Tetap Berbuat Baik

“Riuh sekali di luar sana,” ujarku suatu sore di sebuah kedai kopi. Kau tersenyum, “tidak mau ikut serta? Supaya tambah riuh,” katamu. Aku tertawa lebar, “ikut sinting aku nanti!”

Aku kemudian bercerita, “akibat kondisi politik di negara ini, aku merasa kehilangan banyak teman. Mereka jadi berbeda. Atau aku yang berubah juga?”

“Ya, banyak juga yang merasa begitu. Padahal tahu sendiri politik itu dinamis. Tidak ada lawan abadi. Tidak ada kawan abadi,” katamu sambil menyeruput kopi Gayo.

“Tapi, kami pernah melewati waktu bersama. Sekarang hilang begitu saja hanya karena pilihan berbeda,” aku protes.

“Nah, kamu juga tidak paham politik. Santai saja lah, semua orang berhak punya pandangan dan tidak apa-apa jika berbeda denganmu.”

Aku merengut karena merasa tidak dibela. Kau tertawa lagi. “Lebih baik, kamu ambil studi politik. Biar ngga tambah mumet memikirkan dunia,” sambungmu.

“Ah, politik dangkal. Persamaan matematis abadi,” kataku mengutip pernyataan  Fisikawan Albert Einstein.

Kau pun tergelak.

“Jadi, mau ambil studi Fisika?” sahutmu. “Tidak juga,” jawabku.

“Hanya, apakah segala sesuatu ini bisa diperbaiki?”

Kau terdiam memandangku. Lalu pelan menjawab, “terkadang kita tidak perlu memaksa keadaan seturut keinginan. Tetaplah saja berbuat baik dengan mereka.”

(Setelah kurang tidur, 28 April 2017)

Terperangah di Museum Gajah

Ketika Anda punya waktu luang, sekali-sekali sambangi tempat yang menyimpan sejarah. Museum. Seperti Sabtu lalu, Waskita dan saya mengunjungi salah satu museum di Jakarta Pusat, dekat dengan Monumen Nasional (Monas): Museum Nasional. Museum ini akrab disapa Museum Gajah karena di bagian depan ada patung gajah. Patung berbahan perunggu itu adalah hadiah dari Raja Chulalongkom (Rama V) dari Thailand yang berkunjung ke museum ini pada 1871. Museum yang dibangun oleh pemerintah Belanda ini resmi dibuka pada 1868.

Museum ini terdiri dari dua gedung. Yang pertama adalah Gedung Gajah yang menyimpan 140 ribu-an koleksi prasejarah, arkeologi, keramik asing, dan numismatika. Bangunan kedua yang berada di samping kanan dan dihubungkan dengan ruang berkaca adalah Gedung Arca. Gedung baru ini menyimpan benda-benda yang menggambarkan sistem kehidupan di Indonesia.

Memasuki ruang penerima di Gedung Gajah, seorang muda berseragam kemeja putih celana cutbrai dan membawa handy-talkie menyapa kami. Setelah membayar tiket Rp 5 ribu per orang dewasa, arca-arca dari batu memesona mata saya. “Boleh foto?” tanya saya pada pemuda berseragam tadi. “Boleh. Kecuali di atas ya, ruang numismatik,” jawabnya. Dari ruang penerima tadi, kami masuk ke ruang yang penuh arca berbentuk manusia. Ada yang masih sempurna, ada pula yang sudah hilang bagian tubuhnya.

Dan bagian yang paling menyenangkan mata adalah  taman dengan hamparan arca di tengahnya. Bagian ini memang yang paling saya ingat setelah sekitar 19 tahun lalu bersama teman-teman kala berseragam merah-putih karyawisata ke Museum Gajah. Ketika melihatnya lagi, sepintas membayangkan ini adalah rumah tinggal saya 🙂

Saat melihat koleksi prasejarah, kami dibuat berdecak kagum. Betapa kreatif dan inovatif nenek moyang kita. “Gila, detail banget bikin patungnya!” ungkap Waskita ketika melihat patung-patung masa perunggu Hindu-Buddha. Mengamati hasil karya masa Hindu mengingatkan saya pada salah satu pematung asal Bali Nyoman Nuarta. Melalui tangannya yang ‘ajaib’ ia bisa mencipta karya indah dengan ukuran sedang ataupun raksasa.

Selanjutnya kami beranjak ke satu ruangan yang berisi koleksi kerajinan khas Indonesia. Di sini berbagai ukiran, tenun, alat perang, perhiasan unik yang asli dibuat orang Indonesia. Misalnya topi rotan dengan hiasan berbentuk babi dari Teluk Cendrawasih, Papua. Kenapa babi? Karena bagi orang Papua binatang ini melambangkan kekayaan.

Di lantai dua kami dibuat terperangah lagi dengan koleksi emas. Bagian numismatika ini terdiri dari dua ruang. Keduanya berisi perhiasan, mahkota, hingga peralatan rumah tangga seperti teko, sendok, dan tempat penyimpan kapur, dipajang dalam kotak-kotak kaca.

Kamudian kami pun mengunjungi Gedung Arca. Memasuki ruang demi ruang di sini, nuansa modern terasa. Lantai marmer, dinding putih polos, plafon rendah, dengan bentuk ruangan geometris dan berkaca transparan. Karena hari itu eskalator tak berfungsi, akhirnya kami naik dengan lift. Di lantai satu isi pameran yaitu Manusia dan Lingkungan; lantai dua yaitu Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi; di lantai tiga yaitu Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman; sedangkan lantai empat yaitu Khasanah dan Keramik.

Bagi saya lantai tiga dan empat cukup menarik karena tersimpan miniatur rumah-rumah tradisional beberapa daerah di Indonesia. Misalnya rumah Kubu dari Palembang, Sumatera Selatan yang berbahan bangunan bambu dan daun rerumputan.

Atau relief pada dinding candi yang menggambarkan empat desa pada zaman Majapahit.

Koleksi menarik lainnya datang dari alat transportasi yang pernah ada di Indonesia. Mau lihat sepeda roda tiga tapi untuk orang dewasa? Ini dia.

Atau perahu kayu untuk masyarakat yang hidup di pesisir atau sungai.

Sekitar dua jam di museum, kami pun letih. Karena banyaknya koleksi, seharusnya waktu yang diluangkan cukup longgar untuk ke tempat ini. Atau, lain kali saya ke sini lagi supaya lebih puas mengamati benda-benda unik di Museum Nasional. Anda juga, ya!