Ketika Mereka Pergi

Ada pola yang sama ketika mereka hendak berpulang. Rasa ingin bertemu dengan teman-teman di media sosial atau sekadar menumpahkan isi hati; ya, mungkin supaya teman-teman menoleh dan memberi komentar di dalam statusnya.

Sayangnya, tidak semua teman peka. Mereka dianggap sedang iseng atau rindu saja karena lama tidak menampilkan diri di dunia maya. Status mereka diacuhkan, lalu mereka terlupakan oleh hal lainnya. Hingga pada suatu masa, mereka tidak lagi bisa mengetik kata hati, isi pikiran, komentar di dinding akun. Teman-temannya mendadak membanjiri akun dan mengucapkan selamat jalan. Berharap di surga nanti, mereka sempat pinjam ponsel malaikat untuk memeriksa akun (?) Status-statusnya kemudian dibaca kembali oleh teman-teman dan mereka menyesal tidak menanyakan kabar atau melanjutkan kepada sebuah pertemuan.

Kita hanya butuh peka, terutama kepada teman lama yang tidak sempat bersua. Jika waktu belum mengizinkan untuk bertemu, kirimkan saja doa kepada mereka agar sehat dan sejahtera.

Kepada teman-temanku yang telah mendahului, terima kasih telah menjadi mitra seperjalanan. Bahagia selalu dalam keabadian.

 

(Buat: Bambang Sutikno).

Advertisements

Insan yang Tepat

“I don’t know what was God thinking when He created you… :-)”

Seorang teman menuliskan status di atas pada sebuah situs surat elekroniknya. Saya lalu senyum-senyum sendiri memaknai arti statusnya. Iya, ya? Apa Tuhan sudah memikirkan ia ketika mencipta suaminya?

Mari sejenak bicara pasangan, atau siapa pun yang saat ini sedang dekat dengan kita. Coba urai asal muasal bertemu dengannya. Tak sengaja kenal di jalan, dikenalkan teman, dikenalkan saudara, atau mungkin sahabat yang setia pada Anda kemudian jatuh cinta? Mengenang itu bisa jadi ‘norak’ tapi dari situ kita tahu jalan Dia mempertemukan pasangan hidup.

Ini cerita tentang teman perempuan saya yang lain. Ia dua kali pacaran. Pacar pertama putus karena hal yang tak jelas. Pacar kedua juga putus karena hal tak jelas. Berita terakhir kedua mantannya itu sudah menikah. Ah, sedihnya ia. Namun, setelah keterpurukannya, ia akhirnya berkenalan dengan seorang teman baru yang sama sekali dia tak kenal. “Kami dekat karena buku.” Begitu kesan yang ia ceritakan pada saya tentang pacar ketiganya. Waktu berlalu, jalan mereka tak selalu mulus. “Pacar gue itu cuek banget! Sebel!” Tapi sebulan kemudian dia cerita lagi, “pacar gue ternyata sayang kok.. Dia setia temeni gue waktu sakit..” Teman saya sempat sakit parah akibat terlalu capai kerja dan terpaksa harus masuk rumah sakit.

Mungkin karena efek jatuh cinta, keburukan seseorang bisa tak terlihat, tapi hingga sekarang mereka masih bersama. Dengar-dengar, tak lama mereka mau melangsungkan pernikahan. “Yakin menikah sama dia?” goda saya. Ia mengangguk kuat. “Gue beruntung punya dia. Tuhan sepertinya sudah mengirimkan orang yang tepat buat gue. Dia ngga sempurna, dia bukan tipe idaman gue, tapi dia selalu ada ketika gue butuhkan.”

Begitulah cinta, melengkapi ketidaksempurnaan. Ah, semoga Tuhan memikirkan saya saat mencipta kamu 😉