. Dia berbalik lagi ke tempat saya yang sedang duduk di depan pintu ruang mandi.

“Ayo, masukkan.”

Dia berjalan lagi namun belum sampai di lokasi, dia kembali ke tempat saya. Dia memang suka takut pada gelap, walau jika tidur lampu kamar pasti saya matikan.  Mungkin karena sendirian. Akhirnya saya temani dia membuka tutup ember dan dia pun segera memasukkan baju dan celana.

“Kenapa, Kak? Takut?”

“Takut,” jawabnya.

Kan ada Tuhan Yesus,” kata saya. Itu yang tiap kali saya ucapkan jika dia takut.

“Tuhan Yesus ada di mana? Di kamar?” Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang ┬átidak biasa.

“Di mana-mana. Di kamar, di dapur…” Belum selesai saya bicara, dia lalu meninggalkan saya dan berjalan menuju ruang tamu. Saya mengikutinya.

“Di situ?” Kata anak usia tiga tahun itu sambil menunjuk lukisan Yesus di ruang tamu.

Saya tertawa sambil menepuk dahi.

“Ya, ya, jadi Mama harus taruh lukisan Yesus di mana-mana, ya?” Tanya saya sambil mengingat bahwa gambar Yesus dan salib hanya berada di ruang tamu dan ruang tidur.

“Iya,” jawabnya polos.

(Beji, 06:49)

 

Sudah Waktunya, Heira

Senja hari ini indah sekali. Seharusnya. Tapi entah kenapa, di hatiku senja kali ini menyedihkan. Ia akan segera membawaku pergi pada malam dan aku enggan menuju kepadanya. Sebentar lagi Aldo akan pulang dari rumah tetangga. Aku sudah menduga ia akan berkeluh kesah. Nah, itu dia datang.

“Bu, kamu tahu anak-anak Pak Rosyid itu selalu memberi uang tiap awal bulan. Anaknya cuma tiga, tapi selalu rajin mengirim kepada bapak ibunya. Ngga kayak anak-anak kita, kalo aku ngga sakit, mungkin mereka sudah lupa padaku,” protesnya. Aku yang sedang duduk di teras rumah lalu membuang nafas kemudian menanggapi keluhannya.

“Ada lah Pak yang memberi perhatian.┬áNgga┬áselalu berupa uang. Aku dapat kiriman surat dari cucu juga sudah senang..”

“Ah, kamu itu! Anak kita ada sepuluh. Kalau seorang mengirim 200 ribu saja, kita sudah lumayan bisa hidup. Ini mana? Paling cuma Resa, Fikar, Maya. Mana yang lain?”

Aku terdiam. Rasa sakit yang kerap mendera dada akhir-akhir ini membuatku enggan membalas tiap protes Aldo. Semenjak ia pensiun 10 tahun lalu, hidupnya jadi berubah. Yang dipikirnya hanya uang. Seakan ia mati kalau tak punya uang. Padahal uang pensiunnya walau tak seberapa masih bisa menghidupi kami. Toh hanya tinggal berdua.

Dulu waktu menikah dan punya anak, aku sudah berjanji pada diri sendiri, tak akan merepoti anak saat tua. Mereka sudah punya keluarga sendiri, punya kebutuhan hidup masing-masing. Dan janji itu kutepati. Aku tak pernah minta uang kepada anak-anak. Aku selalu menyisihkan sedikit uang pemberian Aldo untuk tabungan kami di hari tua.

Tapi, dasar Aldo, hobi makan kerap menghabiskan uangnya. Tak jarang ia pinjam tabunganku untuk berfoya-foya. Makan di luar kuanggap kegiatan tak berguna. Makananku apa rasanya tak enak maka ia selalu jajan di luar?

“Aduh..” Aku berbisik sambil memegang dadaku. Aldo masih saja berceloteh. Kali ini tentang kekayaan temannya, Pak Rano. “Dia itu dulu biasa saja, tapi anak-anaknya kaya. Makanya bisa punya rumah besar. Bagaimana anak-anak kita? Katanya kaya, tapi rumah orangtuanya tak pernah mereka perbaiki!”

“Ya sudah Pak. Besok aku bilang Maya kalau kamu mau minta renovasi rumah ini,” sahutku sambil memijit dada. “Ah,┬ángapain┬ákita minta-minta? Mereka harusnya sadar. Apa mereka dulu minta disekolahkan pada kita? Tidak! Saya dengan rela menyekolahkan mereka, bukan karena mereka minta,” katanya dengan nada tinggi.

Aku makin tak enak mendengar protes Aldo. Bukankah memang kewajiban orangtua menyekolahkan anak-anaknya? “Aku ke kamar dulu, Pak.┬áCapek.”

“Ah, kamu kalau aku ajak diskusi soal ini selalu pergi. Kamu terlalu memanjakan anak-anak! Ini akibatnya, mereka jadi tak peduli pada kita.”

Aku diam saja. Dadaku makin sakit, mungkin tidur bisa menyembuhkan. Di tempat tidur yang terbuat dari besi kurebahkan diri beberapa menit. Rasa sakitnya sedikit mereda. Di samping ranjang ada meja kecil. Di situ terpajang foto keluarga besar kami. Kuambil satu foto berpigura kayu itu. Kupandangi satu demi satu anak-anakku. Foto itu diambil sekitar tahun 60-an. Mereka tampak sehat walau penghasilan Aldo saat itu tak seberapa. Kuletakkan foto itu dan kuambil foto lainnya. Kali ini foto bersama anak dan cucu. Aku tersenyum. Kangen dengan Fero, Mahda, Lina, Sean. Ah, masih ada tujuh lagi cucuku. Dan mereka lucu-lucu. Oh ya, besok aku akan kirim surat kepada mereka.

Tiba-tiba dadaku kembali sakit, kali ini dengan sesak yang membuatku tak bisa bernafas. Aku ingin berteriak memanggil Aldo, tapi tak kuat. Foto tadi jatuh di atas perutku. Selanjutnya kupejamkan mata dan tiba-tiba teringat anak-anak saat bermain bersama bapaknya. Aldo tampak bahagia melihat mereka saat itu. Tapi kenapa sekarang tidak lagi, Aldo?

Ah, sudahlah. Aku lelah, capai sekali. Ingatan itu kelamaan sirna lalu berganti dengan cahaya putih. Dengan latar itu, kulihat seorang perempuan berdiri dan tersenyum padaku. Ibu! “Ibu aku kangen, Ibu. Lama tak berjumpa!” Kataku sambil berlari mendapatinya. Ia kemudian memelukku erat. Seketika ketenangan merebak di jiwaku. “Sudah waktunya, Heira. Kamu ikut aku,” ujar Ibu. Aku pun mengangguk dan mengikuti dia.

 

Beji, 6:59 PM

28 agustus 2012

Mata

Dari mata itu menetes air yang berasal dari kebimbangan hati, kejenuhan, kelelahan. Ia hanya ingin mencari ruang untuknya bekerja. Ternyata itu tak semulus seperti yang ada di benaknya. Janji-janji yang ia pernah terima tiada nyata. Dan menunggu menjadi teman kesehariannya. Sungguh, itu lebih menyakitkan daripada sepi.

Dari mata itu menetes air yang berasal dari harapan jiwa, keinginan untuk terus mencukupi kehidupan mereka. Makan harus ada rupiah, bila tidak, dunianya kiamat. Tapi, ia kembali harus menunggu sembari menonton dunia orang yang tampak normal: kerja, punya gaji.

Dari matanya menetes air yang berasal dari tangisan anaknya: Bu, makan bu, aku lapar! Tapi tak sepeser pun ia punya. Dengan terpaksa ia harus ke tetangga, pinjam uang. Kali ini berhasil. Entah besok.

Dari matanya menetes air yang berasal dari kebencian pada pasangan sehidup-semati. Ya, dulu ia berjanji akan mencintai seumur hidup di depan pemuka agama dan keluarga. Dan hari itu, beberapa bulan lalu, ia yang dicintai berkhianat. Bersama seorang anak balita, ia pun ditinggalkan dalam rumah mungil ini. Tiba-tiba garis takdirnya berubah. Profesi ibu rumah tangga menjadi amat buruk karena tak menghasilkan apa-apa. Saat itulah ia merasa jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Tanpa seorang penolong!

Dari mata itu masih terus menetes air yang entah kapan akan mengering. Di kamarnya, genangan air itu semakin meninggi.

8 sept 2011
Terinspirasi dari macam-macam pengalaman&SGA.